Oleh: Eka Prasetya, Jurnalis Radar Bali.
Radarbadung.jawapos.com- Kunjungan saya ke Tiongkok bermula dari sebuah percakapan singkat pada Jumat (20/3) lalu.
Saat itu, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bali, Djoko Heru Setiyawan, menelepon saya dengan nada agak tergesa. “Eka, fasih nggak Bahasa Inggris?” tanya Mas Djo – begitu saya biasa menyapanya – lewat sambungan telepon.
Saya pun menjawab apa adanya, mengaku tak terlalu aktif berbahasa Inggris, melainkan hanya sebatas pendengar pasif.
Ia kemudian menanyakan skor tes kemampuan Bahasa Inggris atau TOEFL. Kebetulan, setahun silam saat menempuh pendidikan magister di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, saya sempat mengikuti tes tersebut.
Meski skor yang saya raih tentu saja tidak sebaik mereka yang memang terbiasa berbahasa Inggris secara aktif.
Lewat percakapan singkat itu, ia meminta saya segera mengirimkan Curriculum Vitae (CV) dan salinan hasil tes TOEFL.
Mas Djo menyampaikan akan mendaftarkan saya untuk mengikuti program kunjungan media ke Tiongkok. Saya hanya mengiyakan saja.
Jujur saja, dengan skor TOEFL yang pas-pasan serta pengalaman jurnalistik yang apa adanya, saya sama sekali tidak yakin akan lolos seleksi.
Telepon yang berdurasi kurang dari dua menit itupun akhirnya berakhir.
Lima hari berselang, Mas Djo kembali menghubungi lewat pesan WhatsApp. Ia meminta saya mengisi formulir pendaftaran yang disampaikan oleh pihak Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok di Bali.
Waktu yang diberikan sangat sempit, hanya sehari untuk menyelesaikannya. Karena terbatas waktu, saya isi saja apa yang saya bisa.
Hari berganti minggu, namun tak ada kabar lagi mengenai rencana perjalanan ke Tiongkok itu.
Saya pun tidak terlalu memikirkannya, karena rasa tidak percaya diri bahwa saya akan terpilih masih mendominasi pikiran saya.
Namun, pada Jumat (24/4), kabar itu datang juga. Erika, salah satu staf Konjen Tiongkok di Bali, menelepon dan menyampaikan bahwa saya dinyatakan lolos berhak mengikuti program kunjungan media ke Tiongkok.
Saat itu saya terdiam tak bisa berkata-kata.
Perasaan saya campur aduk: antara rasa syukur karena mendapat kesempatan emas pergi ke negeri orang, namun juga kebingungan mengingat kendala bahasa yang pasti akan saya hadapi di sana.
“Ah, sudahlah, jalani saja,” pikir saya saat itu.
Malam harinya, saya menyampaikan kabar keberangkatan ini kepada keluarga.
Reaksi istri dan putri saya cukup mengharukan, mereka hanya diam sambil meneteskan air mata.
Sementara putra saya yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD) justru tampak penasaran dan bertanya polos, “Tiongkok itu di mana, Yah?”
Sejak saat itu persiapan pun saya mulai. Mulai dari pemeriksaan kesehatan atau medical check up, pengurusan dokumen perjalanan dan visa, hingga menyiapkan perlengkapan.
Salah satu barang yang tak lupa saya bawa adalah tabir surya (sunscreen), mengingat saya akan menghadapi musim panas yang diprediksi tiba pada akhir Juni nanti.
Pada Rabu (29/4), saya berkesempatan bertemu dengan Konsul Jenderal Tiongkok di Bali, Zhang Zhisheng, di Denpasar.
Dalam pertemuan itu, Zhang menyambut hangat keberhasilan saya lolos dalam program ini.
Ia kemudian menjelaskan bahwa program kunjungan media ke Tiongkok sejatinya sudah berlangsung sejak tahun 2014, namun ada catatan istimewa di tahun ini.
“Baru tahun ini ada jurnalis dari Bali yang bisa berangkat ke Tiongkok. Ini kesempatan yang besar, mudah-mudahan membuka peluang agar lebih banyak lagi jurnalis dari Bali yang bisa ikut pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Zhang Zhisheng dengan antusias.
Menurut penjelasannya, program bernama China International Press Communication Centre (CIPCC) ini merupakan program yang dirancang oleh organisasi pemerintah Tiongkok, yakni China Public Diplomacy Association (CPDA).
Tujuan utamanya adalah memperkuat pemahaman para jurnalis dari negara-negara berkembang – termasuk Indonesia – mengenai kondisi, perkembangan, dan fakta terkini di Tiongkok.
Selama bertugas dan tinggal di Tiongkok, Zhang menyebutkan bahwa saya akan mendapat akses luas untuk mengeksplorasi berbagai hal.
Mulai dari bagaimana cara kerja media massa di sana, kebudayaan, sistem pendidikan, dunia perdagangan, hingga hal-hal relevan lainnya.
Tak hanya di ibu kota, saya juga dijadwalkan mengunjungi beberapa provinsi di wilayah Tiongkok.
“Jangan khawatir, Tiongkok adalah negara yang aman untuk ditinggali dan dikunjungi,” tambahnya sambil tersenyum meyakinkan.
Dukungan juga datang dari pimpinan di rumah media saya. Direktur Utama Jawa Pos Radar Bali, Justin M. Herman, sempat memanggil saya dan berpesan agar mengikuti program ini dengan serius dan penuh tanggung jawab.
“Banyak wartawan Jawa Pos dan Radar yang belajar ke Tiongkok. Kamu harus banyak belajar hal baru di sana,” pesannya saat itu.
Setiap tahunnya, CPDA menggelar dua kali tahapan program CIPCC.
Setiap gelombang diikuti oleh sekitar 100 jurnalis dari berbagai negara, dengan durasi kunjungan rata-rata selama tiga bulan.
Saya beruntung mendapatkan kesempatan mengikuti gelombang pertama ini.
Bersama saya, ada pula rekan jurnalis lain dari Indonesia, Nadia Ayu Soraya dari Metro TV.
Kami berdua akan berada dan bertugas di Tiongkok hingga pertengahan Agustus mendatang.
Perjalanan Menuju Beijing
Hari yang ditunggu pun tiba. Saya memulai perjalanan panjang ini dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada Senin (11/5) dini hari.
Pesawat China Eastern Airlines yang saya tumpangi lepas landas pukul 00.55 WITA.
Perjalanan ini tidak langsung membawa saya ke Beijing, namun harus transit terlebih dahulu di Kota Shanghai.
Pesawat terisi penuh oleh beragam penumpang. Banyak warga negara Tiongkok yang pulang kampung usai berlibur di Bali.
Namun tak sedikit pula Warga Negara Asing (WNA) yang memilih transit lewat Shanghai sebelum melanjutkan penerbangan kembali ke negara asalnya.
Dari percakapan samar yang saya dengar, ada yang hendak pulang ke Amerika Serikat, ada pula yang menuju Eropa maupun Rusia.
Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama terbang dalam waktu yang sangat lama.
Diperlukan waktu sekitar tujuh jam untuk menempuh perjalanan udara dari Denpasar hingga mendarat di Shanghai.
Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur untuk menghemat tenaga dan mengusir rasa bosan.
Setibanya di Bandara Internasional Shanghai Pudong, saya bergegas menuju meja pelayanan transit.
Pesawat lanjutan menuju Beijing baru akan lepas landas pukul 10.30 waktu setempat.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi transit, saya berjalan menuju gerbang imigrasi.
Jantung saya sempat berdegup kencang melihat antrean di depan.
Beberapa penumpang yang saya lihat sebelumnya harus menjalani pemeriksaan cukup lama dan rinci, mulai dari pengecekan visa hingga berbagai dokumen pendukung.
Melihat hal itu, saya pun bersiap sambil merogoh map merah yang sudah saya siapkan rapi di tas.
Di dalamnya tersimpan surat undangan resmi dan kontrak partisipasi program yang telah saya tanda tangani, lengkap dengan dua versi bahasa: Inggris dan Mandarin.
Tibalah giliran saya. Ternyata, petugas imigrasi Tiongkok sama sekali tidak banyak bertanya.
Ia hanya meminta saya melakukan perekaman sidik jari dan langsung membubuhkan stempel izin masuk.
Dokumen-dokumen penting yang sudah saya persiapkan sedemikian rupa itu ternyata tidak sempat ditanyakan atau diminta diperlihatkan.
Prosesnya sangat cepat, tidak sampai lima menit, dan map merah itu akhirnya kembali masuk ke dalam tas tanpa sempat dibuka.
Setelah menunggu beberapa puluh menit di ruang tunggu, saya kembali naik pesawat menuju Beijing.
Sekitar pukul 13.00 waktu setempat, pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing (Beijing Capital International Airport).
Ini adalah salah satu bandara tersibuk di dunia yang lokasinya berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Beijing.
Sebagai informasi, selain bandara ini, ada pula Bandara Internasional Beijing Daxing yang dibangun untuk memecah kepadatan, serta Bandara Beijing Xijiao yang sejak tahun 2019 tak lagi melayani penumpang sipil dan kini sepenuhnya digunakan untuk keperluan militer.
Begitu melangkah keluar dari gerbang kedatangan, saya disambut oleh seorang pria yang memegang kertas bertuliskan logo CIPCC.
Karena kendala bahasa, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberi isyarat tangan agar saya mengikutinya.
Saya pun mengekor di belakangnya. Namun, ada satu hal yang sempat membuat saya kewalahan: orang-orang di Tiongkok berjalan dengan langkah yang sangat cepat.
Akibatnya, saya sempat terengah-engah dan harus memberi isyarat agar ia berjalan sedikit lebih pelan menuju area parkir.
Perjalanan darat menuju pusat kota memakan waktu sekitar 30 menit.
Di dalam mobil, keheningan menyelimuti kami.
Saya tak bisa berbahasa Mandarin, sedangkan penjemput saya pun tak fasih berbahasa Inggris.
Akhirnya kami memilih diam. Saya sendiri lebih asyik memandangi pemandangan kota yang berlalu-lalang di luar jendela mobil.
Sekitar pukul 14.00, saya tiba di tujuan utama: Universitas Rakyat Tiongkok atau Renmin University of China.
Ini adalah salah satu kampus bergengsi di Tiongkok yang fokus pada bidang humaniora, ilmu sosial, termasuk kajian jurnalistik dan hubungan masyarakat.
Di kampus yang luas dan megah inilah saya bersama puluhan peserta lain dari berbagai negara akan tinggal dan menimba ilmu selama beberapa bulan ke depan.***
Editor : Donny Tabelak