Hasilkan Puluhan Juta per Bulan, Banyak Siswa dan Mahasiswa Belajar di Lahannya
Radarbadung.jawapos.com– Perubahan karier yang cukup drastis dialami oleh Kadek Melon.
Dulunya ia bekerja di bidang pariwisata dengan penghasilan tetap setiap bulan, namun belasan tahun lalu ia memutuskan banting setir menjadi petani.
Pria asal Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan ini memilih jalan yang dianggap berisiko, karena hasil pertanian tidak selalu menentu setiap saat.
Kepada Radar Bali, Kadek Melon menceritakan alasan di balik keputusannya tersebut.
Ia merasa ada keresahan jika terus bekerja sebagai karyawan swasta.
“Dulu saya bekerja di pariwisata. Saya berpikir, jika saya menunggu sampai masa pensiun, rasanya saya tidak akan sempat lagi mempelajari dunia pertanian,” ungkapnya, Selasa (2/6).
Dengan keyakinan yang kuat, ia memutuskan berhenti bekerja dan fokus mengembangkan pertanian organik.
Di lahan seluas sekitar 50 are miliknya, ia menanam berbagai jenis sayuran hijau, serta buah-buahan seperti alpukat dan durian.
Menurutnya, bertani organik memiliki tantangan tersendiri, apalagi pekerjaan ini sering dianggap berat dan kurang diminati banyak orang.
Berbeda dengan pertanian konvensional, ia hanya menggunakan pupuk alami dari sisa tanaman dan kotoran hewan.
“Salah satu tujuan saya bertani organik adalah mengembalikan kesuburan tanah. Penggunaan bahan kimia justru dapat merusak kualitas tanah dalam jangka panjang. Selain itu, hasil panennya pun aman dikonsumsi karena bebas zat kimia,” jelasnya.
Berkat ketekunan dan konsistensinya, usahanya kini berkembang pesat. Ia bahkan mendirikan lembaga pendidikan pertanian swadaya.
Setiap harinya, banyak siswa sekolah menengah hingga mahasiswa yang datang untuk belajar langsung di lahan miliknya.
Dari hasil panen dan kegiatan tersebut, ia mampu meraih omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.
Dalam menjalankan usahanya, Kadek memanfaatkan layanan perbankan digital dan pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
“Kami menggunakan BRImo untuk transaksi keuangan, jadi lebih praktis dan mudah. Kami juga mendapatkan dukungan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI untuk mengembangkan lahan pertanian ini,” tambahnya.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dukungan diberikan dalam bentuk akses pembiayaan, pendampingan usaha, literasi keuangan, hingga bantuan pemasaran produk agar pelaku usaha dapat berkembang dan berdaya saing.
“UMKM dan sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian daerah. Keduanya memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.***
Editor : Donny Tabelak