Terungkap! 15 WNA dari Berbagai Negara Laporkan Mr Terima Kasih ke Polda Bali, Diduga jadi Korban Investasi Bodong
Andre Sulla• Jumat, 24 Oktober 2025 | 17:05 WIB
Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, S.I.K., benarkan 15 WNA polisikan Sergey Domogatsky alias Mr. Terimakasih (foto atas), Kamis (23/10/2025) kemarin.
Radarbadung.jawapos.com– Kasus dugaan penipuan investasi properti bodong dengan terduga pelaku seorang influencer asal Rusia bernama Sergey Domogatsky alias Mr. Terimakasih makin memanas.
Setelah sebelumnya 10 warga negara asing (WNA) resmi melapor Mr Terima Kasih ke Polda Bali, kini jumlah korban bertambah 5 WNA lagi. Total korban menjadi 15 orang WNA dari berbagai negara.
Total kerugian ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Kepastian ini disampaikan Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, S.I.K., Kamis (23/10/2025).
“Sampai hari ini sudah ada 15 laporan polisi yang kami terima terkait dugaan penipuan investasi oleh saudara Sergei Domogatsky,” ungkap Juru Bicara Polda Bali kemarin.
Menurut Ariasandy, laporan-laporan tersebut kini ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) dan Direktorat Siber Polda Bali. Pihaknya memastikan setiap aduan akan diproses sesuai ketentuan hukum.
“Kami imbau masyarakat dan para investor tetap tenang serta tidak mudah terpancing opini liar. Gunakan jalur resmi jika merasa dirugikan,” tegasnya.
Lima laporan terbaru, diantaranya Victoria Neyzhmakova Vladimorovna asal Rusia, melapor dengan nomor STPL/2020/X/2025, mengaku rugi hingga Rp 8,46 miliar.
Korban selanjutnya, Dudaev Chamsuddin dari Prancis, melapor dengan STPL/2034/X/2025, kehilangan USD 105.000 setelah vila yang diinvestasikan justru dijual.
Varapayeva Khrgstsina dari Belarus, melalui laporan STPL/2036/X/2025, dijanjikan proyek town house yang tak pernah terealisasi, dengan kerugian Rp 3,44 miliar.
Sementara laporan lainnya juga menyebut nama PT Reflection Heavens Penida dan PT Bali Development Group, dua perusahaan yang dikaitkan dengan aktivitas bisnis Mr. Terimakasih di Bali. Pihak kepolisian menyebut proses penyelidikan tengah berjalan.
Tim saat ini sedang memverifikasi dokumen, bukti transfer, serta kontrak kerja sama antara para pelapor dan pihak terlapor.
“15 laporan sudah kami terima dan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum,” tutup Kombes Ariasandy.
Sementara itu, influencer asal Rusia, Sergey Domogatsky alias Mr. Terima kasih, melalui unggahan terbarunya di media sosial, Sergey membantah keras tuduhan pencurian dana investor senilai puluhan miliar.
Ia menyebut tudingan itu sebagai bagian dari “perang informasi” yang sengaja dilancarkan untuk menjatuhkannya.
Sergey mengklaim telah mengetahui rencana kelompok yang ingin menghancurkan reputasinya sejak lama.
Menurutnya, pihak-pihak tersebut kini memengaruhi sejumlah klien agar melapor ke polisi dengan tuduhan pencurian dana proyek vila. “Ini bohong,” tegasnya dalam unggahan itu.
Ia menuding, ada pihak yang menggunakan puluhan akun bot untuk menulis komentar menyesatkan di dunia maya.
Lebih lanjut, Sergey menilai tuduhan tersebut tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa uang investasi telah digunakan sesuai tujuan proyek, dan siap diaudit.
Sebagian besar vila, kata dia, telah dibangun dan sedang dalam tahap finishing. “Keterlambatan memang ada, seperti 90 persen proyek pembangunan lain. Ini bukan kejahatan,” tulisnya.
Sergey menambahkan, kualitas bangunan menjadi prioritas utama, sehingga proses konstruksi membutuhkan waktu lebih lama.
Ia juga menepis anggapan bahwa dirinya berniat melarikan uang investor. “Kalau ingin mencuri, tidak mungkin saya bertahan membangun proyek rumit dan indah selama tiga tahun,” ujarnya dalam unggahan itu.
Unggahan tersebut muncul di tengah meningkatnya jumlah korban yang melapor ke Polda Bali terkait dugaan investasi fiktif.
Seperti berita sebelumnya, laporan-laporan para investor asing ini diterima Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Bali sejak Jumat (17/10/2025) hingga Selasa (21/10/2025), dengan total kerugian yang tercatat mencapai lebih dari Rp 31 miliar.
Modus penipuan ini seragam, yaitu para korban tertarik dengan promosi pembangunan vila mewah di Nusa Penida, Kintamani, hingga Pecatu melalui akun Instagram yang dimilikinya dan sejumlah perusahaan yang diklaim miliknya.
Seperti PT Reflection Heavens Penida, PT World Class Projects, PT Best Global Solutions, dan PT Bali Development Group.
Setelah tertarik, para korban diarahkan berkomunikasi dengan sejumlah asisten yang disebut mengurus kontrak dan pembayaran, termasuk Agata Chuguevskaya, Marina Arisova, Margarita, dan Kateryna Ozerianska.
Pembayaran dilakukan sebagian besar dalam bentuk mata uang kripto (USDT) atau tunai di Moskow.
Namun, setelah pembayaran dilakukan, proyek properti yang dijanjikan tidak pernah dimulai dan komunikasi dengan para calon terputus.
Mereka merasa menjadi korban penipuan proyek properti fiktif yang dijanjikan di sejumlah kawasan wisata.
Ulah Mr. Terima kasih ini terkuak bermula dari laporan Nezyhnakovo Victoria Vladimorovna, warga negara Rusia, yang tergiur iklan vila mewah di Nusa Penida pada Juli 2022.
Ia mengaku membayar tunai 10,87 juta rubel dan 33.252 USDT, setara Rp8,46 miliar. Namun, villa impian itu tak pernah berdiri hingga kini.
Korban lain, Chamsuddin Dudaev asal Prancis, menandatangani kontrak pembangunan vila senilai USD 105.000.
Pada 2024, villa yang telah ia lunasi justru dijual kepada orang lain. Sementara Varapayeva Khrystsina dari Belarus, kehilangan USD 220.000 setelah proyek town house yang dijanjikan tak pernah dimulai.
Janji pengembalian uang juga tak pernah ditepati. Dari Belarus juga, Anatol Shymakouski harus gigit jari setelah mentransfer USD 129.970 untuk villa yang ternyata tak ada wujudnya.
Sedangkan Olha Danch, warga Ukraina, kehilangan Rp2,4 miliar untuk proyek perumahan di Pantai Balian yang tidak pernah dibangun.
Modus serupa dialami Klimov Viacheslav dan Mikhail Vyacheslavovich Vorobev, keduanya asal Rusia.
Mereka tergiur promosi di Instagram dan janji pembangunan vila modern. Setelah membayar hingga Rp1,5 miliar lebih, proyek tak kunjung terlihat, sementara pihak pengembang menghilang tanpa kabar.
Korban berikutnya, Artem Borisovich Savateev, berinvestasi di proyek “Santorini” di Nusa Penida senilai USD 93.000.
Setahun berlalu, proyek yang dijanjikan tetap fiktif. Alexey Andreevich Pomortsev bahkan sudah membayar USD 248.000 untuk vila nomor 16, tetapi lahan yang dijanjikan masih kosong dua tahun kemudian.
Laporan terakhir datang dari Iusupov Shakhzod, juga warga Rusia. Ia membeli dua villa di Kintamani dan Santorini senilai USD 367.000 atau sekitar Rp 6,16 miliar.
Dua tahun berlalu, tak ada bangunan berdiri, dan semua kontak dengan pengembang terputus.
Rangkaian laporan ini menunjukkan pola serupa, janji investasi properti berbalut promosi di media sosial, kontrak resmi atas nama perusahaan, hingga pembayaran penuh dalam dolar dan kripto.
Namun, proyek-proyek yang dijanjikan hanya tinggal imajinasi meninggalkan kerugian besar dan jejak kekecewaan mendalam para investor asing di Bali.***