Konflik Internal GPIB Maranatha Denpasar Memanas, Jemaat Kirim Bunga Duka Atas Hilangnya Keadilan

Donny Tabelak • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:11 WIB
Krans bunga yang dikirimi warga jemaat ke GPIB Maranatha Denpasar Bali di Jalan Surapati.(Istimewa)
Krans bunga yang dikirimi warga jemaat ke GPIB Maranatha Denpasar Bali di Jalan Surapati.(Istimewa)

Krans 'RIP Keadilan' Membanjiri GPIB Maranatha Denpasar, Ketua PHMJ dan Sekretaris PHMJ Bungkam

Radarbadung.jawapos.com — Karangan bunga bertuliskan duka bukan atas kematian seseorang, melainkan atas hilangnya keadilan, kini terpasang di halaman GPIB Maranatha Denpasar, Jalan Surapati.

Krans-krans itu menjadi simbol protes warga jemaat di tengah polemik penonaktifan seorang penatua.

Salah satu krans bertuliskan: “Turut Berdukacita, RIP Keadilan di GPIB Maranatha oleh KMJ dan Sekretaris PHMJ.”

Karangan bunga lainnya menyampaikan pesan: “Turut Berdukacita atas Hilangnya Hikmat Kepemimpinan KMJ dan Sekretaris PHMJ Maranatha Denpasar.”

Informasi yang diterima menyebutkan, krans bunga dari warga jemaat terus berdatangan ke gereja.

Di tengah munculnya berbagai pesan protes tersebut, terdapat pula upaya petugas menyingkirkan krans bunga yang terpasang di lingkungan gereja.

Fenomena itu muncul menyusul keputusan menonaktifkan Penatua Herlyn Sinay Hursepenny, yang akrab disapa Elen, selama enam bulan terhitung sejak 1 Oktober 2026.

Elen diketahui juga menjabat sebagai Ketua IV Bagian Keuangan.

Dengan keputusan tersebut, ia menyatakan tidak lagi dapat menjalankan tugas pelayanan, liturgis maupun penggembalaan.

“Saya dinonaktifkan dari seluruh tugas dan tanggung jawab,” ujar Elen, Senin (5/10).

Keputusan tersebut kemudian memicu reaksi dari sejumlah warga jemaat.

Mereka mempertanyakan proses dan dasar keputusan penonaktifan tersebut, termasuk keterlibatan pimpinan jemaat dalam keputusan itu.

Jemaat mempertanyakan keputusan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Maranatha Denpasar, Pendeta Sonya A. Medyarto-Sitaniapessy, S.Th., M.Min., bersama Sekretaris PHMJ GPIB Maranatha Denpasar, Fredik Billy, terkait penonaktifan Elen.

Protes tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui pemasangan karangan bunga di halaman gereja.

Bagi warga jemaat yang memasang krans tersebut, karangan bunga menjadi bentuk ekspresi kekecewaan terhadap proses dan keputusan yang mereka persoalkan.

Sejumlah jemaat juga meminta Sinode GPIB turun tangan melakukan investigasi secara menyeluruh.

Mereka berharap persoalan internal tersebut dapat dibuka secara transparan sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang semakin luas di antara warga jemaat.

Sementara itu, Ketua I PHMJ GPIB Maranatha Denpasar, Ketrianus Neno, dan Sekretaris PHMJ, Fredik Billy, belum memberikan komentar mengenai polemik tersebut.

Keduanya belum memberikan penjelasan terkait keputusan penonaktifan, pemasangan krans bunga, maupun adanya informasi mengenai upaya penyingkiran karangan bunga dari halaman gereja.

Sikap belum memberikan komentar tersebut membuat jemaat masih menunggu penjelasan resmi.

Apalagi, pesan-pesan dalam krans bunga secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan dan keadilan di GPIB Maranatha Denpasar.

Hingga kini, jemaat berharap pihak PHMJ dan KMJ Pendeta Sonya A. Medyarto-Sitaniapessy memberikan penjelasan secara terbuka, sementara desakan agar Sinode GPIB turun tangan untuk mengklarifikasi persoalan tersebut terus bergulir.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
sinode krans bunga GPIB pendeta GPIB Maranatha Denpasar