Radarbadung.jawapos.com – Membludaknya antrean kendaraan akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) membuat petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) harus bekerja ekstra.
Di balik upaya menjaga pelayanan tetap berjalan, para petugas juga harus menghadapi kelelahan akibat jam kerja yang panjang.
Komang Ayu, salah seorang petugas SPBU 54.801.20 di Jalan Badak Agung, Denpasar, menjadi salah satu yang merasakan dampak tersebut.
Setelah menjalani lembur di tengah lonjakan antrean BBM, perempuan asal Karangasem itu akhirnya tumbang pada Jumat kemarin (16/10).
Ayu, yang kini tinggal di kawasan Panjer, telah delapan tahun bekerja di SPBU tersebut.
Meningkatnya jumlah kendaraan yang mengantre membuat beban kerjanya bertambah.
Demi memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, dia harus menjalani jam kerja panjang, bahkan meninggalkan anaknya yang masih berusia tujuh tahun di rumah.
Ayu menuturkan, sejak Selasa (13/10), SPBU tempatnya bekerja mulai beroperasi selama 24 jam.
Kebijakan tersebut membuat karyawan mendapat tambahan giliran kerja secara bergantian.
Ayu menjadi salah satu petugas yang harus bekerja lebih lama di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM.
Dalam satu giliran kerja, Ayu bertugas mulai pukul 14.00 hingga 03.00 WITA.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia sempat pulang untuk beristirahat sejenak dan makan sebelum kembali menjalani tugas.
Namun, di tengah padatnya aktivitas pelayanan, kondisi fisiknya mulai menurun.
Ayu mengaku mulai merasa tidak sehat sekitar pukul 03.00 WITA.
Seluruh tubuhnya terasa sakit dan kondisinya semakin lemah hingga akhirnya mendapat penanganan dari petugas Palang Merah Indonesia (PMI).
Peristiwa ini menjadi gambaran lain dari dampak antrean panjang BBM yang terjadi di Bali.
Bukan hanya masyarakat yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar, petugas SPBU juga menghadapi beban kerja tambahan demi menjaga pelayanan tetap berlangsung.
Di tengah penerapan operasional 24 jam, pengaturan giliran kerja dan waktu istirahat yang memadai menjadi hal penting.
Sebab, kelancaran pelayanan kepada masyarakat perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kondisi kesehatan dan keselamatan para pekerja.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung