Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (7)

Eka Prasetya • Jumat, 22 Mei 2026 | 06:25 WIB
Para peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Zhima Health, salah satu pusat pengobatan dan produk herbal terbesar yang ada di Beijing, Tiongkok.(Foto Eka Prasetya) 
Para peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Zhima Health, salah satu pusat pengobatan dan produk herbal terbesar yang ada di Beijing, Tiongkok.(Foto Eka Prasetya) 

Di Tiongkok, Herbal Bukan Sekadar Obat, Tapi Sudah Menjadi Gaya Hidup Sehat

Radarbadung.jawapos.com– Bagi masyarakat Tiongkok, tanaman obat atau herbal bukan sekadar ramuan pengobatan tradisional, melainkan sudah menyatu menjadi gaya hidup dan budaya menjaga kesehatan sehari-hari.

Hal ini terlihat jelas saat rombongan jurnalis yang tergabung dalam kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC), termasuk jurnalis Jawa Pos Radar Bali, berkesempatan mengunjungi Zhima Health, salah satu pusat herbal terbesar di Beijing, Sabtu (16/5) lalu. 

Di tempat ini, berbagai jenis tanaman obat dan rempah-rempah tersedia lengkap.

Mulai dari jenis yang umum dikenal dan dibudidayakan seperti kayu manis, jahe, dan biji teratai, hingga tanaman herbal yang populer khas Tiongkok seperti ginseng.

Uniknya, koleksi yang ada tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga memanfaatkan kekayaan laut, salah satunya adalah teripang atau timun laut yang juga memiliki khasiat kesehatan tinggi.

Zhima Health dikenal mampu memadukan kekayaan ramuan tradisional dengan pola kehidupan masyarakat modern.

Pendekatan ini membuat nilai dan manfaat herbal tetap relevan, diminati, dan terus diaplikasikan dalam keseharian masyarakat Beijing hingga saat ini.

Untuk menjamin kualitas dan menjaga kemurnian khasiat bahan yang disediakan, tempat ini menerapkan cara penanganan khusus.

Kertas dan wadah dari tembaga menjadi material utama yang digunakan. Relawan di sana akan meletakkan berbagai jenis herbal di atas kertas saat hendak diperlihatkan kepada pengunjung.

Sementara itu, tembaga digunakan sebagai bahan wadah alat penumbuk atau penghalus herbal, karena dinilai tidak bereaksi dan merusak zat aktif yang terkandung di dalamnya.

Pemanfaatan herbal di negeri ini ternyata sangat luas jangkauannya, hampir menyentuh segala aspek kehidupan.

Tidak hanya diolah menjadi jamu atau obat, herbal juga dicampurkan ke dalam bahan makanan, minuman, bahkan hingga ke perlengkapan tidur.

"Sangat umum bagi masyarakat Tiongkok memiliki sarung bantal yang dilengkapi kantong khusus untuk menyimpan beragam rempah. Jadi, saat tidur kita bisa terus menghirup aroma khas herbal tersebut. Hal ini sangat baik untuk menjaga kesehatan, apalagi saat tidur kondisi tubuh kita sedang dalam keadaan rileks dan menyerap manfaat dengan lebih baik," jelas salah satu staf pemandu di Zhima Health.

Inovasi pemanfaatan ini juga terlihat pada olahan minuman.

Sebagai contoh, untuk minuman sejenis kopi, Zhima Health menggunakan Luo Han Guo atau yang dikenal juga sebagai buah biksu (Momordica grosvenori) sebagai pemanis alami.

Tanaman dari suku labu-labuan ini sudah lama menjadi bagian dari pengobatan tradisional Tiongkok dan dipercaya ampuh meredakan keluhan panas dalam, sakit tenggorokan, hingga mengencerkan dahak.

Tak hanya minuman, dunia kuliner pun tak luput dari sentuhan herbal. Dalam pembuatan roti dan kue, berbagai bahan alami dicampurkan, seperti bunga kamelia, goji beri, biji teratai, hingga madu alami.

Penulis sendiri sempat mencicipi beberapa produk olahan mereka, seperti Taro Yam Soft Bread dan Soft Bread.

Perpaduan bahan-bahan herbal tersebut menciptakan rasa yang unik, namun tetap lezat dan aman dikonsumsi.

Kawther, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, membenarkan bahwa pemanfaatan herbal di Tiongkok sudah sangat mendalam dan luas.

Wanita asal Yaman yang telah puluhan tahun menetap di Tiongkok ini mengaku awalnya sempat kaget dengan pola pengobatan yang berbeda dengan kebiasaan di negaranya.

"Dulu kami hanya mengenal obat-obatan berbahan kimia. Namun di sini, masyarakat lebih memprioritaskan penggunaan herbal sebagai alternatif utama pengobatan.

Awalnya memang terasa asing dan butuh waktu penyesuaian yang cukup panjang.

Namun, setelah terbiasa dan merasakan manfaatnya, kami justru merasa kondisi tubuh menjadi jauh lebih baik," ungkap Kawther.

Hal senada disampaikan oleh Edison Wang, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Beijing.

Menurutnya, keberadaan herbal sudah melekat kuat dalam setiap sendi kehidupan warga Tiongkok, baik untuk konsumsi harian maupun pengobatan.

Ia mencontohkan, saat memasak pun masyarakat selalu memikirkan manfaat kesehatan dari bumbu dan rempah yang digunakan, karena percaya bahwa makanan adalah sumber kesehatan utama.

"Pengobatan Tradisional Tiongkok atau yang dikenal dengan istilah Traditional Chinese Medicine (TCM) kini sudah menjadi pengetahuan global, tidak hanya dikenal di sini saja. Bagi saya, penggunaan herbal ini sudah menjadi gaya hidup untuk menjaga kebugaran tubuh," ujar Edison.

Ia mengibaratkan pengobatan dengan herbal sama halnya dengan mempercayakan alam untuk menyembuhkan manusia. Banyak tanaman obat yang tumbuh liar maupun dibudidayakan di sekitar pemukiman yang bisa dimanfaatkan.

Keunggulan lain yang membuat herbal tetap menjadi pilihan utama adalah tingkat keamanannya.

"TCM adalah pilihan pengobatan yang sangat bijak. Di Tiongkok, untuk keluhan kesehatan ringan seperti flu, demam, atau batuk pilek biasa, herbal selalu menjadi opsi pertama. Alasannya sederhana, khasiatnya efektif dan efek samping yang ditimbulkan sangatlah rendah dibandingkan obat lainnya," pungkas Edison Wang.***

Editor : Donny Tabelak
#jurnalis #herbal #china #jawa pos radar bali