Dari Jiaozi hingga Huo Guo: Belajar Bahasa Mandarin yang Berujung Ujian Menahan Lapar
Radarbadung.jawapos.com- Setelah satu minggu penuh beraktivitas di Provinsi Anhui, saya beserta rekan-rekan jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) kembali melanjutkan rangkaian kegiatan di Beijing.
Sebagian besar agenda kini berpusat di lingkungan kampus Universitas Rakyat Tiongkok (Renmin University of China).
Beragam kegiatan telah disiapkan panitia, mulai dari berbincang dengan jurnalis jaringan media China Global Television Network (CGTN), mengikuti latihan seni bela diri Tai Chi, berkunjung ke situs bersejarah Tembok Besar, hingga satu agenda yang selalu ditunggu sekaligus menjadi tantangan tersendiri: kelas Bahasa Mandarin.
Setelah sempat mengikuti dua sesi pembelajaran dua minggu sebelumnya, pada Kamis (4/6) lalu kami kembali melanjutkan pelajaran kali ini.
Jika sebelumnya satu kelas bersama rekan-rekan jurnalis dari kawasan Karibia, kali ini kami bergabung dengan peserta dari wilayah Eropa.
Seperti biasa, kelas dilaksanakan di Gedung Lide yang terletak di sisi timur kampus.
Biasanya kami belajar di lantai lima, namun untuk sesi ini ruang kelas dipindahkan ke lantai sepuluh.
Pengajarnya pun berbeda, kali ini didampingi oleh Pi Jian Xuan, seorang guru muda yang membimbing kami mempelajari kosa kata seputar dunia kuliner dan cara memesan makanan.
Tujuan pembelajaran kali ini jelas: agar kami dapat memesan dan memilih hidangan secara mandiri tanpa harus terus bergantung pada cara praktis yang banyak digunakan saat ini.
“Saya ingin kalian nanti bisa lancar berkomunikasi saat memesan makanan,” ujar Jian Xuan di hadapan kelas.
Memang, belakangan ini cara memesan makanan di Tiongkok banyak berubah.
Sebagian besar restoran sudah menggunakan sistem pemindaian kode QR melalui aplikasi dompet digital seperti AliPay atau WeChat.
Namun, masih banyak tempat makan sederhana atau pedagang kaki lima yang tetap menyediakan menu berbentuk lembaran atau buku, sehingga kemampuan berbahasa tetap sangat dibutuhkan.
Dalam pelajaran tersebut, saya mempelajari beragam istilah baru. Mulai dari jiaozi yang berarti pangsit, huo guo untuk menyebut masakan kuah panas atau hot pot, dou fu yang artinya tahu, mi fan berarti nasi, hingga dam ke le yang merujuk pada minuman bersoda.
Suasana kelas semakin hidup saat sesi praktik berperan dimulai.
Sebagian teman berperan sebagai pembeli, sedangkan yang lain menjadi pelayan restoran.
Saya sendiri memilih menjadi pelayan karena merasa lebih mudah menyampaikan kalimat sapaan dan penawaran makanan, sekaligus mempelajari cara merespons permintaan hingga menyampaikan tagihan pesanan.
Namun, ada satu “tantangan tersembunyi” yang muncul di tengah kelas ini.
Karena topik pembahasannya terus berkutat soal makanan dan rasa, secara tiba-tiba perut terasa lebih cepat lapar daripada biasanya.
Padahal sebelum masuk kelas saya sudah sempat menyantap camilan.
Namun, keinginan untuk segera makan rasanya tak terbendung begitu saja.
Rasa lapar ini ternyata dirasakan juga oleh Saurabh Kumar Shahi, rekan jurnalis asal India.
Ia pun mengaku perutnya mulai “berontak” mendengar penjelasan tentang berbagai jenis hidangan.
“Begitu selesai kelas ini saya langsung menuju pusat jajanan. Terlalu banyak membicarakan makanan bikin perut saya tak tahan lagi,” ujarnya sambil tertawa lepas.***