Ikut Kelas Bahasa Mandarin Agar Komunikasi Makin Lancar
Radarbadung.jawapos.com- Modal kemampuan berbahasa Inggris ternyata belum cukup untuk berkeliling di Tiongkok.
Jumlah penutur asing di negara ini terbilang tidak banyak, bahkan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan apa yang biasa kita temui di Bali.
Sebagai gambaran, di Bali cukup banyak masyarakat yang memahami Bahasa Inggris, setidaknya untuk percakapan dasar.
Apalagi bagi mereka yang bekerja di sektor pelayanan atau bagian depan (front office), pemahaman bahasa asing ini sudah sangat umum.
Kondisi yang berbeda justru saya temukan saat berada di Tiongkok.
Memang, ketika baru tiba di Bandara Internasional Pudong Shanghai maupun Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, petugas masih cukup fasih berbahasa Inggris.
Namun, begitu masuk ke lingkungan kampus, jumlah orang yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris menurun drastis.
Alhasil, komunikasi berbahasa Inggris hanya bisa saya lakukan dengan sesama rekan jurnalis atau dengan dua pemandu yang mendampingi rombongan kami dari kawasan Asia Pasifik.
Selebihnya, saya sangat bergantung pada layanan penerjemah yang disediakan oleh mesin pencari Yandex.
Misalnya saat hendak memesan makanan. Caranya, saya akan memotret daftar menu, menerjemahkannya lewat aplikasi untuk mengubah huruf Mandarin, lalu cukup menunjuk hidangan yang saya inginkan kepada pelayan di restoran atau kantin.
Meski lebih banyak berkomunikasi secara non-verbal, cara ini cukup efektif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kabar menariknya, dalam rangkaian kegiatan program CIPCC kali ini, kami para jurnalis justru mendapat kesempatan istimewa untuk mengikuti kelas Bahasa Mandarin.
Melalui pembelajaran ini, kami diharapkan mampu berkomunikasi dengan lebih mudah dan efektif saat berinteraksi dengan warga lokal, baik di dalam lingkungan kampus maupun saat beraktivitas di luar.
Kelas Bahasa Mandarin tersebut digelar di Gedung Lide, yang terletak di sisi timur kompleks kampus Universitas Rakyat Tiongkok (Renmin University of China).
Dari apartemen tempat saya tinggal di ujung barat kampus, saya perlu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk sampai ke lokasi kelas di ujung timur kampus.
Pada pertemuan pertama yang berlangsung Senin (18/5) lalu, rombongan jurnalis dari Asia Pasifik digabung dalam satu kelas bersama rekan-rekan jurnalis dari kawasan Karibia.
Hari itu, materi pengajaran dibawakan oleh seorang pengajar Bahasa Mandarin bernama Shu An.
Dari Bu Shu An, saya baru memahami bahwa setiap huruf dalam Bahasa Mandarin memiliki empat variasi intonasi pengucapan.
Yaitu ā dengan intonasi datar, á dengan intonasi naik, ǎ dengan intonasi turun-naik, dan à dengan intonasi turun.
Perbedaan intonasi ini sangat krusial dan sangat memengaruhi arti kata yang diucapkan.
Pada sesi pertama ini, kami juga mempelajari sejumlah kosa kata sederhana yang biasa digunakan untuk menyapa atau bertegur sapa.
Seperti nǐ hǎo dan nǐn hǎo yang artinya "apa kabar" atau "halo", wǒ yang berarti "saya", nǐmen artinya "kalian", duìbuqǐ bermakna "permisi" atau "maaf", serta búkèqi yang berarti "tidak masalah" atau "sama-sama".
Proses pembelajaran dikemas secara interaktif.
Kami tidak hanya diminta membaca, mengucapkan, atau sekadar menghafal, tetapi juga langsung mempraktikkannya dalam bentuk percakapan-percakapan pendek sederhana.
Kendati berlangsung selama 3,5 jam, seluruh proses belajar mengajar berjalan sangat menyenangkan dan terasa singkat.
Semangat belajar ini ternyata menular ke semua peserta.
Bahkan, salah satu jurnalis dari Malaysia, Siti Zanariah Nor, berseloroh bahwa ia berniat melanjutkan kursus Bahasa Mandarin kembali begitu tiba di negaranya nanti.
"Di Malaysia banyak sekali teman-teman yang berbahasa Mandarin. Di sini saya dapat bekal dasar, nanti pas kembali ke Malaysia, saya bisa ambil kelas lanjutan (tingkat lanjut)," ujar Zana sambil tertawa gembira.***