Pengobatan Tradisional Bali Kian Digemari, Gotra Pangusada Hadapi Tantangan Pendataan Ribuan Balian

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:20 WIB
Ketua Umum DPP Gotra Pangusada Bali, Prof. Putu Suta Sadnyana, usai pengukuhan Pengurus Gotra Pangusada Bali Masa Bakti 2026–2031 di Gedung Wiswabha, Denpasar, Kamis (20/8) kemarin.(Foto Ni Kadek Novi Febriani)
Ketua Umum DPP Gotra Pangusada Bali, Prof. Putu Suta Sadnyana, usai pengukuhan Pengurus Gotra Pangusada Bali Masa Bakti 2026–2031 di Gedung Wiswabha, Denpasar, Kamis (20/8) kemarin.(Foto Ni Kadek Novi Febriani)

Radarbadung.jawapos.com— Asosiasi Penyehat Tradisional Bali, Gotra Pangusada Bali, mencatat jumlah balian (penyehat tradisional) mencapai sekitar 5.000 orang pada tahun 2015.

Jumlah tersebut diperkirakan terus berkembang dan akan diinventarisasi kembali secara menyeluruh, termasuk berdasarkan jenis metode pengobatan yang digunakan — tidak hanya soal bahan herbal, tetapi juga filosofi dan pendekatan, bahkan ada yang serupa dengan kartu tarot namun berbasis pengetahuan tradisional Bali.

Ketua Umum DPP Gotra Pangusada Bali, Prof. Putu Suta Sadnyana, menyampaikan hal tersebut usai pengukuhan Pengurus Gotra Pangusada Bali Masa Bakti 2026–2031 di Gedung Wiswabha, Denpasar, Kamis (20/8).

Ia menegaskan pendataan menjadi tantangan utama. "Kalau bisa dibantu puskesmas, sayangnya kami tak punya struktur. Kendala pendataan membuat kami mendorong para balian mendaftarkan diri sebagai anggota supaya kami punya data yang valid," ujarnya. 

Selain pendataan, kekurangan lainnya adalah penelitian ilmiah dengan panduan standar.

Selama ini keilmuan masih banyak berpedoman pada kepercayaan. Ke depannya, Gotra Pangusada Bali berkomitmen meningkatkan kualitas SDM dan publikasi kepada masyarakat agar pengobatan tradisional Bali tetap lestari.

Organisasi ini juga berwenang menerbitkan Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) bagi balian yang memenuhi syarat metode dan norma yang berlaku.

Suta menyebut pengobatan tradisional Bali semakin digemari masyarakat karena konsepnya bukan sekadar menyembuhkan sakit, melainkan juga menjaga kebugaran dan healing.

"Orang tidak harus sakit untuk berobat secara tradisional. Seperti spa yang merupakan gabungan pijat tradisional dan aromaterapi — itu mengarah ke kebugaran, atau yang kami sebut Bali Wellness," jelasnya.

Terdapat lima besar pengobatan tradisional Bali berdasarkan tutur:

- Tari Pramana — pengobatan dengan bahan tanaman

- Santo Pramana — pengobatan dengan bahan satwa (seperti minyak ikan

- Benda mustika — pengobatan dengan benda berkhasiat seperti batu permata

- Bayu Pramana — pengobatan dengan tenaga seperti pijat

- Jiwa Pramana — pengobatan tenaga batin, termasuk melukat dengan pendekatan Hindu 

Ia juga menjelaskan bahwa ada metode pengobatan yang menggunakan kartu serupa tarot, namun berbasis pengetahuan Wariga dan cakra Bali.

"Bukan berarti orang non-Hindu harus masuk agama Hindu. Itu pengetahuan yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan siapa saja," tambahnya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
pengusada bali balian pengobatan tradisional