Kristianus Bayu AP Soares, 24, terbaring lemas di RSAD Denpasar, Kamis (1/01/2026) lalu. Ia diserang pakai tombak saat malam pergantian tahun.
Radarbadung.jawapos.com– Peristiwa berdarah pada malam tahun baru tidak hanya terjadi di Tabanan. Namun, kasus berdarah juga terjadi di kota Denpasar.
Pengamanan Kantibmas di Wilayah Polsek Denpasar Timur jebol. Sebab terjadi peristiwa berdarah hanya karena salah paham gegara kembang api alias petasan.
Menggunakan sajam jenis tombak, lelaki bernama Gung Kris menusuk mahasiswa bernama Kristianus Bayu AP Soares, 24.
Peristiwa berlangsung di kawasan permukiman padat penduduk, Jalan Akasia XVI, Kos Indah Akasia No. 120, Kelurahan Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Rabu (31/12) sekitar pukul 19.30 WITA.
Peristiwa berlangsung di kawasan permukiman padat penduduk, Jalan Akasia XVI, Kos Indah Akasia No. 120, Kelurahan Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Rabu (31/12) sekitar pukul 19.30 WITA.
Kepada wartawan, warga bernama Dewa Anom menyatakan, peristiwa tersebut menggerakan warga setempat saat suasana malam penutupan akhir tahun, mulai ramai aktivitas warga membakar petasan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Anom, kejadian bermula ketika mahasiswa ini hendak membeli makanan di sekitar kos temannya.
Di lokasi, pemilik warung menegur sekelompok remaja yang bermain tembak-tembakan kembang api karena dikhawatirkan mengganggu balita yang sedang tidur.
Tak lama kemudian, tiga remaja bersepeda motor datang dan kembali hendak bermain petasan di depan warung.
Teguran kembali dilontarkan pemilik warung. Situasi pun memanas. Korban yang berada di lokasi disebut ikut tersulut emosi hingga terjadi dorong-mendorong dengan salah satu terduga pelaku berinisial Gus Kris, yang diketahui merupakan anggota salah satu organisasi kepemudaan di Bali, beserta beberapa temannya.
"Kabarnya pelakunya Gung Kris dan kawan-kawan," timpal warga tersebut, Kamis (1/01/2026), sembari mengatakan, Gung Kris sempat menantangnya berkelahi sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi sambil membawa petasan.
Merasa situasi mereda, pemuda asal Timor Leste ini kembali ke kos temannya. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Sekelompok orang tiba-tiba mendatangi kos tersebut dan mengetuk pintu.
Tanpa banyak bicara, yang bersangkutan langsung diserang secara brutal.
Korban dipukul dan diserang menggunakan sejumlah benda, termasuk besi dan benda menyerupai tombak.
Berusaha menyelamatkan diri, korban keluar dari areal kos dan berlari ke arah Jalan Akasia. Aksi pengejaran bahkan berlanjut hingga depan Warung Madura dan sebuah studio tato di kawasan tersebut.
Saat itu juga, Kristianus Bayu AP Soares, 24, dilarikan ke rumah sakit dengan sejumlah luka, diduga akibat senjata tajam. "Biar tidak salah, silahkan konfirmasi ke Polsek Denpasar Timur," singkatnya.
Walaupun demikian, sejumlah sumber mangatakan, dalam peristiwa tersebut pihak kepolisian telah memintai keterangan beberapa saksi, termasuk
Frelydino Nyongkianus Leki, yang merupakan teman kos korban.
Katanya, sempat melihat Kristianus kembali ke kos dalam kondisi bersimbah darah. “Tangannya luka parah, darah banyak keluar. Kami langsung bawa ke RSAD pakai motor,” ujarnya.
Setibanya di RSAD Denpasar, tim medis menemukan sejumlah luka serius pada tubuh korban, antara lain luka di tangan kanan, telapak tangan kanan, tangan kiri, serta luka tusuk di bagian perut atas kemaluan.
"Kami sudah memintai keterangan beberapa saksi. Korban kini masih menjalani perawatan intensif dan direncanakan menjalani operasi akibat luka dalam yang dideritanya," beber sumber petugas.
Polsek Dentim masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengumpulkan keterangan untuk mengungkap peran masing-masing pihak yang terlibat.
Polisi juga mendalami dugaan penggunaan senjata tajam dalam insiden tersebut. “Kasus ini masih dalam penanganan. Terduga pelaku sedang dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi. Pelaku masih dalam penyelidikan,” cetusnya.
Kapolsek Denpasar Timur (Dentim), Kompol I Ketut Tomiyasa, S.H.,M.H., membenarkan terkait adanya peristiwa tersebut.
Pihak kepolisian menghimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak mudah terpancing emosi, terlebih di momen perayaan akhir tahun.
"Proses hukum kini berjalan untuk memastikan kejadian tersebut ditangani secara adil dan transparan," tutupnya.***