Taman Soekasada Ujung, Saksi Sejarah Kerajaan yang Tetap Mempesona

Zulfika Rahman • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 08:17 WIB
Suasana Taman Soekasada Ujung, salah satu destinasi bersejarah andalan Karangasem yang kian diminati wisatawan.(Foto Zulfika Rahman)
Suasana Taman Soekasada Ujung, salah satu destinasi bersejarah andalan Karangasem yang kian diminati wisatawan.(Foto Zulfika Rahman)

Dibangun 1909, Selesai 1921; Arsitektur Campur Tiongkok–India–Eropa–Bali 

Radarbadung.jawapos.com— Hamparan kolam, pepohonan rindang, dan bangunan peninggalan Kerajaan Karangasem menjadikan Taman Soekasada Ujung di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, destinasi favorit wisatawan.

Pemandangan matahari terbit di pantai Ujung terlihat jelas dari lokasi ini. Kunjungan per hari mencapai ratusan bahkan ribuan orang di hari-hari tertentu.

Sejarah Pembangunan

Pengelola Taman Soekasada Ujung Anak Agung Made Dewandea Djelantik menceritakan taman seluas 10 hektar dibangun atas inisiatif Raja terakhir Karangasem, Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem.

Pembangunan dimulai 1909 dan resmi selesai pada 19 September 1921 — kini berusia 105 tahun.

Tujuannya sebagai tempat menjamu tamu kerajaan dan tokoh penting. 

"Pemilihan lokasi pasti ada pertimbangan, termasuk nilai spiritualitas Raja saat itu," ujarnya.

Perpaduan Gaya Arsitektur

Bale Kapal — bangunan tertinggi, nuansa arsitektur India kental, dulunya tempat memantau pergerakan kapal sekaligus gerbang menuju area bawah taman.

Bale Gili — bangunan utama dikelilingi kolam, gaya Eropa bercampur Bali, tempat Raja menjamu tamu kehormatan 

Desainnya melibatkan pengaruh budaya Tiongkok, India, hingga Eropa.

Taman ini juga memenuhi tiga unsur alam: laut, gunung, dan sungai/mata air — ciri khas taman peninggalan Kerajaan Karangasem seperti Tirta Gangga dan Taman Mayura di Lombok.

Restorasi & Harapan ke Depan

Taman rusak akibat gempa, direstorasi pada 2001 dan terus ditata.

Pengelola kini berupaya mengumpulkan sumber sejarah yang kredibel agar pengunjung tak sekadar berfoto, melainkan mendapat edukasi sejarah.

"Kami berharap pengunjung merasakan kedamaian sekaligus memahami nilai sejarah tempat ini," tutup Dewandra.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
taman soekasada ujung desa tumbu istana Karangasem eropa sejarah