Radarbadung.jawapos.com— Akses pejalan kaki di Kota Denpasar masih belum merata.
Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar mencatat, baru 30,93 persen ruas jalan di Kota Denpasar yang terkoneksi dengan trotoar.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kota Denpasar, Ida Ayu Trisuci Arnawati, mengatakan penataan jalur pejalan kaki terus dilakukan secara bertahap.
“Total panjang jalan yang ada di Denpasar sebesar 542,71 kilometer. Namun, yang terkoneksi oleh trotoar rasionya sekitar 30,93 persen,” ujar Dayu, sapaan akrabnya, saat ditemui dalam diskusi di Graha Yowana Suci (GYS) bersama WRI Indonesia.
Menurut Dayu, penataan jalur pedestrian saat ini tengah berlangsung di kawasan Gajah Mada.
Penataan tersebut diharapkan dapat menghadirkan ruang gerak yang lebih humanis, sekaligus memperkuat estetika, identitas kawasan, dan aksesibilitas yang inklusif.
Dia menegaskan, keberhasilan penataan pedestrian membutuhkan sinergi berbagai pihak.
Mulai dari Pemkot Denpasar, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, DLHK, desa adat, pengelola parkir, masyarakat, komunitas, hingga lembaga riset.
Sementara itu, Urban and Transport Analyst WRI Indonesia, Fairuzia Rahman, mengatakan penyediaan fasilitas trotoar yang ramah pejalan kaki dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal.
Dia mencontohkan revitalisasi trotoar di Jalan Danau Tamblingan, Sanur.
Berdasarkan testimoni pengelola kafe, revitalisasi tersebut mampu meningkatkan jumlah pengunjung walk-in sekitar 30 persen.
Contoh lainnya terlihat di Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Setelah dilakukan revitalisasi, jumlah wisatawan disebut melonjak hingga 483 persen.
Meski demikian, Fairuzia menekankan pentingnya menentukan skala prioritas dalam pembangunan dan penataan infrastruktur pedestrian.
Sebab, pembangunan trotoar secara serentak di seluruh wilayah dinilai tidak memungkinkan.
“Saat ini ada 63 persen kawasan komersial dan permukiman yang terkoneksi dengan trotoar di Kota Denpasar. Kalau dalam satu waktu kita bangun atau menata trotoar di seluruh tempat pasti tidak memungkinkan. Nah, adanya indeks walkability menjadi penting sebagai tolok ukur untuk melihat prioritas,” jelasnya.
Diskusi mengenai kebutuhan mobilitas tersebut merupakan bagian dari kegiatan Forum Bali Bicara yang melibatkan masyarakat luas dan diselenggarakan di ruang publik Graha Yowana Suci.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung