Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (16) 

Eka Prasetya • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:06 WIB
Salah seorang perajin anyaman dedalu memperagakan proses pembuatan anyaman di Gedung Pameran Anyaman Dedalu Huanggang. (Foto Eka Prasetya) 
Salah seorang perajin anyaman dedalu memperagakan proses pembuatan anyaman di Gedung Pameran Anyaman Dedalu Huanggang. (Foto Eka Prasetya) 

Berawal Dari Daerah Langganan Banjir, Kini Menjadi Salah Satu Pusat Ekspor Kerajinan

Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Sejak beberapa tahun belakangan lekat dengan perkembangan teknologi.

Kendati teknologi berkembang pesat, tapi hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi rakyat tetap dijaga. Salah satunya kerajinan anyaman.

Dalam program CIPCC, kami para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, mendapat kesempatan mengunjungi salah satu pusat kerajinan anyaman di Provinsi Anhui, Tiongkok.

Pusat kerajinan anyaman itu berada di Kabupaten Funan, Provinsi Anhui.

Lokasi ini dapat ditempuh dalam waktu 40 menit perjalanan dari Kota Fuyang.

Pusat kerajinan yang kami kunjungi adalah Huanggang Willow Weaving Intangible Cultural Heritage Exhibition Hall atau Gedung Pameran Warisan Budaya Tak Benda Anyaman Dedalu Huanggang.

Ya, kerajinan anyaman itu diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah Tiongkok.

Saat pertama kali melihat kerajinan itu, saya langsung teringat dengan kerajinan anyaman rotan yang banyak dipajang di Kabupaten Gianyar.

Namun setelah saya raba, karakter bahan yang digunakan berbeda.

Bahan yang digunakan adalah batang dedalu (Salix alba).

Tanaman ini banyak ditemukan di bantaran sungai Kabupaten Tabanan.

Tanaman itu akan tumbuh dan berdiri tegak menjulang di kawasan rawa dan tepian sungai.

Tanaman yang serupa semak, bisa menjulang dengan tinggi sekitar 2,5 meter.

Sementara yang serupa pepohonan, bisa tumbuh lebih tinggi lagi.

Teksturnya pun berbeda dengan rotan. Tekstur dedalu justru terasa lebih dekat dengan bambu.

Namun tanaman ini tidak memiliki rongga sebagaimana lazimnya bambu.

Kerajinan anyaman dedalu ini diyakini sudah eksis di Tiongkok sejak lebih dari 500 tahun silam.

Khusus di Provinsi Anhui, kerajinan ini setidaknya ditemukan di enam kawasan administratif yang berbeda.

Khusus di Kabupaten Funan, tanaman dedalu banyak ditemukan di kawasan ini karena dulunya dikenal sebagai daerah rawa dan langganan banjir.

Pada masa lalu, setiap 10 tahun sekali kawasan tersebut selalu terendam banjir besar.

Alhasil tanaman air seperti dedalu tumbuh subur.

Sejak pemerintah Tiongkok membuat dam di Funan, banjir relatif bisa dikendalikan.

Pada masa pra kemerdekaan Tiongkok, masyarakat setempat menggunakan pohon dedalu sebagai sarana membuat barang sehari-hari.

Keranjang, wadah nasi, tempat penyimpanan makanan, tempat duduk, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, produk kerajinan mulai menjadi sumber penghidupan masyarakat, meski terbatas.

Namun sejak Canton Fair digelar di Guangzhou, Tiongkok, pada tahun 1957 silam, kerajinan anyaman dedalu langsung naik kelas.

Produk tersebut menembus pasar ekspor yang dibawa ke berbagai negara.

Kerajinan itu kini berhasil menembus Amerika Serikat dan Kanada, Arab Saudi, Jerman, Inggris, hingga Spanyol.

Di kawasan Asia Pasifik, produk tersebut diekspor ke Australia, Pakistan, Myanmar, dan Thailand.

“Awalnya kerajinan ini memang hanya bisnis kecil rumah tangga, tapi sejak ada Canton Fair masyarakat bisa merasakan nilai tambah karena ekspor kerajinan,” kata Sun Chuan Gui, Anggota Komite Warisan Budaya Provinsi Anhui.

Saat menyusuri gedung pameran mata saya menyapu setiap produk kerajinan.

Ada lebih dari 500 jenis koleksi yang dipamerkan.

Salah satu hal yang menarik adalah foto masyarakat Tiongkok masa lampau yang melakukan kerajinan. Foto tertua disebut berusia sekitar 150 tahun.

Di sana kami juga melihat video proses pembuatan kerajinan anyaman dedalu. Prosesnya dimulai cukup Panjang.

Mulai dari panen tanaman di bantaran Sungai, mengupas batang tanaman, pemilahan tanaman berdasarkan ukuran diameter, perendaman batang dedalu, proses penganyaman, pengawetan, pewarnaan, hingga pengeringan.

Teknik yang digunakan dalam proses anyaman juga sangat beragam.

Hingga 2025 tercatat ada 10 jenis metode anyaman. Yakni anyaman ranting (wit weaving), anyaman rapat atau tekan (squeeze weaving), anyaman helai (strand weaving), anyaman baris (row weaving), anyaman pilin (twist weaving), anyaman rangka (spike weaving), anyaman polos (plain waiving), anyaman taffeta (taffeta weaving), anyaman pakan (waft weaving), serta anyaman berpola (pattern waving).

Saat melihat proses pembuatan anyaman itu saya langsung teringat dengan proses kerajinan anyaman bambu di kawasan Bali Aga Buleleng yang meliputi Desa Sidetapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyuseri alias SCTPB.

Kawasan ini juga memiliki kerajinan anyaman skala rumahan.

Proses pembuatan anyaman di Funan, Tiongkok, amat sangat mirip dengan di kawasan Bali Aga Buleleng. Perbedaannya hanya pada bahan dasar.

Dengan pengelolaan yang lebih serius, saya pun yakin kerajinan di kawasan tersebut bisa menembus pasar ekspor dengan lebih masif lagi.

Kembali lagi ke kerajinan anyaman dedalu, pemerintah setempat punya kiat khusus untuk melakukan pelestarian.

Caranya memasukkan anyaman dedalu sebagai salah satu mata pelajaran wajib di sekolah.

Pemerintah juga terus melakukan pelatihan kepada para perajin.

Selain itu akademisi dan peneliti dilibatkan dalam pengembangan motif lain.

“Kerajinan ini adalah bagian dari budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat di Funan. Sehingga berbagai cara dilakukan agar kerajinan ini tetap relevan dengan kehidupan masyarakat,” ungkap Sun Chuan Gui.

Hingga kini, tercatat ada 60 perusahaan anyaman yang eksis di Kabupaten Funan.

Dari 60 perusahaan tersebut, sebanyak 18 perusahaan yang fokus pada anyaman dedalu.

Sementara selebihnya mulai melakukan penyesuaian bahan baku ke rotan, bambu, kayu, maupun plastik. Mengingat bahan baku dedalu sangat terbatas.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #kerajinan #jurnalis #china #jawa pos radar bali