Rela Tempuh Puluhan Kilometer, Warga Denpasar Berburu BBM hingga Karangasem

Zulfika Rahman • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 12:05 WIB
Antrean warga di SPBU Manggis, Kecamatan Manggis, Karangasem, mengular hingga ratusan meter pada Rabu (14/10). Antrean tersebut mengakibatkan kemacetan panjang dari dua arah.(Foto Zulfika Rahman)
Antrean warga di SPBU Manggis, Kecamatan Manggis, Karangasem, mengular hingga ratusan meter pada Rabu (14/10). Antrean tersebut mengakibatkan kemacetan panjang dari dua arah.(Foto Zulfika Rahman)

Antrean di SPBU Manggis Mengular 500 Meter, Warga Berjubel hingga Empat Jam

Radarbadung.jawapos.com – Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali membuat warga harus berjuang ekstra untuk mendapatkan bahan bakar.

Tak hanya di Denpasar, Badung, dan Tabanan, antrean panjang juga terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Karangasem.

Bahkan, ada warga yang rela menempuh puluhan kilometer dari Denpasar demi mendapatkan BBM.

Panas terik yang menyengat kulit tak menyurutkan semangat Fariha untuk mendapatkan BBM.

Di tengah antrean panjang di SPBU Manggis, Rabu (14/10), perempuan berusia 41 tahun asal Jember, Jawa Timur, itu masih berusaha tersenyum tipis. Dia mengaku sudah mengantre sejak pukul 10.00.

“Saya sampai sini, sudah ada antrean,” ujarnya saat ditemui di sela-sela menunggu giliran mengisi BBM.

Fariha sengaja datang ke Karangasem untuk mendapatkan BBM bagi kendaraannya.

Dia bahkan berkoordinasi dengan sejumlah tetangga kos dan kerabatnya setelah mendapat informasi bahwa antrean di Karangasem tidak separah di Denpasar.

“Saya dapat info kalau di Karangasem tidak separah di Denpasar antreannya,” ucapnya.

Namun, kenyataan di lapangan tak sepenuhnya sesuai harapan. Setibanya di SPBU Manggis, antrean ternyata sudah mengular sejak pagi.

“Setidaknya tidak separah di Denpasar. Awalnya mau di jalan by pass, tetapi antreannya panjang sekali. Makanya saya sekalian ke sini,” katanya.

Krisis BBM tersebut juga berdampak langsung terhadap pekerjaannya. Sejak Selasa (13/10), Fariha mengaku tidak bisa bekerja.

Padahal, sebagai tenaga penjualan (sales) produk minuman di wilayah Denpasar, BBM menjadi kebutuhan penting untuk menunjang mobilitasnya sehari-hari.

“Makanya saya sengaja libur,” imbuhnya.

Ironisnya, perjuangan mendapatkan BBM itu harus dimulai dengan membeli bensin eceran untuk perjalanan menuju Karangasem.

Harga yang harus dibayar pun terbilang sangat mahal.

“Ke sini saya isi bensin eceran. Harganya nggak ngotak. Sampai Rp 100 ribu per botol,” ungkapnya kesal.

Untuk memaksimalkan kesempatan mendapatkan BBM, Fariha juga mengajak kerabatnya.

Dia mengisi penuh tangki sepeda motornya dan sepeda motor milik suaminya.

“Jadi motor saya ini saya isi penuh. Sama motor laki ini full juga. Ini buat saya aja. Nanti motor ditarik tali biar nggak keluar bensin waktu balik ke Denpasar,” tuturnya.

Setelah menunggu sekitar empat jam, sejak pukul 10.00 hingga 14.00, Fariha dan rombongannya akhirnya berhasil mendapatkan BBM.

“Kalau di Denpasar bisa lebih lama lagi. Makanya saya korbankan waktu dan tenaga, walaupun jauh,” ujarnya.

Perjuangan serupa dialami Suhaidi, warga Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem.

Dia terpaksa berburu BBM hingga ke SPBU Manggis lantaran stok di sejumlah SPBU dekat tempat tinggalnya telah habis.

“Infonya hanya di Manggis yang tersedia. Makanya saya ke sini. Baru kali ini seumur hidup saya merasakan antrean beli Pertalite segini panjangnya,” akunya.

Antrean kendaraan di SPBU Manggis bahkan mengular hingga lebih dari 500 meter.

Kondisi ini berdampak terhadap arus lalu lintas karena jalur tersebut merupakan jalan utama dengan aktivitas kendaraan yang cukup padat.

Kemacetan panjang pun tak terhindarkan dari dua arah.

Sejumlah personel kepolisian terlihat sibuk mengatur antrean kendaraan sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas agar kemacetan tidak semakin parah.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
krisis bbm pertamina pertamax badung bbm langka