Radarbadung.jawapos.com – Skenario terburuk kecelakaan pesawat diuji di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Rabu lalu (23/9).
Dalam simulasi tersebut, sebuah pesawat Boeing 777-200ER mengalami kecelakaan sesaat setelah mendarat dan terbakar hebat di landasan pacu.
Sebanyak 350 penumpang dan awak pesawat disimulasikan menjadi korban dalam latihan keadaan darurat skala penuh atau Airport Emergency Exercise (AEE) yang digelar PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali.
Dalam skenario tersebut, pesawat Angkasa Air dengan nomor penerbangan AA239 mengalami kecelakaan setelah touchdown.
Informasi mengenai kecelakaan diterima petugas melalui menara Air Traffic Control (ATC) AirNav Indonesia.
Mendapat laporan tersebut, personel Airport Rescue & Fire Fighting (ARFF) langsung bergerak menuju lokasi kejadian.
Petugas melakukan pemadaman api sekaligus mengevakuasi para penumpang.
Seluruh rangkaian dibuat sedekat mungkin dengan kondisi darurat yang sebenarnya.
Dari total 350 penumpang dan awak pesawat yang disimulasikan menjadi korban, sebanyak 187 orang dinyatakan selamat, 143 orang mengalami luka-luka, dan 20 orang dinyatakan meninggal dunia.
General Manager InJourney Airports Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Nugroho Jati mengatakan, latihan tersebut tidak hanya untuk menguji kemampuan petugas pemadam dan penyelamat.
AEE juga menjadi sarana menguji koordinasi, komunikasi, serta komando berbagai instansi dalam menghadapi kondisi darurat.
“Dalam Airport Emergency Exercise ini, fungsi koordinasi, komunikasi, dan komando antarunit dan instansi komunitas bandara diuji,” ujar Nugroho Jati.
Penanganan simulasi kecelakaan tersebut melibatkan berbagai unsur.
Mulai dari Kantor Otoritas Bandara, AirNav Indonesia, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Imigrasi, Bea Cukai, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, ground handling, maskapai, kepolisian, TNI AU, rumah sakit, hingga pemadam kebakaran.
Keterlibatan berbagai instansi tersebut dinilai penting karena penanganan kecelakaan pesawat tidak hanya berkaitan dengan proses evakuasi korban, tetapi juga mencakup aspek keamanan, kesehatan, pelayanan penumpang, hingga penanganan pascakejadian.
Latihan skala penuh tersebut juga menguji skenario keadaan darurat lainnya.
Sebelumnya, petugas menghadapi simulasi kebakaran di gedung Hotel Novotel kawasan bandara yang dipicu gempa bumi berkekuatan 5,9 SR.
Kebakaran diskenariokan terjadi setelah kepanikan pegawai menyebabkan korsleting di area dapur hotel.
Skenario berikutnya berkaitan dengan aspek keamanan.
Seorang petugas kebersihan yang disimulasikan telah direkrut kelompok pengganggu keamanan membawa ransel berisi bom rakitan menuju ruang tunggu keberangkatan General Aviation Terminal (GAT).
Petugas keamanan kemudian menemukan rangkaian bom tersebut melalui pemeriksaan menggunakan mesin x-ray.
Temuan itu selanjutnya ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan instansi terkait.
Nugroho menjelaskan, tiga rangkaian simulasi tersebut sekaligus digunakan untuk menguji sejumlah dokumen dan prosedur penanganan keadaan darurat.
Di antaranya Airport Emergency Plan (AEP), Airport Security Programme (ASP), serta Airport Disaster Management Plan (ADMP).
“Sebagai pintu gerbang udara utama di Bali yang melayani hingga 24 juta penumpang dan lebih dari 140 ribu pergerakan pesawat setiap tahunnya, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan seluruh instansi dalam menghadapi keadaan darurat menjadi sangat penting,” katanya.
Menurut Nugroho, latihan tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan kesiapan personel sekaligus menguji efektivitas prosedur apabila terjadi keadaan darurat yang sebenarnya.
Pihak bandara sebelumnya juga telah menyosialisasikan pelaksanaan AEE kepada pengguna jasa dan masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan latihan tidak mengganggu pelayanan penerbangan.
“Tujuan kami untuk memperkuat jalur koordinasi dan komunikasi jika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya,” pungkas Nugroho.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung