BBM Langka hingga Tujuh Hari, Dampak ke Ekonomi Bali Diprediksi Membesar

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:36 WIB
Antrian kendaraan bermotor tampak mengular di sejumlah SPBU di Bali karena krisis BBM. Hal ini sudah terjadi beberapa hari terakhir.(Foto Adrian Suwanto)
Antrian kendaraan bermotor tampak mengular di sejumlah SPBU di Bali karena krisis BBM. Hal ini sudah terjadi beberapa hari terakhir.(Foto Adrian Suwanto)

Radarbadung.jawapos.com – Keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai mengganggu kelancaran operasional usaha, terutama di sektor pariwisata.

Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memperkirakan, jika kondisi tersebut berlangsung selama tiga hingga lima hari, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Bali mencapai sekitar 0,014 persen.

Angka itu berpotensi meningkat menjadi 0,019 persen jika gangguan berlangsung hingga tujuh hari.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, dampak keterbatasan BBM mulai dirasakan pada mobilitas masyarakat dan wisatawan.

Sejumlah layanan transportasi wisata, penjemputan dan pengantaran tamu hotel, hingga pengiriman kebutuhan operasional usaha mengalami keterlambatan.

“Namun demikian, aktivitas usaha secara umum masih berjalan dan belum terdapat indikasi gangguan yang signifikan terhadap keseluruhan kegiatan ekonomi Bali,” kata Achris dalam siaran pers BI Provinsi Bali.

Selain terhadap pertumbuhan ekonomi, BI juga menghitung potensi dampak keterbatasan pasokan BBM terhadap inflasi.

Berdasarkan simulasi BI, gangguan pasokan selama tiga hingga lima hari diprakirakan memberikan dampak sekitar 0,010 persen terhadap inflasi Bali.

Jika berlangsung hingga tujuh hari, dampaknya diprakirakan mencapai 0,018 persen.

Di sisi lain, hasil pemantauan BI di sejumlah pasar tradisional dan pelaku usaha menunjukkan pasokan barang kebutuhan masyarakat masih relatif terjaga.

Harga komoditas pangan secara umum juga masih stabil dan belum menunjukkan tekanan kenaikan harga secara meluas akibat keterbatasan BBM.

Meski demikian, kenaikan biaya distribusi dan logistik tetap berpotensi terjadi dalam jangka pendek apabila gangguan pasokan dan distribusi BBM berlanjut.

“Mengingat proses normalisasi pasokan dan distribusi BBM tengah berlangsung, dampak terhadap perekonomian daerah diprakirakan tetap terbatas dan bersifat sementara,” lanjut Achris.

Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut, BI Bali terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Pertamina, dan pelaku usaha.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk menjaga kecukupan pasokan serta memastikan distribusi BBM berjalan lancar.

BI juga menekankan pentingnya komunikasi publik secara berkala agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi pasokan BBM.

Langkah ini diharapkan dapat mencegah pembelian berlebihan atau panic buying yang berpotensi memperburuk antrean dan tekanan terhadap distribusi.

Dalam jangka menengah dan panjang, BI mendorong penguatan penggunaan kendaraan listrik sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung kelestarian lingkungan Bali.

Pemantauan terhadap ketersediaan BBM, perkembangan harga pangan, serta kelancaran distribusi barang dan jasa akan terus dilakukan bersama TPID guna menjaga stabilitas ekonomi daerah.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
antrean BBM Bank Indoensia spbu bbm langka pariwisata