Mempelajari Media dan Sepakbola Negeri Tirai Bambu dari Ruang Perkuliahan
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Suasana di Lide Building, Renmin University of China (RUC), Beijing, Kamis (18/6/2026) pagi, berbeda dari ruang kuliah pada umumnya.
Di dalam kelas, puluhan jurnalis dari Asia Pasifik, Afrika, Karibia, hingga Eropa duduk berdampingan.
Ghana, Maladewa, Nigeria, sejumlah negara Amerika Latin, termasuk saya yang berasal dari Indonesia.
Kami bukan mahasiswa reguler. Kami adalah peserta China International Press Communication Center (CIPCC), program yang setiap tahun mempertemukan jurnalis dari berbagai belahan dunia untuk mengenal Tiongkok lebih dekat.
Di hadapan kami berdiri Prof. Zhong Xin, Wakil Dekan Fakultas Jurnalistik dan Komunikasi Renmin University of China (RUC) sekaligus Direktur Departemen Internasional School of Journalism and Communication RUC.
Sosok tersebut telah mengajar di RUC selama tiga dekade dan terlibat dalam program CIPCC sejak 2014.
Bagi Prof. Zhong, tahun ini menjadi periode yang berbeda.
Untuk pertama kalinya peserta CIPCC tinggal di lingkungan kampus Renmin University. Mereka menempati asrama mahasiswa dan berinteraksi langsung dengan kehidupan kampus sehari-hari.
“Biasanya peserta tinggal di luar kampus. Tahun ini mereka tinggal di asrama sehingga bisa berinteraksi lebih dekat dengan mahasiswa Renmin University,” ujarnya.
Perubahan itu menjadi salah satu upaya memperluas pengalaman peserta.
Sebab CIPCC bukan hanya program akademik, melainkan juga ruang pertukaran budaya dan pemahaman antarbangsa.
Dalam pemaparannya, Prof. Zhong mengajak peserta menelusuri perjalanan panjang CIPCC.
Program tersebut berawal dari China-Africa Press Centre (CAPC) yang hanya diikuti 10 jurnalis dari Afrika.
Seiring meningkatnya minat peserta internasional, program berkembang pada 2015 menjadi CIPCC dengan melibatkan China-Africa Press Centre (CAPC) dan China-Asia Pacific Press Centre (CAPPC).
Sejak 2014 hingga 2015, seluruh kegiatan dilakukan dalam bahasa Inggris.
Kemudian pada 2017, peserta dari Asia Selatan mulai bergabung.
Kini, program itu tumbuh menjadi forum global. Bahkan pada 2026, untuk pertama kalinya CIPCC diselenggarakan dalam lima bahasa sekaligus, yakni Inggris, Arab, Rusia, Spanyol, dan Prancis.
Tahun ini, jurnalis Jawa Pos Radar Bali mendapat kesempatan mengikuti program itu.
“Bahasa Inggris masih menjadi kelas terbesar tahun ini,” kata Prof. Zhong.
Perjalanan program tersebut juga sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Pada 2020 seluruh kegiatan dilakukan secara daring melalui video rekaman. Setahun kemudian perkuliahan berlangsung melalui Zoom.
Baru pada 2022 program kembali dibuka secara penuh.
Durasi program pun terus mengalami penyesuaian.
Jika sebelumnya berlangsung selama 10 bulan, sejak 2023 dipersingkat menjadi empat bulan dan dilaksanakan dua kali dalam setahun.
Khusus tahun ini, program berlangsung selama tiga bulan.
Menurut Prof. Zhong, dampak terbesar CIPCC bukan hanya pada pengetahuan peserta selama mengikuti program, tetapi juga pada perjalanan karier mereka setelah kembali ke negara masing-masing.
Hingga kini, program CIPCC bersama Renmin University telah melahirkan sekitar 500 “China Experts” dari kalangan jurnalis internasional.
Sebagian melanjutkan pendidikan magister dan doktoral di berbagai universitas ternama Tiongkok seperti Renmin University, Tsinghua University, dan Peking University.
Sebagian lainnya bekerja di media-media Tiongkok atau menjadi reporter khusus yang menangani isu-isu terkait Tiongkok di negara asal mereka.
Ada pula yang mendirikan media dengan fokus hubungan ekonomi dan kerja sama antara Tiongkok dan negaranya.
Salah satunya adalah Media Ikenna di Nigeria yang banyak membahas hubungan ekonomi Afrika dan Tiongkok.
“Banyak peserta mengatakan program ini mengubah karier dan hidup mereka,” ujar Prof. Zhong.
Dalam kuliah bertajuk “Key Concepts and Practices in Media Transformation and Development of China”, Prof. Zhong menjelaskan bagaimana media Tiongkok bertransformasi menghadapi era digital.
Ia memaparkan bahwa sistem media di Tiongkok terdiri atas empat tingkatan, yakni media nasional seperti CCTV dan People's Daily, media tingkat provinsi, media tingkat kota, hingga media tingkat kabupaten.
Menurutnya, media arus utama di Tiongkok saat ini tidak lagi hanya mengandalkan platform konvensional.
Transformasi digital dilakukan melalui integrasi website, aplikasi mobile, media sosial, hingga konten video.
“Sekarang masyarakat lebih menyukai video daripada membaca. Ini bukan hanya tantangan di Tiongkok, tetapi juga fenomena global,” jelasnya.
Prof. Zhong kemudian mengajak peserta melihat perjalanan digitalisasi media Tiongkok yang dimulai sejak awal 1990-an.
People's Daily mulai hadir di internet pada 1996, disusul CCTV, Xinhua News Agency, serta sejumlah media besar lainnya.
Transformasi tersebut semakin dipercepat melalui kebijakan konvergensi media yang mendorong integrasi antara media tradisional dan media digital.
Salah satu fokusnya adalah memperkuat media di tingkat kabupaten agar mampu memberikan informasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Tiongkok memiliki 2.844 county atau kabupaten. Karena itu penguatan media lokal menjadi sangat penting,” katanya.
Meski materi yang dibahas cukup serius, suasana kelas tidak selalu berlangsung formal.
Di tengah kuliah, seorang mahasiswa membawa bendera kecil Ghana.
Dari situlah percakapan bergeser ke topik yang jauh dari dunia jurnalistik: sepak bola.
Diskusi berkembang mengenai Piala Dunia dan kiprah Tiongkok di ajang sepak bola terbesar dunia tersebut.
Para peserta sempat membahas mengapa Tiongkok baru satu kali tampil di Piala Dunia, yakni pada 2002.
Percakapan itu memancing tawa dan komentar dari berbagai peserta.
Ada yang berseloroh bahwa meski jarang tampil di Piala Dunia, Tiongkok justru selalu hadir melalui produk-produk dan berbagai pernak-pernik yang digunakan selama turnamen berlangsung.
Obrolan ringan tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih cair.
Di ruang kuliah itu, para jurnalis tidak hanya belajar tentang media dan perkembangan Tiongkok, tetapi juga membangun percakapan lintas budaya yang menjadi inti dari program CIPCC itu sendiri.***
Editor : Donny Tabelak