Warga Tabanan mulai resah dengan kelangkaan BBM jenis pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU. Warga makin kesal karena harga BBM Pertamax juga melambung tinggi, dan antrian kendaraan acap mengular.(Foto Donny Tabelak) Radarbadung.jawapos.com– Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali mulai mengganggu kenyamanan masyarakat.Antrean kendaraan mengular di sejumlah wilayah, sementara stok beberapa jenis BBM dilaporkan habis di sejumlah SPBU, termasuk di kawasan Pesiapan, Tabanan.Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU di Denpasar, Badung, hingga wilayah lainnya.Selain antrean panjang, masyarakat menghadapi ketidakpastian ketersediaan BBM ketika hendak mengisi bahan bakar kendaraan.Di tengah situasi tersebut, akademisi Universitas Warmadewa sekaligus pengamat ekonomi Bali, Dr. Putu Ayu Sita Laksmi, menilai persoalan BBM tidak cukup dijelaskan hanya dari tingginya konsumsi masyarakat.Ketergantungan ekonomi Bali terhadap pariwisata, belum efisiennya sistem transportasi, serta terbatasnya diversifikasi energi dinilai turut memperbesar tekanan terhadap kebutuhan BBM.“Persoalan bukan semata-mata karena konsumsi BBM masyarakat terlalu tinggi, tetapi karena pertumbuhan mobilitas belum sepenuhnya diimbangi oleh diversifikasi sumber energi dan sistem transportasi yang lebih efisien,” ujarnya, Jumat (9/10).Karakter ekonomi Bali yang bertumpu pada pariwisata membuat kebutuhan energi sangat berkaitan dengan pergerakan wisatawan.Mulai dari perjalanan bandara menuju hotel, perpindahan antardestinasi, hingga aktivitas ekonomi pendukung pariwisata membutuhkan dukungan transportasi yang memadai.Ketika pasokan BBM terganggu, dampaknya berpotensi meluas.Bukan hanya pengendara yang harus mengantre, melainkan juga pelaku usaha transportasi, penyedia jasa perjalanan, sektor logistik, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengakui sempat terjadi keterlambatan pasokan Pertalite ke Bali.Menurut Sita Laksmi, bertambahnya kendaraan listrik dan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Bali belum cukup untuk menekan konsumsi BBM secara signifikan.Pertumbuhan kendaraan listrik perlu dilihat dari proporsinya terhadap keseluruhan kendaraan yang beroperasi, bukan hanya dari pertambahan jumlah unit maupun fasilitas pengisian daya.“Bertambahnya SPKLU ini merupakan indikator positif, tetapi SPKLU tidak otomatis membuat konsumsi BBM turun drastis,” jelasnya.Ia menilai, kelangkaan BBM seharusnya menjadi momentum bagi Bali untuk mengevaluasi ketergantungan terhadap satu sumber energi.Peralihan menuju kendaraan listrik perlu berjalan beriringan dengan penguatan transportasi publik, efisiensi perjalanan, pengembangan energi terbarukan, serta pengaturan mobilitas wisatawan.“Sebenarnya kelangkaan BBM sebaiknya menjadi wake-up call kita bersama, bukan sekadar alasan untuk membeli lebih banyak BBM,” tegasnya.Dari sisi ekonomi, gangguan pasokan BBM berpotensi menimbulkan dampak berantai.Kenaikan biaya mobilitas masyarakat dapat merembet ke sektor transportasi, pariwisata, logistik, hingga UMKM.Kenaikan biaya perjalanan dari bandara menuju destinasi wisata, misalnya, dapat memengaruhi tarif antar-jemput bandara, penyewaan kendaraan, dan paket wisata.“Dampak yang terlihat bersifat berantai ataupun multilayer effect. Masyarakat menghadapi peningkatan biaya mobilitas, sektor transportasi akan terkena dampak langsung, lalu masuk ke sektor pariwisata. UMKM juga terkena dampak dari distribusi ini,” paparnya.Menurutnya, peningkatan biaya operasional dapat berujung pada kenaikan harga barang dan jasa.Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat sekaligus memengaruhi daya saing pariwisata Bali.Dalam jangka lima hingga sepuluh tahun ke depan, Sita Laksmi memperkirakan pola konsumsi energi Bali dapat bergerak menuju sumber yang lebih beragam.Namun, pengurangan ketergantungan terhadap BBM tidak akan terjadi secara otomatis hanya karena jumlah kendaraan listrik meningkat.Perluasan infrastruktur pengisian daya, lanjutnya, harus disertai kemudahan akses, harga kendaraan yang semakin terjangkau, serta ketersediaan listrik yang lebih bersih.Jika kebutuhan listrik kendaraan listrik masih bergantung pada energi fosil, manfaat transisi energi juga harus diperhitungkan secara menyeluruh.“Targetnya harus diarahkan pada transformasi sistem transportasi secara keseluruhan, bukan sekadar mengganti kendaraan bensin menjadi kendaraan listrik,” katanya.Sita Laksmi juga menekankan pentingnya konsep tourism mobility dalam perencanaan pariwisata Bali.Pengelolaan pariwisata, menurutnya, tidak cukup hanya menghitung jumlah kunjungan wisatawan.Pemerintah juga perlu memperhitungkan pergerakan wisatawan selama berada di Bali, jenis kendaraan yang digunakan, sumber energi yang dikonsumsi, serta kebutuhan energi untuk menopang aktivitas pariwisata.“Kita tidak hanya bertanya berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga berapa banyak perjalanan yang mereka lakukan, kendaraannya apa, menggunakan energi apa, dan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk menopang pariwisata tersebut,” pungkasnya.*** Editor : Donny Tabelak Sumber : Radar Badung