Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (6)

Eka Prasetya • Kamis, 21 Mei 2026 | 15:47 WIB
Para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) yang berasal dari kawasan Asia Pasifik berfoto bersama di depan Museum Partai Komunis Tiongkok, salah satu museum terbesar yang menyajikan perjalanan sejarah bangsa Tiongkok.(Foto Eka Prasetya) 
Para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) yang berasal dari kawasan Asia Pasifik berfoto bersama di depan Museum Partai Komunis Tiongkok, salah satu museum terbesar yang menyajikan perjalanan sejarah bangsa Tiongkok.(Foto Eka Prasetya) 

Napak Tilas Sejarah dan Kemajuan Tiongkok Lewat Pameran Masif di Museum Partai Komunis

Radarbadung.jawapos.com- Rangkaian kegiatan program China International Press Communication Center (CIPCC) yang diikuti para jurnalis dari berbagai negara sangat padat dan beragam.

Setiap hari selalu ada agenda yang menanti, kecuali pada akhir pekan.

Mulai dari sesi kuliah dan diskusi di ruang kelas, hingga kunjungan langsung ke berbagai lokasi di luar kampus.

Pada Selasa (19/5) lalu, kami para jurnalis kembali mendapatkan kesempatan melakukan kunjungan lapangan.

Jika sebelumnya pada Sabtu (16/5) kami berkesempatan melihat pusat pengobatan herbal di Beijing, kali ini rombongan diajak berkunjung ke sebuah museum bersejarah.

Tepatnya ke Museum Partai Komunis Tiongkok (Museum of the Communist Party of China).

Sesuai namanya, museum ini memang didedikasikan untuk mendokumentasikan sejarah, perjuangan, dan perkembangan Partai Komunis Tiongkok — partai yang telah menjadi penguasa utama di negeri Tirai Bambu selama puluhan tahun dan kini telah berusia lebih dari satu abad.

Meski fokus utamanya pada sejarah partai, museum ini juga menyimpan dan memamerkan berbagai aspek penting lain yang tak terpisahkan dari perjalanan berdirinya negara Republik Rakyat Tiongkok, hingga tahap perkembangan teknologi dan kemajuan yang dicapai negara tersebut saat ini.

Lokasi museum ini pun sangat strategis, berada di kawasan pusat olahraga Beijing.

Kawasan ini sudah dikenal dunia sebagai lokasi penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2008, serta ajang Olimpiade Musim Dingin 2022 yang baru saja digelar.

Dibuka secara resmi sejak tahun 2021 lalu, bangunan museum ini memiliki ukuran yang sangat besar dan megah.

Gedungnya terdiri dari empat lantai dengan total luas mencapai 147 ribu meter persegi. Luas wilayah ini setara dengan 20 kali ukuran lapangan sepak bola standar.

Karena skalanya yang sangat masif, sejumlah rekan jurnalis dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik mengaku tak pernah melihat museum dengan ukuran sebesar ini di negara asalnya.

“Di negara kami ada museum, tapi tidak sebesar ini. Museum ini benar-benar masif,” ungkap Ram B. Rawal, jurnalis asal Nepal yang turut dalam rombongan.

Hal senada juga diungkapkan Siti Zanariah Nor Zin, wartawan Kantor Berita Bernama asal Malaysia.

“Di Malaysia juga ada museum nasional, tapi ukurannya tidak sebesar milik Tiongkok ini,” katanya mengagumi.

Secara garis besar, koleksi dan ruang pamer di museum ini dibagi ke dalam empat tema besar yang berbeda.

Alur ceritanya runtut, mulai dari proses kelahiran dan perkembangan partai komunis di Tiongkok, perjalanan panjang hingga berdirinya negara Republik Rakyat Tiongkok, masuknya era baru sosialisme, hingga perjalanan panjang yang akhirnya membawa Tiongkok menjadi salah satu negara adidaya ekonomi dan teknologi seperti yang terlihat saat ini.

Setiap harinya, museum ini tak pernah sepi pengunjung dari warga lokal.

Bahkan saat rombongan kami berkunjung pada Selasa pagi, sudah ada ratusan warga yang antre menunggu giliran masuk untuk menelusuri sejarah negaranya.

Pihak pengelola museum telah menyiapkan pemandu atau pendamping yang berdiri di berbagai sudut ruang pamer dan diorama.

Mereka siap menjelaskan secara rinci arti dan sejarah dari setiap artefak yang dipajang. Lebih memudahkan lagi, tersedia pula penerjemah Bahasa Inggris yang siap mendampingi, sehingga kami para jurnalis dari luar Tiongkok dapat lebih mudah memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan di museum ini.

Koleksi artefak yang dipamerkan pun sangat lengkap dan beragam.

Mulai dari benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Karl Marx — penggagas pemikiran Marxisme, dokumentasi revolusi dan perang saudara Tiongkok, momen berdirinya negara Republik Rakyat Tiongkok, senjata-senjata yang digunakan selama masa revolusi, hingga perkembangan alutsista canggih buatan Tiongkok di era modern.

Ada juga miniatur armada kapal perang, koleksi benda peninggalan ajang Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin, serta berbagai diorama yang menggambarkan pesatnya perkembangan teknologi di Tiongkok.

Tak ketinggalan, di salah satu sudut ruangan, terdapat diorama khusus yang menceritakan perjuangan bangsa Tiongkok saat menghadapi pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, pandemi ini pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei.

Diorama tersebut mengisahkan peran serta dan perjuangan para militer serta tenaga medis yang dikerahkan untuk menekan laju penyebaran virus dan menangani warga yang terdampak.

Kisah sejarah yang dipamerkan mencakup rentang waktu yang panjang, mulai dari artefak tertua yang berasal dari tahun 1840, terus berlanjut hingga ke tahun 2021.

Hingga kini, pihak museum masih terus mengumpulkan dan menambah koleksi artefak baru seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan dinamika negara.

Salah satu momen kunjungan yang paling tak terlupakan adalah ketika kami para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, Karibia, Eurasia, dan Eropa Timur diberi kesempatan mencoba wahana layanan interaktif yang ada di dalam museum tersebut.

Para peserta diminta duduk di kursi yang dirancang mirip dengan kereta luncur atau roller coaster.

Selanjutnya, kursi itu membawa kami masuk ke dalam sebuah ruangan berbentuk kapsul yang seluruh dindingnya dilapisi layar panel LED raksasa.

Panel ini digunakan untuk memutar video dokumenter berdurasi pendek tentang keindahan dan kemajuan Tiongkok.

Sementara itu, tempat duduk kami bergerak dinamis mengikuti irama dan gerakan kamera drone yang ada dalam video tersebut 

Ada dua video menarik yang kami saksikan.

Video pertama berjudul Beautiful of China, yang menampilkan pemandangan tempat-tempat ikonik di seluruh provinsi Tiongkok.

Mulai dari keindahan alam Tibet, aliran Sungai Yangtze, Sungai Kuning, pesisir Xiamen, hingga tempat-tempat indah lainnya.

Kesan interaktifnya sangat kuat; saat video memperlihatkan keindahan Air Terjun Hukao, kami seolah benar-benar merasakan percikan air yang menyentuh wajah.

Sementara itu, video kedua berjudul Chasing Chinese Dream – New Era of China.

Video ini menyajikan berbagai pembangunan infrastruktur monumental serta kemajuan pesat teknologi di Tiongkok.

Mulai dari perkembangan di bidang ekonomi, kekuatan militer, penelitian kelautan dan bawah laut, hingga keberhasilan eksplorasi luar angkasa.***

Editor : Donny Tabelak
#jurnalis #china #jawa pos radar bali