Radarbadung.jawapos.com— Pembangunan moda transportasi kereta api di Bali kembali mengemuka. Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menandatangani kerja sama pengembangan perkeretaapian di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Fokus utama: trem listrik berbasis baterai menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai–Canggu sepanjang 12 km.
Sementara itu, nasib proyek Bali Urban Subway yang sebelumnya ditugaskan ke PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) belum ada kejelasan.
Subway Tertahan, SBDJ Belum Dapat Arahan
Dikonfirmasi terpisah, Direktur SBDJ, Ervan Maksum, menyatakan pihaknya belum mendapat arahan baru dari Gubernur Bali terkait kelanjutan proyek Subway.
Penugasan SBDJ tetap merujuk pada Pergub No. 9 Tahun 2025.
"Belum ada konsep kerja barunya, tapi komunikasi dengan PT KAI tetap berjalan," ujarnya enggan menanggapi prosesi ngeruak yang sempat digelar tahun lalu.
Trem Bandara–Canggu: Spesifikasi & Target
PT KAI memilih konsep trem, bukan MRT maupun LRT, dinilai lebih sesuai karakteristik Bali.
Trem berukuran lebih kecil, rendah kebisingan, dan menggunakan baterai — tak butuh kabel listrik sepanjang jalur. Spesifikasi utama:
- Panjang jalur: ±12 km, 2 jalur, lebar trase 3 meter
- Kapasitas: 15.000–20.000 penumpang/jam, hingga 60.000 penumpang/hari
- Waktu tempuh: ±30 menit, jeda keberangkatan 10 menit
- Target: Groundbreaking Maret 2027, trase pertama beroperasi 2028, seluruh jalur selesai 2029
Koridor Bandara–Canggu diprioritaskan karena mobilitas harian mencapai 150.000 orang dengan 80.000 kendaraan.
Diproyeksikan trem mampu mengakomodasi 40 persen arus penumpang, mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi, serta mendukung konektivitas pariwisata.
Tahapan Selanjutnya
Pasca-penandatanganan, tahapan meliputi studi teknis, kajian lanjutan, sosialisasi, pelibatan desa adat, serta koordinasi dengan pelaku pariwisata dan pemangku kepentingan.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pengembangan harus tetap menjaga keunikan, keindahan, dan kearifan lokal Bali.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menambahkan aspek budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat menjadi pertimbangan utama sejak perencanaan.
"Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali," ujarnya.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung