Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya di Tiongkok (23) 

Eka Prasetya • Kamis, 11 Juni 2026 | 08:57 WIB
Suasana di NCC Heiduo Island Digital Nomad Community. Lokasi ini disulap menjadi wadah untuk merangkul para pekerja kreatif di kawasan Yixian, Tiongkok. (Foto Eka Prasetya) 
Suasana di NCC Heiduo Island Digital Nomad Community. Lokasi ini disulap menjadi wadah untuk merangkul para pekerja kreatif di kawasan Yixian, Tiongkok. (Foto Eka Prasetya) 

Bertemu Komunitas Digital Versi Tiongkok di Selatan Anhui, Hidup Bukan Hanya Kerja

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Komunitas pekerja kreatif di bidang teknologi dan informasi, terus bermunculan di seantero Tiongkok. Termasuk pula di Provinsi Anhui.

Salah satu komunitas digital geek yang eksis di provinsi ini bisa ditemukan di NCC Heido Island Digital Nomad Community.

Komunitas ini berada di Yixian County. Jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan dari Kota Huangshan di Provinsi Anhui.

Para pekerja kreatif menempati sebuah kawasan yang mereka namakan Pulau Heidu.

Tempat itu disebut pulau karena dikelilingi oleh aliran Sungai Yichuan.

Di tempat itu ada berbagai fasilitas yang tersedia untuk pekerja kreatif.

Mulai dari co-working space, teater, lokasi workshop, gym, kafe, dan tempat tinggal.

Mereka dibuat nyaman dalam sebuah kawasan yang luasnya setara dengan stadion sepakbola.

Tempat ini sebenarnya baru dibangun pada Juli 2024 lalu.

Namun sudah menjadi rujukan di Provinsi Anhui, bahkan menjadi percontohan nasional.

Alasannya tempat tersebut bukan hanya menyediakan ruang kreatif bersama, namun juga menyediakan tempat hunian bersama.

Bangunan yang digunakan para digital nomad, dulunya digunakan sebagai lokasi untuk membuat wine lokal.

Seiring dengan perkembangan, perusahaan pembuatan wine pindah ke lokasi lain yang lebih besar.

“Kami memutuskan mengambil alih tempat ini. Berbagai fasilitas di tempat ini kami sesuaikan dengan kebutuhan para pekerja kreatif,” ungkap Project Leader Heiduo Island, Li Xinya, kepada para jurnalis peserta CIPCC yang berkunjung ke lokasi tersebut beberapa waktu lalu.

Melangkahkan kaki ke lokasi tersebut membuat pikiran saya langsung melayang ke Canggu, kawasan favorit oleh para digital nomad di Bali.

Bedanya, bila Canggu didominasi oleh Warga Negara Asing (WNA), Heiduo Island justru dimanfaatkan oleh warga Tiongkok itu sendiri.

Li Xinya menyebut kini setidaknya ada 60 orang kreator yang bergabung dalam komunitas tersebut.

Namun hanya sekitar 40 orang diantaranya aktif berkegiatan secara berkala di Heiduo Island.

Sisanya lebih banyak melakukan pekerjaan secara remote, tetapi sesekali masih berkunjung ke kawasan tersebut.

Adapun para kreator bekerja di berbagai bidang. Sebagian besar bekerja pada divisi coding.

Ada juga yang membantu pengembangan pariwisata berbasis teknologi, komunikasi, perusahaan trading, termasuk beberapa industri multinasional.

“Beberapa anggota kami juga ada yang bekerja untuk Rednote (aplikasi serupa Tiktok), Alibaba, termasuk kerja untuk TikTok juga ada,” ungkapnya.

Menurut Li, meski lokasinya terletak jauh dari pusat ibukota provinsi, Heido Island tetap berhasil menjalin jejaring.

Mereka memiliki jejaring dengan lebih dari 20 komunitas digital nomad di seantero Tiongkok.

Lebih dari 5 ribu orang digital nomad telah bekerjasama dengan mereka.

Tak hanya itu mereka juga menjalin relasi dengan para pekerja kreatif di industri teknologi dan informasi di luar negeri.

Li mengklaim memiliki mitra dari Jerman, Amerika Serikat, dan Kanada.

Beberapa kreator dari luar negeri itu sempat datang ke komunitas mereka untuk bekerja bersama, berdiskusi, dan merasakan atmosfer bekerja secara remote dari Tiongkok.

“Mereka juga datang untuk berwisata. Meski lokasi kami bukan di ibukota, itu justru memberi keuntungan bagi kami. Karena mudah menjangkau berbagai lokasi wisata yang ada di selatan Anhui. Termasuk ke kota lain seperti Shanghai yang bisa diakses menggunakan kereta cepat,” cerita Li.

Selama hampir dua tahun eksis, komunitas terus berusaha mengembangkan berbagai kebutuhan yang diperlukan para pekerja digital.

Termasuk kebutuhan untuk mendatangkan ahli bahkan psikolog.

Li menyebut para pekerja digital sangat membutuhkan dukungan mental. Terkadang mereka bekerja dalam deadline yang ketat.

Sementara kemampuan seseorang dalam  menuntaskan sebuah proyek tak selalu 100 persen.

“Terkadang ada waktunya kita justru melangkah mundur. Di sana kami saling menguatkan. Kami berdiskusi, mendatangkan ahli yang kompeten, termasuk bila perlu mendatangkan psikolog untuk memberi dukungan,” katanya.

Sejak eksis pada Juli 2024 lalu, mereka telah menggelar 500 kegiatan.

Salah satu kegiatan yang paling dinanti adalah hackathon yang melibatkan para digital geek dari seluruh Tiongkok.

Kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya menyasar komunitas digital.

Tapi juga menyasar masyarakat pedesaan di sekitar tempat tinggal mereka.

Li menyebut desa tersebut kini lebih banyak diisi oleh para penduduk yang berusia di atas 45 tahun. Bahkan ada yang lebih senior.

Kemampuan mereka memanfaatkan teknologi sangat terbatas.

Mereka pun membuat program kolaboratif dengan masyarakat lokal.

Seperti menggelar kursus pemanfaatan ponsel, pemanfaatan media sosial dan e-commerce, pengembangan merek dagang, hingga pemasaran produk.

Hal itu menjadikan hubungan komunitas dengan masyarakat setempat menjadi lebih erat.

“Kami sama-sama belajar. Yang tua belajar dari yang muda, kami yang muda juga belajar pengalaman yang telah didapat senior-senior kami di tempat ini,” ungkapnya.

Dari tempat ini saya paham bahwa para pekerja kini mulai menyesuaikan aktivitas mereka.

Hidup bukan hanya untuk bekerja. Tapi bagaimana menciptkan ekosistem work-life balanced yang akhirnya bisa meningkatkan kualitas hidup dan kualitas pekerjaan.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #jurnalis #wna #china #jawa pos radar bali