Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (3)

Eka Prasetya • Senin, 18 Mei 2026 | 07:16 WIB
Stand yang dikelola mahasiswa Indonesia tampak menonjol dalam ajang International Cultural Exhibition di Universitas Rakyat Tiongkok, Beijing, Sabtu (16/5/2026) kemarin. (Foto Eka Prasetya)
Stand yang dikelola mahasiswa Indonesia tampak menonjol dalam ajang International Cultural Exhibition di Universitas Rakyat Tiongkok, Beijing, Sabtu (16/5/2026) kemarin. (Foto Eka Prasetya)

Aroma Nusantara Menggema di Pameran Budaya Internasional

Radarbadung.jawapos.com– Berada di negeri orang tanpa seorang pun kenalan, sempat membuat saya merasa kurang percaya diri.

Apalagi saat melawat ke Tiongkok, negara yang Bahasa Mandarin menjadi bahasa utama dalam setiap aspek kehidupan.

Berbekal kemampuan Bahasa Inggris saja ternyata tidak cukup untuk mengarungi hari-hari di sini.

Pada masa-masa awal berada di Beijing, saya sangat bergantung pada teknologi dan akses internet.

Untuk sekadar membeli makanan, cara saya cukup unik: memotret tampilan menu, lalu mengunggahnya ke aplikasi penerjemah.

Uniknya, saya lebih memilih menggunakan layanan dari situs asal Rusia, Yandex, dibandingkan Google. Alasannya sederhana: Google terasa kurang responsif di sini, sementara Yandex berjalan sangat lancar, terlebih lagi setelah ponsel saya menggunakan kartu SIM lokal Tiongkok.

Beberapa hari berlalu, saat sedang berbelanja di sebuah minimarket di lingkungan kampus, momen pertemuan tak terduga terjadi. Seorang perempuan muda menyapa, “Dari Indonesia ya?” tanyanya ramah. Saya pun mengiyakan dengan antusias.

Kami pun berkenalan. Namanya Laras, mahasiswa program Hubungan Masyarakat di Universitas Rakyat Tiongkok (Renmin University of China).

Kami pun bertukar kontak di WeChat, aplikasi pesan instan yang menjadi standar komunikasi di negeri ini.

Dari Laras, saya mendapat kabar menarik: para mahasiswa asal Indonesia akan membuka stan dalam ajang International Cultural Exhibition atau Pameran Budaya Internasional yang digelar di kawasan kampus pada Sabtu (16/5). Tanpa ragu, saya pun berjanji akan hadir.

Hari yang ditunggu pun tiba. Sabtu siang, saya melangkahkan kaki ke lokasi pameran yang berada di Taman Timur, hanya beberapa meter dari gerbang timur kampus.

Di sana, puluhan stan dari berbagai negara telah berdiri rapi.

Mulai dari Nigeria, Tajikistan, India, Brasil, Korea Selatan, Malaysia, hingga stan yang mengusung nama besar Indonesia.

Bukan hanya saya, sejumlah jurnalis lain yang turut serta dalam program China International Press Communication Center (CIPCC) juga ikut membaur dalam keramaian itu.

Salah satu peserta asal Bahrain tampil istimewa dengan mengenakan busana adat negaranya: Thobe atau tunik panjang putih bersih lengkap dengan sorban dan penutup kepala.

Penampilannya itu langsung membuatnya menjadi pusat perhatian, banyak mahasiswa lain yang berebut mengajak berfoto bersama.

Di tengah kerumunan, saya dengan mudah mengenali rekan-rekan mahasiswa asal Indonesia.

Para perempuan tampak anggun mengenakan kebaya dipadukan kain batik, sementara kaum pria tampil gagah dengan kemeja bermotif batik.

Laras sendiri tampak mempesona dengan kebaya dan kain songket khas Bali.

Saya pun mendekat dan menyapa mereka.

Ada Kiki, mahasiswa asal Yogyakarta yang kini menempuh pendidikan magister Ilmu Komunikasi di universitas ini.

Ia tampil memukau mengenakan busana adat Surjan lengkap dengan kain bawahan dan blangkon.

Penampilan Kiki dan Laras menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Busana mereka yang unik dan penuh makna menjadi representasi nyata kekayaan budaya Indonesia.

Kami pun sempat mengobrol panjang lebar, mulai dari membahas keindahan Bali sebagai daerah asal saya, hingga berbagi cerita tentang perjalanan mereka hingga bisa menempuh pendidikan di Tiongkok.

Suasana semakin hangat saat Kiki menawarkan hidangan yang membuat rindu tanah air: mi instan.

Ternyata, stan Indonesia hari itu menyajikan dua merek mi legendaris tanah air, Indomie dan Mie Sedaap.

Produk buatan dalam negeri ini ternyata telah diekspor hingga ke negeri tirai bambu dan menjadi primadona di kalangan perantau.

Saya pun memilih seporsi mi kuah rasa kari ayam.

Begitu suapan pertama masuk, rasa itu langsung memanjakan lidah dan mengobati kerinduan akan bumbu Nusantara. 

Memang, di Beijing makanan pun menggunakan rempah, namun rasanya tetap berbeda, terasa ada yang kurang “nendang” dibandingkan cita rasa Indonesia.

Di sisi lain, rekan saya, Nadia Ayu Soraya, jurnalis Metro TV yang juga peserta program CIPCC, memilih mi goreng. “Akhirnya ngerasain lagi makanan Indonesia,” ujar Nadia dengan wajah puas.

Selain mi instan yang menjadi bintang utama, stan itu juga menyajikan es buah segar, kopi, serta berbagai materi informasi pariwisata Indonesia.

Sepanjang hari itu, stan mahasiswa Indonesia tak pernah sepi pengunjung.

Mulai dari yang datang khusus untuk memuaskan kerinduan akan rasa mi instan, mencari informasi destinasi wisata, hingga yang berburu camilan wafer khas Indonesia yang dikenal memiliki rasa keju lebih kental dan gurih, hingga akhirnya stok makanan ringan itu ludes diserbu pengunjung.***

Editor : Donny Tabelak
#jurnalis #mahasiswa #china #jawa pos radar bali #wartawan