BBM Bali Masih Langka, Alit Kelakan Ultimatum Pertamina: 2 Hari Harus Normal!

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:09 WIB
Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Warga sampai antre panjang untuk mendapatkan BBM. (Foto Adrian Suwanto)
Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Warga sampai antre panjang untuk mendapatkan BBM. (Foto Adrian Suwanto)

Radarbadung.jawapos.com– Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali mendapat sorotan serius dari DPR RI.

Anggota Komisi VI DPR RI I Gusti Ngurah Kusuma Kelakan alias Alit Kelakan mendatangi kantor PT Pertamina di Jalan Sugianyar, Denpasar, Selasa (13/10) pagi.

Kedatangannya untuk meminta penjelasan langsung terkait kelangkaan BBM yang tidak hanya terjadi pada Pertalite bersubsidi, tetapi juga Pertamax nonsubsidi.

Alit Kelakan menilai, kondisi di lapangan tidak sesuai dengan laporan dan hasil koordinasi yang menyebutkan ketersediaan BBM dalam kondisi aman.

Karena itu, dia meminta Pertamina segera membenahi distribusi agar masyarakat tidak terus menjadi korban antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Di permukaan aman-aman, di fakta lapangan tidak aman. Makanya saya datang ke sini untuk jelas. Tidak bisa bicara angka stok aman, tetapi fakta lapangan bermasalah,” tegas Alit Kelakan seusai bertemu dengan Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Bali, Alam Kanda W.

Politisi PDI Perjuangan itu menyebut, pemulihan pasokan BBM, khususnya Pertalite, seharusnya dapat segera dilakukan.

Sebab, Pertamina memiliki stok sekitar 1.200 kiloliter di Fuel Terminal Sanggaran.

Untuk mempercepat penyaluran, sebanyak 27 truk dikerahkan mendistribusikan BBM ke sejumlah SPBU di Denpasar, Badung, dan Tabanan yang mengalami antrean panjang.

Selain itu, tambahan pasokan sekitar 10.300 kiloliter dari Integrated Terminal Manggis juga disiapkan dengan dukungan 74 armada kendaraan.

Dengan total pasokan sekitar 11.500 kiloliter dari kedua terminal tersebut, Alit optimistis antrean panjang dapat terurai dalam satu hingga dua hari apabila distribusi berjalan sesuai rencana.

“Sudah bersedia mengerahkan semua. Sebelas ribu lebih kiloliter saya rasa satu hari atau dua hari tidak antre, kalau ini dijalankan. Saya harap komitmennya,” ujarnya.

Alit juga membeberkan rencana tambahan pasokan berikutnya.

Pada Kamis (15/10), sebanyak 3.000 kiloliter dijadwalkan masuk ke Fuel Terminal Sanggaran. 

Sementara itu, tambahan sekitar 26.000 kiloliter di Integrated Terminal Manggis direncanakan tiba pada Sabtu (17/10).

Menurut dia, tambahan pasokan tersebut semestinya mampu menjaga ketersediaan BBM apabila distribusi dilakukan secara tepat dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Namun, dia mengingatkan agar persoalan serupa tidak kembali terulang.

Alit bahkan melontarkan ultimatum kepada Pertamina. 

Jika kelangkaan dan antrean panjang masih berlanjut setelah penambahan pasokan serta perubahan skema distribusi dilakukan, dia menilai persoalan tersebut patut diduga sebagai kesalahan operasional atau human error.

“Hitungannya Pertalite per hari itu riil 2.200 kiloliter per hari. Dengan ada itu aman. Itu jangka pendek, jangan sampai terulang lagi. Kalau terulang lagi dipastikan human error, Pertamina tidak bekerja,” sentilnya.

Sementara itu, Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Bali Alam Kanda W menyatakan pihaknya telah berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat.

Salah satunya dengan mengoperasikan armada mobil tangki selama 24 jam penuh.

Alam menjelaskan, lonjakan konsumsi turut memicu antrean di sejumlah SPBU. Menurut dia, setelah masyarakat mengetahui kapal pengangkut BBM telah tiba dan pasokan mulai masuk ke SPBU, permintaan pengisian meningkat karena kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi.

“Di saat masyarakat tahu kapal sudah datang, stok SPBU datang, mulai mereka antre karena beberapa hari sebelumnya tidak terpenuhi kebutuhan itu,” kata Alam.

Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina akan meningkatkan distribusi BBM ke wilayah prioritas, yakni Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Pasokan yang sebelumnya difokuskan dari Integrated Terminal Manggis kini akan diperkuat melalui dua titik distribusi, yaitu Fuel Terminal Sanggaran dan Integrated Terminal Manggis.

Pemanfaatan Fuel Terminal Sanggaran dinilai dapat mempercepat penyaluran karena jaraknya lebih dekat dengan wilayah yang mengalami lonjakan permintaan.

Dengan waktu tempuh yang lebih singkat, armada mobil tangki diharapkan bisa melakukan pengiriman berulang kali dalam sehari.

“Kenapa Sanggaran? Karena jaraknya dekat, posisinya tidak jauh seperti Manggis. Sehingga bolak-balik cepat,” jelasnya.

Pertamina diharapkan segera merealisasikan penambahan pasokan dan mempercepat distribusi tersebut.

Sebab, masyarakat membutuhkan kepastian agar antrean panjang di SPBU segera berakhir dan aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu akibat sulitnya mendapatkan BBM.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
krisis bbm alit kelakan dpr ri pertamina bbm langka