Zizai Valley: Desa Berusia 1.300 Tahun Disulap Jadi Surga Wisata Wellness
Radarbadung.jawapos.com— Dunia pariwisata di Tiongkok kini mulai beralih dari konsep kunjungan massal menuju wisata yang lebih personal dan berfokus pada pemulihan kualitas hidup atau wellness.
Salah satu contoh suksesnya terwujud di Zizai Valley, sebuah lembah yang dulunya merupakan desa terpencil berusia lebih dari 1.300 tahun di Provinsi Anhui.
Dahulu, desa tua ini hanya dihuni oleh puluhan warga lanjut usia, sementara anak dan cucunya banyak yang merantau ke kota besar untuk bekerja.
Akses menuju lokasi pun sulit, harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer menembus kawasan hutan.
Namun kini, wajah desa itu berubah total dan menjadi destinasi wisata bernuansa tenang yang tetap mempertahankan jejak sejarahnya.
Kawasan ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2013 oleh Chen Lin, penggemar pendakian sekaligus pebisnis.
Saat itu ia menyusuri perbukitan di Kabupaten Yi, Kota Huangshan, dan terpesona melihat deretan bangunan tua yang usianya mencapai lebih dari 400 tahun.
Chen kemudian memutuskan mengambil alih pengelolaan desa tersebut, memberikan kompensasi yang layak, dan memindahkan para warga lansia ke kawasan perkotaan agar lebih dekat dengan keluarga mereka.
Selama sepuluh tahun, proses restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati.
Keaslian bentuk luar bangunan dengan dinding tanahnya tetap dipertahankan sepenuhnya.
Namun di bagian dalam, seluruh fasilitas diperbarui hingga setara dengan standar hotel berbintang, bebas dari kelembapan dan dilengkapi kenyamanan modern.
Hingga saat ini, sudah ada 39 unit bangunan yang difungsikan sebagai tempat menginap, restoran, galeri seni, hingga ruang pelatihan kerajinan tangan.
“Kami sengaja mengembangkan konsep wisata wellness, bukan pariwisata massal. Pengunjung bisa mendapatkan pengalaman yang sangat pribadi dan merasa lebih segar serta tenang setelah berkunjung ke sini,” jelas Chen Lin, General Manager Zizai Valley.
Menurutnya, ia bisa saja meratakan seluruh bangunan tua itu dan membangun vila-vila megah yang lebih menguntungkan secara bisnis.
Namun cara itu dinilai akan menghilangkan keunikan dan akar budaya setempat.
“Kehidupan pedesaan adalah asal mula peradaban masyarakat kami. Jadi kami memilih merestorasi, bukan menghancurkan, agar nilai sejarahnya tetap terjaga,” tambahnya.
Proses pengembangan kawasan ini masih terus berlanjut, dengan puluhan bangunan lain yang masih dalam tahap perbaikan.
Mengamati konsep ini, terlintas kemiripannya dengan potensi yang dimiliki Indonesia, khususnya Bali.
Sejumlah desa adat seperti Desa Bali Aga masih memiliki rumah-rumah tua yang penuh nilai sejarah.
Pendekatan serupa bisa diadopsi: mempertahankan bentuk asli bangunan di bagian luar, sekaligus melengkapi fasilitas di dalamnya agar nyaman untuk wisatawan.
Dengan cara ini, rumah adat tidak hanya menjadi pajangan semata, tetapi bisa difungsikan sebagai akomodasi wisata.
Contohnya di kawasan utara Bali seperti Desa Pedawa, Julah, atau Sembiran, sehingga warisan budaya tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.***
Editor : Donny Tabelak