Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Pijat Cakra Karya Mangku Mastra: Bangkitkan Energi Positif tanpa Patok Tarif, Didatangi Wisatawan dari Seluruh Dunia

Zulfika Rahman • Minggu, 26 April 2026 | 10:24 WIB
Mangku Mastra, penekun spiritual asal Kecamatan Sidemen, Karangasem. (Foto Istimewa)
Mangku Mastra, penekun spiritual asal Kecamatan Sidemen, Karangasem. (Foto Istimewa)

Radarbadung.jawapos.com– Keterampilan pijat cakra yang dikembangkan oleh Mangku Mastra, penekun spiritual asal Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, kini menjadi buah bibir dan banyak dicari wisatawan mancanegara.

Tidak hanya memberikan kenyamanan fisik, terapi ini dipercaya mampu membangkitkan energi positif serta menyeimbangkan kondisi batin setiap orang yang menjalaninya.

Bagi Mangku Mastra, segala kegiatan yang ia jalani merupakan wujud berbuat kebaikan bagi sesama.

Hal ini dilandasi keyakinan bahwa manusia harus senantiasa saling mengasah, mengasuh, dan mengasihi satu sama lain.

Sebelum mengembangkan terapi pijat cakra, ia lebih dahulu menciptakan metode yoga dan meditasi yang diberi nama Bayu Surya.

Perjalanan menciptakan ilmu tersebut tidaklah singkat dan erat kaitannya dengan perjalanan hidup dan spiritual yang ia lalui.

Semuanya bermula ketika ia jatuh sakit pada tahun 1999 dan menjalani perawatan di RSUD Klungkung.

Pascasakit, ia mulai lebih banyak merenung dan mendalami ilmu-ilmu spiritual yang telah lama ia pelajari.

Suatu ketika, secara tidak terduga tujuh orang warga di lingkungannya datang meminta diajarkan metode yoga dan meditasi yang ia miliki.

Ia pun menyetujuinya, dan sejak saat itu permintaan untuk belajar terus berdatangan, bahkan dari luar negeri.

“Ada juga orang dari Jerman yang dulu datang khusus untuk belajar metode ini,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang merasakan manfaat positif dari yoga dan meditasi Bayu Surya, terutama di kalangan wisatawan asing.

Namun karena peminatnya masih terbatas, Mangku Mastra kembali merenung dan berusaha menciptakan sesuatu yang lebih luas manfaatnya dan dapat diakses oleh banyak orang, sebagai wujud pengabdiannya.

Hingga pada akhirnya, terciptalah terapi pijat cakra yang mulai ia tekuni secara serius pada tahun 2010, dan baru dikenal luas oleh masyarakat serta wisatawan sejak tahun 2013.

Pijat cakra ini merupakan gabungan dari teknik pemijatan, terapi refleksi, dan penggunaan ramuan khusus yang diracik sendiri oleh Mangku Mastra.

Selama proses berlangsung, ia juga melantunkan mantra-mantra tertentu.

Konsepnya berlandaskan pengetahuan spiritual yang menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat titik-titik energi, dengan tujuh titik utama yang berperan penting dalam keseimbangan fisik dan batin.

Terapi ini kemudian menarik perhatian banyak orang, khususnya wisatawan asing.

Bahkan data menunjukkan bahwa sekitar 95 persen orang yang memanfaatkan jasanya berasal dari luar negeri, dan mayoritas di antaranya adalah perempuan.

“Padahal saya tidak pernah membatasi atau mematok terapi ini hanya untuk golongan atau jenis kelamin tertentu. Siapa saja yang membutuhkan dan memiliki niat baik, saya layani,” tegasnya.

Kini, pijat cakra ini bahkan telah menjadi daya tarik tersendiri, hingga sejumlah vila di sekitar kawasan Sidemen mulai menyediakan layanan tersebut.

Banyak wisatawan yang sengaja menyempatkan waktu berkunjung ke Sidemen semata-mata untuk merasakan langsung sentuhan terapi karya Mangku Mastra.

Dalam menjalankan kegiatannya, ia memiliki prinsip tegas: tidak bersedia dipanggil untuk memberikan layanan ke luar daerah.

Hal ini dikarenakan tanggung jawab utamanya adalah sebagai pemangku atau pelayan umat, yang harus senantiasa ada di tempat dan mengabdi kepada masyarakat.

“Yang utama dan paling penting adalah tugas saya melayani umat dan mengabdi, atau yang biasa disebut ngayah. Itu menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Mengingat teknik pemijatannya menyentuh bagian-bagian tubuh yang sensitif, Mangku Mastra selalu berusaha mencegah terjadinya kesalahpahaman.

Sebelum proses dimulai, ia selalu menjelaskan secara rinci mengenai tujuan, manfaat, dan alur terapi yang akan dijalani.

“Sebelum saya memijat, saya jelaskan terlebih dahulu untuk menghindari kesalahpahaman. Kalau tidak keberatan, ya dilanjutkan. Tapi kalau ada rasa keberatan, maka proses tidak saya lakukan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa manfaat yang dirasakan setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung pada kondisi dan kepekaan masing-masing individu.

Namun secara umum, tujuan utama dari terapi ini adalah membantu memulihkan keseimbangan dan membangkitkan energi positif dalam diri.

Orang yang memanfaatkan jasanya pun datang dari berbagai latar belakang dan negara, mulai dari kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika.

Bahkan tidak sedikit yang datang berulang kali karena merasakan perubahan positif pada kondisi kesehatannya.

“Ada yang sengaja datang berkunjung ke Bali, lalu menyempatkan waktu khusus ke Sidemen hanya untuk menjalani terapi ini,” ungkapnya bangga.

Selain itu, terdapat pula syarat dan pantangan yang harus dipatuhi oleh setiap orang yang ingin menjalani terapi, yaitu tidak sedang hamil tua dan tidak sedang dalam masa menstruasi.

Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat posisinya sebagai pemangku yang memegang teguh aturan dan nilai-nilai kesucian.***

Editor : Donny Tabelak
#wisatawan #kesehatan #pijat #karangasem #pemangku