Menyusuri Jejak Perkembangan Media Global di Beijing: Dari Dialog Jurnalis hingga Museum Komunikasi
Radarbadung.jawapos.com- Tak ada hari yang terasa lengang selama mengikuti program ini.
Hampir setiap hari selalu ada agenda yang menanti, hanya akhir pekan yang menjadi waktu jeda bagi seluruh peserta.
Meski jadwal terasa padat, setiap rangkaian kegiatan terasa menyenangkan dan membuka wawasan baru mengenai berbagai sisi Tiongkok, dunia jurnalisme, lanskap media massa, serta perspektif komunikasi internasional.
Pada Jumat (5/6), saya bersama rekan-rekan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Eurasia mendapat kesempatan berkunjung ke Communication University of China (CUC).
Kampus ini merupakan salah satu perguruan tinggi bergengsi yang terletak di bagian timur kota Beijing.
Dahulu, lembaga ini lebih dikenal dengan nama Beijing Broadcasting Institute dan menjadi tempat pendidikan tenaga penyiaran untuk media-media di Tiongkok.
Pada tahun 2004, melalui Kementerian Pendidikan, lembaga ini ditingkatkan statusnya menjadi universitas.
Sejak lama, CUC dikenal sebagai tempat mencetak talenta terbaik di bidang jurnalisme, penyiaran, media massa, hingga industri ekonomi kreatif yang kini sedang berkembang pesat.
Bahkan, kampus ini juga menyediakan program pendidikan internasional dalam bahasa Inggris, khususnya untuk jurusan jurnalistik dan penyiaran.
Di hari kunjungan tersebut, kami mengikuti kegiatan bernama “Global Journalists Salon” atau Ruang Pertemuan Jurnalis Global. Kegiatan ini dibagi menjadi tiga kelompok diskusi berdasarkan wilayah dan bahasa yang digunakan: kelompok Asia Pasifik menggunakan bahasa Inggris, kelompok Afrika menggunakan bahasa Prancis, sedangkan kelompok Eurasia menggunakan bahasa Rusia.
Wakil Rektor CUC, Ren Mengshan, menyambut baik kedatangan seluruh peserta.
Menurutnya, dialog yang diselenggarakan telah melampaui batas wilayah, budaya, dan bahasa, sekaligus menjadi jembatan persahabatan antara Tiongkok dengan para jurnalis dari berbagai negara berkembang.
“Dunia saat ini sedang mengalami perubahan yang mendalam. Revolusi teknologi berjalan sangat cepat, dan kecerdasan buatan sedang membentuk kembali cara berkomunikasi. Di sisi lain, kita juga dihadapkan pada tantangan seperti persaingan geopolitik, ketimpangan pembangunan, serta kesenjangan antarperadaban. Dalam situasi ini, media memiliki peran penting untuk menghubungkan Tiongkok dengan dunia luar, menjembatani hubungan antarnegara, serta membangun kesepahaman bersama,” ujar Ren.
Ia menambahkan bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai penyebar informasi, tetapi juga pencatat perjalanan peradaban.
Di era yang terhubung secara digital, setiap laporan berita, rekaman video, atau wawancara dapat memengaruhi pandangan masyarakat di berbagai negara dan membentuk arah opini publik internasional.
Oleh karena itu, kata dia, media memikul tanggung jawab dan misi yang sangat besar di masa kini.
Melalui kegiatan ini, CUC juga membangun wadah untuk mempererat jaringan kerja sama antarjurnalis dari berbagai negara, agar komunikasi di dunia media global dapat berjalan lebih baik.
Dalam sesi diskusi, para peserta membahas berbagai topik menarik, mulai dari bagaimana media dapat meluruskan pandangan yang sepihak dan mengurangi prasangka antarbudaya; cara menceritakan keberagaman dunia agar dapat hidup berdampingan secara harmonis; praktik komunikasi lintas budaya di era kecerdasan buatan; hingga upaya meningkatkan pertukaran pengetahuan dan hubungan baik antara generasi muda Tiongkok dan negara lain.
Usai sesi dialog, perjalanan dilanjutkan ke Museum Media yang berada di dalam lingkungan kampus.
Di tempat inilah tersimpan rekam jejak panjang perkembangan dunia komunikasi massa di Tiongkok.
Tanpa diduga, di museum ini saya bertemu dengan Dina, seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan magister di bidang jurnalistik dan bertugas menjadi pemandu kunjungan.
“Anda dari Indonesia ya?” tanya Dina yang telah tinggal dan belajar di Beijing selama sembilan bulan terakhir.
Bersama Dina dan Nadia Ayu Sorya, jurnalis dari Metro TV yang juga peserta program CIPCC, saya berkeliling menyusuri ruang pameran.
Museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah yang menunjukkan perkembangan teknologi komunikasi: mulai dari radio berukuran besar yang dulunya menjadi sumber informasi utama masyarakat, kamera televisi generasi awal yang bentuknya jauh lebih besar dibandingkan perangkat saat ini, hingga peralatan digital canggih yang kini digunakan di ruang redaksi modern.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah replika studio siaran berita milik China Central Television (CCTV), lengkap dengan layar latar teknologi green screen.
Satu per satu jurnalis bergantian duduk di meja pembawa acara, ada yang berpose seolah sedang membacakan berita, ada pula yang sekadar mengabadikan momen sebagai kenang-kenangan.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi saat ini, museum ini mengingatkan bahwa setiap inovasi di dunia media selalu memiliki sejarah panjang di baliknya.
Sebelum hadirnya media sosial dan kecerdasan buatan seperti sekarang, telah ada berbagai generasi perangkat dan tenaga profesional yang membangun fondasi dunia komunikasi yang kita kenal saat ini.***
Editor : Donny Tabelak