Di Kota Tengchong, Negeri Tirai Bambu Merawat Luka Perang Menjadi Pelajaran
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Semua bangsa punya cara sendiri dalam menyikapi luka masa lalu. Sebagian menutupnya rapat-rapat.
Sebagian lagi menjadikannya pelajaran agar sejarah yang sama tidak kembali terulang. Tiongkok, rupanya memilih jalan kedua.
Hal itu yang saya tangkap saat mengunjungi Western Yunnan Anti-Japanese War Memorial Museum di Kota Tengchong, Provinsi Yunnan, pada Jumat (12/6) lalu.
Perjalanan menuju kota ini cukup panjang.
Setelah menghadiri dua konferensi di Kota Kunming, Yunnan pada Kamis (11/6), kami para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta program CIPCC bergegas menuju Bandara Kunming Changshui.
Bahkan kami tidak sempat berganti jas yang dipakai sejak pagi.
Pesawat dari maskapai Kunming Airlines yang kami tumpangi terbang tepat pukul 18.45 waktu setempat.
Pesawat perlu waktu sekitar 1,5 jam untuk menuju Bandara Mangshi di Kota Tengchong.
Menjelang pesawat mendarat, awak kabin memberikan pengumuman bahwa jendela pesawat harus ditutup.
Alasannya, pesawat akan melawat di bandara yang juga digunakan militer. Sesuai dengan aturan di Tiongkok, jendela di bagian penumpang harus tertutup seluruhnya.
Alasannya sederhana, tapi tidak biasa bagi saya. Maklum, di Indonesia tidak ada aturan serupa.
Di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar maupun Bandara Sultan Syarif Kasim II Riau, penumpang bisa dengan mudah mengabadikan pesawat tempur.
Namun setiap negara tentu memiliki cara berbeda dalam mengatur keamanan wilayahnya.
Keesokan paginya kami langsung menuju museum dan makam nasional yang menjadi lokasi utama kunjungan di Kota Tengchong.
Museum ini dibuka pada tahun 2013 silam.
Tercatat ada lebih dari 28 ribu relik dan 10 ribu foto dokumentasi yang terkait dengan peperangan antara Tiongkok dengan Jepang, khususnya di Kota Tengchong yang berada dekat dengan perbatasan Myanmar.
Hal itu menjadikan museum ini sebagai salah satu museum dengan benda asli Perang Dunia II yang terlengkap di seantero dunia.
Saat masuk ke dalam museum, mata saya langsung tertuju dengan seribu helm milik serdadu Tiongkok yang dipasang di sekeliling tembok.
Helm itu bukan hanya didapatkan dari Tiongkok, tapi juga dari Myanmar.
“Ada yang bilang perang antara Jepang dan Tiongkok hanya berlangsung pada perang dunia kedua. Tapi kami sebenarnya sudah berperang sejak 1931 sampai 1945, saat Jepang sudah menduduki sejumlah wilayah di Tiongkok,” kata Su Bei, pemandu yang mendampingi kami hari itu.
Di dalam museum, berbagai relik dihadirkan.
Mulai dari senjata, seragam perang, medali penghargaan, serta diorama.
Menariknya ada satu bagian yang khusus didedikasikan bagi tentara Amerika Serikat yang masuk dalam skuad Flying Tigers.
Skuad ini merupakan skuad penerbang yang membantu Tiongkok memerangi Jepang.
“Tentara Amerika Serikat banyak membantu kami. Baik itu peperangan maupun dalam teknologi perang. Itu menunjukkan hubungan erat Amerika dan Tiongkok sebenarnya sudah berlangsung cukup lama,” ujar Su Bei.
Bagi Tiongkok, Tengchong bukan sekadar kota kecil di perbatasan.
Kota ini pernah jatuh ke tangan Jepang dan menjadi salah satu titik pertempuran paling menentukan selama perang berlangsung.
Setelah melalui pertempuran sengit, pasukan Tiongkok berhasil merebut kembali kota tersebut dan mempertahankannya hingga perang berakhir.
Posisinya yang berada di jalur strategis menuju Asia Tenggara dan Asia Selatan membuat Tengchong memiliki arti penting secara geopolitik maupun militer.
Dari museum, kami berjalan menuju National Memorial Cemetery atau Taman Makan Nasional.
Lokasinya bersebelahan langsung dengan museum.
Masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Guoshang Cemetery.
Kendati hari itu mendung, tak menyurutkan niat masyarakat mengunjung.
Saat kami berkunjung, juga ada ratusan warga lain yang berkunjung ke sana.
Termasuk satu rombongan biksu. Mereka membawa bunga untuk berziarah.
“Setiap hari selalu ada pengunjung. Apalagi kalau libur nasional, bisa sampai 30 ribu pengunjung. Tahun lalu saja ada lebih dari 2 juta pengunjung,” ungkap Su Bei.
Hal itu sangat masuk akal, lantaran pengelola tidak memungut biaya bagi pengunjung.
Dampaknya, roda perekonomian di sekitar museum dan makan tumbuh.
Pedagang bunga laris manis didatangi pengunjung. Pelaku usaha kecil lain ikut terdampak.
Salah satu bagian yang mengesankan adalah prasasti sepanjang 130 meter.
Di sana tercatat ada 130 ribu nama yang terlibat dalam perang di Kota Tengchong.
Mereka bukan hanya prajurit, tapi juga martir, gerilyawan, tentara sekutu, serta warga sipil yang turut menjadi korban.
Selain itu ada 3.346 pusara, serta 13 pusara prajurit Amerika Serikat dalam skuad Flying Tigers.
Hingga kini, tiap tahun keluarga para prajurit Flying Tigers masih berziarah ke pusara tersebut.
Ribuan batu nisan itu diatur secara melingkar di kawasan perbukitan.
Batu nisan disusun sedemikian rupa mengitari menara peringatan utama di puncak bukit.
Pengaturannya sengaja dibuat berbaris rapi berdasarkan urutan unit tempur dan pangkatnya.
Di bukit juga bersemayam abu dari prajurit yang gugur dalam pertempuran 43 hari pembebasan Tengchong pada 1944.
Bagi Tiongkok, perang memang meninggalkan luka. Namun luka itu tidak disembunyikan.
Luka itu dirawat, dikenang, lalu dijadikan pengingat bagi generasi berikutnya, tentang harga sebuah kemerdekaan dan betapa mahalnya perdamaian.***
Editor : Donny Tabelak