Melihat Pembangunan Pinglu Canal, Pelabuhan Kargo di Pegunungan Provinsi Guangxi
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Dari kejauhan, hamparan pegunungan di Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, tampak seperti lanskap alam yang tenang.
Sulit membayangkan kawasan itu akan menjadi salah satu simpul logistik terpenting di Tiongkok dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, pemandangan itulah yang saya temui saat mengunjungi proyek Terusan Pinlu (Pinglu Canal), Sabtu (13/6), bersama para jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC).
Di tengah perbukitan yang selama ini jauh dari kesan pelabuhan, berdiri sebuah kawasan bernama Madao Hub.
Kelak, tempat itu akan menjadi titik transit sekaligus tempat bersandar kapal-kapal kargo berkapasitas besar.
Bagi saya, inilah bagian paling mengejutkan dari proyek tersebut.
Selama ini, pelabuhan identik dengan garis pantai dan hamparan laut terbuka. Namun di Guangxi, Tiongkok justru sedang membangun sebuah pelabuhan di kawasan pegunungan.
Pemandangan itu seolah membalik pemahaman umum tentang bagaimana sebuah pelabuhan seharusnya berada.
“Ini benar-benar menakjubkan. Mereka bisa membangun pelabuhan di pegunungan,” kata Ali Yoosuf, jurnalis asal Maladewa yang turut mengunjungi lokasi proyek.
Terusan Pinlu memang bukan proyek infrastruktur biasa.
Pemerintah Tiongkok menyebutnya sebagai salah satu proyek strategis terbesar abad ini karena akan mengubah peta logistik kawasan barat daya Tiongkok sekaligus memperkuat konektivitas perdagangan dengan negara-negara ASEAN.
Terusan sepanjang 134,2 kilometer itu dirancang untuk menghubungkan jalur sungai di pedalaman Guangxi dengan Teluk Beibu yang bermuara ke Laut Tiongkok Selatan.
Dengan kata lain, kapal-kapal kargo nantinya dapat berlayar langsung dari wilayah pedalaman menuju laut tanpa harus melalui rute yang lebih panjang.
Proyek ini juga memiliki nilai historis tersendiri.
Terusan Pinlu menjadi kanal pertama di Tiongkok modern yang menghubungkan sungai langsung ke laut sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.
Ketika beroperasi penuh nanti, jalur ini akan menjadi akses tercepat bagi kawasan barat daya Tiongkok menuju jalur perdagangan internasional.
Wakil General Manager sekaligus Kepala Teknisi Guangxi Pinglu Canal Construction Co. Ltd, Pan Jian, mengatakan pembangunan proyek saat ini telah mencapai 96 persen.
Seluruh pekerjaan konstruksi utama, mulai dari hub navigasi, saluran terusan, hingga jembatan penyeberangan, telah selesai dibangun.
Saat ini proses pengerjaan memasuki tahap pengujian dan kalibrasi berbagai fasilitas pendukung.
“Pekerjaan konstruksi utama, termasuk hub navigasi, rekayasa saluran, dan jembatan yang melintasi terusan sudah selesai dikerjakan. Saat ini kami sedang melakukan pengaliran air untuk uji coba, pengujian, serta kalibrasi fasilitas navigasi dan infrastruktur pendukung lainnya. Targetnya bisa beroperasi penuh bulan September nanti,” ujarnya.
Manfaat ekonomi yang dijanjikan proyek ini tidak kecil.
Pemerintah Tiongkok memperkirakan Terusan Pinlu mampu menghemat biaya logistik hingga lebih dari 50 miliar yuan atau setara Rp 131 triliun per tahun.
Selain itu, jalur baru tersebut akan memangkas jarak distribusi barang dari wilayah pedalaman Guangxi menuju laut hingga lebih dari 560 kilometer dibandingkan rute yang selama ini harus melalui Pelabuhan Guangzhou.
Efisiensi itu menjadi penting mengingat Guangxi merupakan salah satu pintu utama perdagangan Tiongkok dengan negara-negara ASEAN.
Setelah beroperasi, kanal ini diproyeksikan mampu melayani arus barang hingga 80 juta ton per tahun.
Kapal-kapal berkapasitas 5.000 hingga 10.000 ton akan dapat melintas langsung menuju pusat-pusat industri di wilayah pedalaman.
Nilai investasinya pun mencerminkan besarnya ambisi proyek tersebut.
Terusan Pinlu dibangun dengan biaya sekitar 72,7 miliar yuan atau setara lebih dari Rp 190 triliun.
Meski berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, aspek lingkungan tetap diperhitungkan dalam pembangunan proyek ini.
Di beberapa titik, pemerintah Tiongkok membangun jalur khusus yang memungkinkan satwa liar tetap bermigrasi tanpa terganggu aktivitas manusia.
Selain itu, teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sistem sonar juga dipasang untuk memantau pergerakan ikan serta menjaga keberlangsungan ekosistem di sepanjang jalur terusan.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur berskala besar kini tidak hanya berbicara soal kecepatan dan kapasitas, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan dengan lingkungan.
Bagi Indonesia, keberadaan Terusan Pinlu juga berpotensi membuka peluang baru.
Sebagai salah satu pemasok utama bahan baku bagi industri Tiongkok, seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit, Indonesia dapat memperoleh manfaat dari jalur logistik yang lebih efisien.
Ketika terusan ini mulai beroperasi, kapal-kapal kargo dari Indonesia yang bersandar di Guangxi akan memiliki akses yang lebih langsung menuju kawasan industri di pedalaman Tiongkok.
Distribusi barang dapat berlangsung lebih cepat tanpa harus melalui proses transit yang panjang seperti saat ini.
Di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat, Terusan Pinlu bukan sekadar proyek kanal penghubung sungai dan laut.
Ia adalah simbol bagaimana Tiongkok berupaya membangun jalur baru pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar dunia.
Dan di tengah pegunungan Provinsi Guangxi yang sunyi, ambisi besar itu perlahan mulai terlihat menjadi kenyataan.***
Editor : Donny Tabelak