Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (25)

Eka Prasetya • Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:41 WIB
Suasana di Kebun Teh Xie Yuda, salah satu lokasi kunjungan agrowisata yang populer di Tiongkok. ( Foto Eka Prasetya)
Suasana di Kebun Teh Xie Yuda, salah satu lokasi kunjungan agrowisata yang populer di Tiongkok. (Foto Eka Prasetya) 

Teh Xie Yuda, Warisan Enam Generasi yang Tetap Jaga Kualitas

Radarbadung.jawapos.com— Teh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah, tradisi, dan keseharian masyarakat Tiongkok selama berabad-abad.

Hampir di seluruh penjuru negeri ini banyak ditemukan perkebunan teh, terutama di kawasan dataran tinggi dan pegunungan.

Salah satu wilayah yang dikenal memiliki teh berkualitas tinggi adalah Kota Huangshan, Provinsi Anhui.

Di kota yang dikelilingi perbukitan hijau ini, sebagian besar lahan masih dipertahankan sebagai kawasan hijau alami berisi tanaman bambu, sementara area yang cocok khusus dikembangkan untuk perkebunan teh.

Salah satu merek teh yang paling termasyhur dan memiliki sejarah panjang di sini adalah Teh Xie Yuda, yang telah berdiri sejak tahun 1875 dan diwariskan secara turun-temurun hingga memasuki generasi keenam.

Sebagai peserta program China International Press Communication Center (CIPCC), tim jurnalis dari berbagai negara Asia Pasifik berkesempatan mengunjungi pusat pameran dan perkebunan teh Xie Yuda yang berlokasi di Distrik Huizhou.

Kawasan ini telah mendapatkan akreditasi sebagai objek wisata nasional kelas A4 seluas 133 hektare, di mana sekitar 80 hektare di antaranya merupakan lahan perkebunan teh.

Selain kebun, di sini juga tersedia museum budaya teh, taman penelitian industri, taman pelestarian warisan budaya, hingga area rekreasi untuk umum.

Tempat ini mengusung konsep terpadu, sehingga pengunjung tidak hanya bisa melihat kebun teh, tetapi juga belajar sejarah, mencicipi hasil olahan, memahami proses pembuatan, hingga mendapatkan informasi manfaat teh bagi kesehatan. 

Menurut Xu Jimiao, Kurator Museum Budaya Teh Xie Yuda, pada awalnya teh hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan keluarga istana.

Seiring berjalannya waktu, istana mulai memperkenalkan cara budidaya kepada masyarakat luas, mengembangkan sistem produksi yang lebih besar, serta menyederhanakan kemasan sehingga harganya lebih terjangkau.

“Sejak saat itu, teh mulai dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dan menjadi kebiasaan sehari-hari hingga sekarang,” jelasnya.

Lebih dari sekadar minuman, teh juga memiliki makna mendalam dalam ritual dan tradisi.

Salah satunya adalah upacara minum teh yang dilakukan saat ada kelahiran anggota keluarga baru, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pemberitahuan kepada leluhur bahwa ada tambahan anggota dalam keluarga.

Teh juga wajib disajikan dalam setiap pertemuan resmi maupun jamuan makan.

Dari sisi pengelolaan, pihak perusahaan sangat ketat menjaga standar kualitas.

Gui Liquan, Wakil Direktur Teh Xie Yuda, menyatakan mereka hanya membudidayakan teh di lahan dengan ketinggian minimal 800 meter di atas permukaan laut, serta menerapkan sistem pertanian organik sepenuhnya. 

Proses pengolahan juga melalui tahapan panjang, mulai dari pemeliharaan tanaman, pemetikan, pengeringan, penggilingan, hingga pengemasan akhir.

Saat ini, mereka memproduksi empat jenis teh utama dari sepuluh jenis teh populer di Tiongkok, yaitu Taiping Houkui, Keemun Black Tea, Lu’an, dan Guapian.

Khusus Keemun Black Tea yang telah melalui proses fermentasi, memiliki rasa yang lebih ringan sehingga aman dikonsumsi bagi mereka yang memiliki kondisi perut sensitif.

Sebagian besar hasil produksi diserap pasar lokal, sedangkan ekspor baru berjalan dalam skala terbatas ke kawasan Timur Tengah dan Eropa, dan itu pun masih dalam bentuk bahan mentah.

“Di negara tujuan, teh biasanya diolah kembali sesuai selera masing-masing, ada yang ditambah aroma, dicampur susu atau gula. Oleh karena itu kami hanya mengirimkan bahan dasarnya saja,” terang Gui Liquan.

Ke depannya, perusahaan juga terus berinovasi mengembangkan produk baru dan melakukan edukasi kepada generasi muda agar budaya minum teh dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan terus relevan seiring perkembangan zaman.**#

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #teh #jurnalis #china #jawa pos radar bali