Serahkan Mobil Rp1,2 Miliar ke Polda Bali
Radarbadung.jawapos.com— Puluhan nasabah PT Nellafa Refinery and Bullion dan PT Nellafa Fine Jewellery tersebar di Bali, Surabaya, hingga Jakarta merasa tertipu.
Perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang bergerak jual beli emas ini diduga menggelapkan dana nasabah.
Direktur sekaligus pemilik, Jaya Krishna Reddy, warga negara India, kabur ke negaranya.
Rabu malam (16/9), Antonius Nofu Balan atau akrab disapa Tony, yang sebelumnya hanya sopir pribadi lalu diangkat menjadi komisaris, melaporkan Reddy ke Polda Bali.
Bersama laporan, ia menyerahkan mobil mewah Mini Cooper senilai Rp1,2 miliar milik Reddy sebagai barang bukti.
Kuasa hukum Tony, Yulius Benyamin Seran, membenarkan hal tersebut.
"Benar, klien kami melaporkan dugaan penipuan yang dilakukan Jaya Krishna Reddy, pemilik sekaligus direktur utama. Puluhan nasabah di Bali, serta korban di Surabaya dan Jakarta dirugikan miliaran rupiah. Tony pun turut menjadi korban," ungkap Yulius.
Diangkat Jadi Komisaris Tanpa Setor Modal
Berdasarkan Akta Pendirian No. 1 tanggal 6 Desember 2025, perusahaan didirikan sepenuhnya oleh Jaya Krishna Reddy.
Tony dijadikan komisaris tanpa menyetor modal sepeser pun.
"Ia dibujuk menjadi komisaris dengan janji keuntungan. Padahal sebelumnya hanya sopir dengan gaji Rp6 juta, lalu dinaikkan bertahap hingga Rp15 juta. Tugasnya tetap mengantar emas dilebur — dijadikan 'wajah' perusahaan semata," jelas Yulius.
Diduga kuat, emas milik nasabah dilebur lalu dijual kembali ke luar negeri dengan harga lebih tinggi.
Reddy mengendalikan segala hal sendirian tanpa transparansi.
Kabur Bawa 6 Staf, Ditinggal di India
Sejak akhir Agustus 2026, Reddy tiba-tiba menghilang.
Ia diketahui kabur ke Malaysia, bahkan membawa serta 6 orang tim pemasaran dan akuntansi — lalu meninggalkan mereka tanpa biaya pulang.
Keenam staf tersebut akhirnya harus menanggung sendiri biaya kembali ke Indonesia.
Sementara itu, nasabah yang menyetor emas maupun uang tak menerima pengembalian apa pun.
Toko Divine Gems di Renon, Denpasar, tutup mendadak.
Vila, Kapal & Mobil Lain Diminta Disita
Selain Mini Cooper yang sudah diserahkan, Tony melaporkan aset lain milik Reddy yang perlu ditelusuri dan disita.
Diantaranya, vila mewah di Situbondo, kapal pesiar mewah di Situbondo, dan dua mobil mewah lainnya yang tersimpan di Surabaya.
Tony meminta Polda Bali menindaklanjuti penelusuran aset-aset tersebut untuk dikembalikan kepada nasabah yang dirugikan.
Penyelidikan masih berlangsung, nilai kerugian dipastikan terus bertambah seiring masuknya laporan dari korban.
Seperti berita sebelumnya, keresahan melanda sejumlah warga Bali.
Toko perhiasan Divine Gems and Jewellery di Pertokoan Duta Wijaya, Jalan Raya Puputan No. 8, Renon, Denpasar Selatan, mendadak tutup tanpa kejelasan bagi nasabah maupun pelanggannya.
Berdasarkan pemantauan Minggu (13/9), papan pengumuman menyebut toko sedang masa audit dan dijadwalkan buka.
Namun faktanya tetap tertutup rapat. Nomor layanan pelanggan hanya bercentang satu, tak ada respons.
"Tokonya tutup dan tidak ada info apa-apa, jadi bingung mau tanya ke mana. Nomor CS dan adminnya centang satu," ungkap salah satu pelanggan.
Tergiur Harga Miring, Kerugian Miliaran
Masalah bermula dari program pre-order (PO) emas dengan harga jauh di bawah pasaran serta promo beli 5 gratis 1.
Toko gencar beriklan di media sosial dan menggandeng selebgram lokal Bali.
Pesanan berkisar 25 gram hingga 50 gram emas Antam.
Kerugian diduga mencapai miliaran rupiah dan terus bertambah.
"Saya juga PO 25 gram, bagaimana ini? Dugaan kerugian sudah 6 miliar dan terus bertambah, mohon bantuannya agar kasus ini viral," tulis salah satu korban.
"Saya juga PO 50 gram Antam," ungkap pelanggan lain.
Terkait Emasnow & Nellava, Cabang Surabaya Juga Tutup
Toko ini dikabarkan terkait Emasnow dan Nellava. Keluhan serupa datang dari Surabaya — toko tutup, pesanan tak dapat diambil, pesan WhatsApp tak dibalas.
Warganet menyoroti ketidakwajaran skema sejak awal: "Jual Antam diskon 50 persen, tapi pengiriman enam bulan."***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung