Orderan Ojol Melimpah saat BBM Langka, Driver Selektif demi Hemat Bensin

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08:10 WIB
Ojol motor di daerah Tukad Bilok, Denpasar. Mereka lebih selektif saat krisis BBM di Bali.(Foto Ni Kadek Novi Febriani)
Ojol motor di daerah Tukad Bilok, Denpasar. Mereka lebih selektif saat krisis BBM di Bali.(Foto Ni Kadek Novi Febriani)

Radarbadung.jawapos.com – Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali ikut memengaruhi aktivitas pengemudi ojek online (ojol).

Di tengah derasnya pesanan penumpang dan makanan, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) membuat mereka harus lebih selektif menerima orderan.

Jarak penjemputan, titik tujuan, hingga kondisi lalu lintas kini menjadi pertimbangan sebelum menerima pesanan.

Bagi pengemudi ojol, orderan yang ramai belum tentu sebanding dengan waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan BBM.

Dudi, salah seorang pengemudi ojol yang ditemui Jumat (16/10), mengaku kini lebih memperhatikan jarak perjalanan.

Dia masih bersedia mengambil pesanan dengan jarak sekitar 2–3 kilometer. 

Namun, untuk perjalanan lebih dari 4 kilometer, dia cenderung mempertimbangkannya kembali.

“Kalau saya pribadi, pesanan dengan jarak 2 sampai 3 kilometer masih saya ambil. Namun, jika lebih dari 4 kilometer, saya anggap kurang sepadan dengan situasi saat ini. Untuk tarif standar bersih yang saya terima sekarang sekitar Rp 8.800 per kilometer,” jelasnya.

Menurut Dudi, tingginya potensi pesanan tidak serta-merta membuat penghasilannya meningkat.

Waktu operasional justru banyak tersita untuk mengantre BBM. 

Dalam kondisi saat ini, dia bisa menghabiskan waktu sekitar 2–3 jam hanya untuk mendapatkan bensin.

Akibatnya, meski pendapatan belum mengalami penurunan drastis, waktu dan tenaga yang dikeluarkan menjadi jauh lebih besar.

Untuk mempertahankan pendapatan rata-rata Rp 300 ribu per hari, pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu harus menyiasati waktu pengisian BBM, bahkan mengorbankan waktu istirahat.

Dudi memilih mengantre bensin pada malam hari agar sepeda motor Honda Beat miliknya bisa digunakan untuk bekerja keesokan harinya.

“Saya biasanya antre bensin mulai pukul 23.00 dan baru selesai pukul 01.00 atau 01.30. Kadang saya menahan kantuk dan tertidur di atas motor. Minimal sehari sekali saya harus antre isi bensin agar besoknya bisa beroperasi,” tambahnya.

Kondisi serupa dirasakan Queen, 39, pengemudi ojol lainnya.

Jika dalam kondisi normal dia bisa mengejar banyak target pesanan, kini kekhawatiran kehabisan bensin di tengah perjalanan membuatnya harus lebih berhati-hati.

Setiap pesanan yang masuk tidak langsung diterima.

Queen terlebih dahulu mempertimbangkan jarak tempuh dan kondisi jalan yang akan dilalui.

Bahkan, untuk perjalanan jarak dekat sekalipun, dia memilih rute yang dinilai lebih efisien.

“Walaupun jaraknya dekat (short trip), saya akan memilih jalurnya dulu. Saya harus memastikan apakah ada jalan pintas (shortcut) yang bisa dilalui, serta menghindari rute yang melewati titik kemacetan atau jalanan di sekitar SPBU,” terang Queen.

Perempuan yang sebelumnya pernah bekerja di salah satu bank swasta tersebut mengaku memilih profesi ojol karena menawarkan fleksibilitas waktu.

Namun, dengan rutinitas bekerja selama 8–12 jam sehari untuk mengantar penumpang maupun makanan, kelangkaan BBM membuatnya harus menyusun strategi perjalanan dengan lebih cermat.

Di tengah antrean BBM yang belum sepenuhnya teratasi, para pengemudi ojol dituntut tidak hanya mengejar jumlah pesanan, tetapi juga menghitung efisiensi perjalanan.

Sebab, di balik orderan yang melimpah, waktu yang habis untuk mengantre dan risiko kehabisan bensin menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
krisis bbm ojek online ojol spbu bbm langka