Napak Tilas Kunjungan Xi Jinping di Baihang, Dari Desa Miskin jadi Sejahtera
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Perjalanan di Provinsi Anhui, Tiongkok, bukan hanya ke lokasi wisata maupun industri manufaktur.
Kantor Kementerian Luar Negeri di Provinsi Anhui juga mengajak para jurnalis peserta program CIPCC dari kawasan Asia Pasifik, berkunjung dan menemui komunitas lokal.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Desa Baihang di Distrik Yingzhou, Provinsi Anhui. Desa ini pernah dikunjungi oleh Xi Jinping pada 8 April 2011 silam.
Kala itu Xi Jinping belum menjabat sebagai presiden Tiongkok.
Saat itu ia memangku jabatan sebagai wakil presiden dan Anggota Komite Tetap Biro Politik Partai Komunis Tiongkok.
Kunjungan Xi Jinping kala itu membuat kenangan yang membekas bagi masyarakat setempat.
Bahkan masyarakat mendedikasikan bangunan sekretariat partai komunis di Desa Baihang sebagai lokasi untuk mengenang perjalanan Xi Jinping di desa tersebut.
Desa ini terletak di tepi barat Danau Barat Provinsi Anhui.
Dulunya desa ini sangat miskin. Penduduknya kebanyakan perajin dan bertani.
Kondisi alam, membuat masyarakat di sana hidup miskin.
Hampir setiap tahun, pemukiman warga selalu kebanjiran.
Setiap 10 tahun, banjir bisa berlangsung dalam waktu lama.
Air bisa merendam rumah warga selama berminggu-minggu, bahkan bisa lebih dari sebulan.
Desa ini bahkan mendapat sebutan guan di atau dasar guci.
Ungkapan itu kurang lebih merujuk kondisi desa yang selalu basah seperti dasar tembikar.
Kondisi itu membuat warga tak bisa lepas dari kemiskinan.
Kunjungan Xi Jinping ke desa tersebut 15 tahun silam, mengubah kehidupan warga secara drastis.
Saat itu xi Jinping berkunjung selama 97 menit di desa tersebut.
Ia mengunjungi rumah warga, mengecek toilet, kualitas air, serta perlengkapan rumah. Xi Jinping kemudian berdialog langsung dengan masyarakat tentang kesulitan mereka.
Selepas kunjungan tersebut, perubahan drastis terjadi di des aini. Pemerintah Tiongkok membuat pemukiman baru bagi warga.
Sebuah pusat komunitas dibangun, rumah susun disiapkan, sekolah didirikan, pusat ekonomi turut dibangun.
Infrastruktur pendukung juga disiapkan. Jalan lebar dengan aspal kualitas terbaik dibuat.
Desa dikelilingi dengan sungai buatan. Sungai itu berfungsi ganda.
Untuk pengairan lahan pertanian juga untuk pelindung warga agar tak kebanjiran lagi.
Hasilnya, lebih dari 10 tahun belakangan warga tak pernah lagi merasakan banjir.
“Pemukiman kami yang lama di tepi barat sudah menjadi danau. Di tempat yang baru hidup kami sekarang lebih sejahtera, masyarakat juga lebih bahagia. Ekonomi kami tumbuh dengan sangat baik,” kata Yan Yongzhi, Sekretaris Partai Komunis Tiongkok Desa Baihan, yang menyambut kunjungan kami ke desa itu.
Kini total desa tersebut memiliki luas 6,5 kilometer persegi.
Ada 956 kepala keluarga yang tinggal di sana dengan total populasi 4.783 jiwa.
Sekitar 1.000 orang diantaranya bekerja pada industri manufaktur dan lembaga pemerintahan di kota, namun mereka masih tetap tinggal di desa.
Sejak relokasi ekonomi masyarakat terus tumbuh.
Pendapatan masyarakat desa pada tahun 2025 mencapai 1,2 juta yuan atau sekitar Rp 3,34 miliar dengan asset kolektif senilai Rp 31,6 miliar.
Ketika kami berkunjung ke desa itu, kehidupan masyarakat bergulir seperti biasa.
Sejumlah petani tampak memilah daun bawang, Bersiap mengirim ke kota.
Adapula seorang lansia yang duduk santai di tepi trotoar depan rumahnya.
Sementara sejumlah nenek tampak mengobrol di depan toko.
Meski begitu, ada juga sejumlah lansia yang harus tinggal di Pantai Jompo yang berada di dekat desa.
Para jompo tersebut merupakan lansia yang hidup sebatangkara karena tidak punya keturunan.
Ada juga yang hidup seorang diri karena anaknya merantau jauh ke luar provinsi.
“Kami berusaha sebaik mungkin menjaga warga kami tetap sehat, sejahtera, dan bahagia. Kami selalu bekerjasama dengan seluruh komunitas untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat di komunitas ini,” kata Yongzhi.
Berkat perubahan drastis itu, Desa Baihang langsung menyabet berbagai penghargaan skala nasional.
Diantaranya Desa Beradab Nasional, Komunitas Percontohan Pengurangan Bencana Komprehensif Nasional, Desa Percontohan Demokratis dan Hukum Nasional, Unit Percontohan Pembangunan Komunitas Bahagia Nasional, dan lebih dari selusin penghargaan lain di Tingkat provinsi.
Kini komunitas juga berusaha mengembangkan perekonomian desa. Salah satunya dengan mengemas produk unggulan desa sebagai salah satu komoditas perdagangan.
Komoditas itu dikirim ke seluruh penjuru Tiongkok untuk mendongkrak pendapatan masyarakat desa.
“Ada beberapa produk pertanian yang kami jadikan tanaman khas, seperti jahe dan telur bebek, dan lou bo (tanaman herbal yang hanya tumbuh saat musim dingin). Pengolahan produk pertanian juga kami lakukan, sehingga tidak hanya jual produk mentah,” jelasnya.
Pihak desa juga berupaya mengembangkan sektor pariwisata untuk mendatangkan lebih banyak orang, sehingga bisa mendongkrak ekonomi desa.
Selagi upaya pengembangan jalan, produk pertanian desa setempat kini dipasarkan melalui e-commerce atau pasar online untuk membuka akses penjualan yang lebih luas.
“Apa yang kami lakukan semata-mata mengikuti instruksi Presiden Xi Jinping saat beliau berkunjung ke lokasi ini untuk pengembangan arah pembangunan di komunitas kami,” demikian Yan Yongzhi.***
Editor : Donny Tabelak