Pembangunan dan Pariwisata Tekan Ruang Pertanian
Radarbadung.jawapos.com — Bali mengalami penyusutan lahan baku sawah yang cukup signifikan.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, luas lahan sawah di pulau ini berkurang sebanyak 6.522 hektare.
Data luas lahan baku sawah (LBS) menunjukkan penurunan dari 70.996 hektare pada tahun 2019 menjadi 64.474 hektare pada tahun 2024.
Penyusutan itu terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan ruang untuk pembangunan, investasi, serta sektor pariwisata yang terus berkembang.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyebut perubahan luas lahan pertanian menjadi indikator penting guna memantau keberlanjutan sektor pertanian di Bali.
"Kalau kita melihat data pertanian, salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perubahan luas lahan pertanian dari waktu ke waktu. Ini menjadi bagian penting untuk melihat keberlanjutan sektor pertanian di Bali," ujarnya.
Kondisi ini sejalan dengan perhatian Pemerintah Provinsi Bali terhadap perlindungan lahan pertanian di tengah derasnya investasi dan perkembangan pariwisata.
Tantangannya bukan sekadar mempertahankan luasan lahan, melainkan memastikan sektor pertanian tetap berperan dalam perekonomian masyarakat.
Agus menambahkan data statistik menjadi dasar penting dalam evaluasi dan perencanaan pembangunan.
Pemantauan secara berkala diperlukan agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
"Data ini penting sebagai bahan evaluasi dan perencanaan. Dengan melihat perubahan dari waktu ke waktu, pemerintah dapat menentukan kebijakan yang sesuai dengan kondisi riil di lapangan," tegasnya.
Dengan sisa lahan baku sawah seluas 64.474 hektare pada 2024, penyusutan lahan menjadi perhatian utama dalam menjaga keseimbangan pembangunan Bali.
Pertumbuhan investasi dan pariwisata diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan ruang pertanian yang semakin terbatas.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung