Melawat ke Museum Kota Fuyang, Serba Atraktif dan Interaktif
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Kota Fuyang di Provinsi Anhui, Tiongkok, memiliki destinasi yang wajib dikunjungi. Destinasi itu adalah Fuyang City Museum atau Museum Kota Fuyang.
Meski bernama Museum Kota Fuyang, namun museum ini menyimpan berbagai jejak peradaban, khususnya di Provinsi Anhui.
Museum ini sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1958.
Museum Kota Fuyang bahkan diakui sebagai salah satu museum yang paling komprehensif untuk ukuran museum tingkat kota.
Sejak 2017 pemerintah memutuskan melakukan renovasi besar-besaran terhadap museum itu.
Pemerintah mendirikan museum di lokasi baru, yakni di Taman Teluk Shuangqing, Distrik Baru Chengnan. Lokasinya bisa ditempuh sekitar 15 menit perjalanan dari Bandara Fuyang.
Setelah lima tahun proses pembangunan, pemerintah mulai melakukan uji coba sejak Oktober 2022.
Baru pada Oktober 2023 museum dibuka secara penuh kepada publik.
Hingga akhir 2025, museum tersebut telah dikunjungi lebih dari 1,8 juta pengunjung.
Untuk ukuran museum kota, luas area cukup masif.
Mencapai 34 ribu meter persegi, atau setara dengan lima kali lipat luas lapangan sepakbola.
Total ada empat lantai di area tersebut. Lantai satu digunakan untuk aktivitas publik, sementara lantai dua hingga empat menjadi ruang pameran.
Bagi saya, salah satu yang menarik adalah replika gading mammoth. Konon di Provinsi Anhui dulunya terdapat mammoth.
Tak hanya itu, di Kota Fuyang juga ditemukan fosil dari Paleoloxodon atau gajar purba.
Fosil itu menjadi salah satu pusat perhatian di museum.
Koleksi yang ditampilkan cukup komprehensif.
Mulai dari masa prasejarah, masa berburu, Dinasti Han, hingga perkembangan kota.
Bahkan lantai empat didedikasikan khusus untuk gerakan revolusi melawan Jepang yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok di Fuyang.
Selain gading mammoth, ada juga kerajinan gerabah perunggu berjudul “The Dragon and Tiger Statue” yang menjadi ikon di museum tersebut.
Gerabah itu digunakan pada masa Dinasti Shang untuk kegiatan ritual. Di gerabah terdapat ukiran manusia yang kepalanya dilahap oleh harimau purba.
Sementara di bagian leher terdapat ukiran naga.
“Mungkin artefak tersebut menggambarkan kondisi kehidupan setelah meninggal. Karena artefak digunakan untuk ritual. Yang dipamerkan di museum ini hanya replika, karena gerabah yang asli dipamerkan di museum nasional,” kata Liu Jian Sheng, Manajer Museum Kota Fuyang.
Selain itu terdapat pula artefak perunggu yang diyakini berasal dari masa dua ribu tahun lalu.
Artefak perunggu itu disebut sebagi alat astrologi pertama dalam kehidupan masyarakat Tiongkok untuk mengidentifikasi bulan, bintang, maupun cuaca.
Ada juga ada artefak lain. Seperti vas, gerabah, porselen, hingga giok.
Bahkan ada satu lantai yang digunakan untuk mengabadikan perang revolusi yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok melawan Jepang di Kota Fuyang.
Museum tersebut sangat interaktif. Meski tidak terlalu modern seperti Museum Partai Komunis Tiongkok di Beijing, tapi koleksi museum sudah ramah bagi wisatawan mancanegara.
Setiap artefak dilengkapi dengan judul berabjad latin dalam berbahasa Inggris. Tak melulu menggunakan huruf mandarin.
Selain itu hampir setiap koleksi dilengkapi dengan QR code yang berisikan penjelasan melalui suara.
Cukup scan QR code menggunakan aplikasi WeChat, maka rekaman suara itu bisa didengar.
Sayangnya rekaman suara itu baru sebatas Bahasa Mandarin.
Sebagai pusat peninggalan sejarah terbesar di Provinsi Anhui, Museum Kota Fuyang menyimpan ratusan ribu artefak.
Pihak museum mencatat ada 130 ribu artefak, 2.622 peninggalan budaya dan sejarah yang berharga, serta 47 set peninggalan budaya nasional.
Museum juga menampung 5.226 potongan bambu dan kayu dari Dinasti Han Barat.
Di antaranya 13 jilid seperti The Book of Songs dan the Book of Changes telah dipilih ke dalam daftar nasional buku-buku kuno yang berharga untuk dilindungi.
“Saat ini museum menjadi pusat layanan pariwisata dan Kerjasama internasional. Museum ini juga menjadi pusat pendidikan untuk universitas yang ada di Tiongkok,” jelas Liu Jian Sheng.
Jurnalis dari Kamboja, Pheng Somany mengaku kunjungan itu sangat menyenangkan.
Ia menyebut kunjungan ke Musuem Kota Fuyang merupakan pengalaman berbeda dari kunjungan ke Museum Partai Komunis Tiongkok beberapa waktu lalu.
“Di sini saya melihat berbagai peninggalan peradaban Tiongkok dari masa prasejarah sampai modern. Ini memberi saya banyak pengetahuan tentang peradaban masyarakat Tiongkok,” ujarnya.***
Editor : Donny Tabelak