Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (34) 

Eka Prasetya • Senin, 22 Juni 2026 | 10:50 WIB
Foto bersama setelah dialog di sekolah partai milik Partai Komunis Tiongkok. Sekolah partai ini telah menempa jutaan kader dan pejabat.(Foto Eka Prasetya) 
Foto bersama setelah dialog di sekolah partai milik Partai Komunis Tiongkok. Sekolah partai ini telah menempa jutaan kader dan pejabat.(Foto Eka Prasetya) 

Mengintip “Sekolah” Para Pejabat Tiongkok, Menempa Ideologi Hingga Membangun Ide

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Tidak banyak tempat di Beijing yang membuat puluhan jurnalis internasional langsung mengeluarkan ponsel begitu turun dari bus.

Hal itu yang terjadi ketika rombongan peserta China International Press Communication Center (CIPCC) tiba di kompleks Central Party School of the Communist Party of China (CPC) alias kawasan sekolah partai milik Partai Komunis Tiongkok, pada Kamis (18/6) siang.

Kompleks yang terletak di Distrik Haidian itu lebih menyerupai sebuah kota kecil dibanding lembaga pendidikan.

Hamparan pepohonan, gedung perkantoran, ruang kuliah, asrama, hingga museum berdiri dalam satu kawasan yang luas dan tertata rapi.

Bagi banyak peserta, kunjungan ini menjadi kesempatan langka untuk melihat dari dekat salah satu institusi paling penting dalam sistem politik dan pemerintahan Tiongkok.

Sekolah Partai bukan universitas umum. Selama puluhan tahun, lembaga ini menjadi tempat pendidikan dan pelatihan bagi kader partai, pejabat pemerintahan, hingga pimpinan perusahaan milik negara.

Namun, tidak semua sudut kompleks dapat diabadikan.

Saat memasuki museum sejarah sekolah partai, para jurnalis diminta menyimpan kamera dan ponsel.

Pengambilan foto maupun video di dalam ruang pameran tidak diperkenankan. Akibatnya, dokumentasi hanya dapat dilakukan di area luar bangunan dan halaman kompleks.

Meski demikian, larangan tersebut tidak mengurangi rasa penasaran para peserta.

Di dalam museum, mereka diajak melihat perjalanan panjang institusi yang berdiri sejak 1933 itu.

Mulai dari masa awal pendiriannya, periode revolusi, hingga perkembangannya menjadi pusat pelatihan pejabat negara modern.

Saat ini, sekolah tersebut telah berusia lebih dari 90 tahun.

Pada 2023 lalu, lembaga itu merayakan hari jadinya yang ke-90 dengan kehadiran Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

Setelah mengunjungi museum, rombongan melanjutkan agenda ke ruang perkuliahan untuk mengikuti kuliah umum dan dialog bersama Prof. Xie Chuntao, Wakil Presiden Central Party School sekaligus anggota Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok periode ke-20.

Prof. Xie telah lama terlibat dalam pendidikan pejabat pemerintahan serta penelitian mengenai sejarah dan teori Partai Komunis Tiongkok.

Dalam paparannya yang berjudul “The Story of the Communist Party of China in the New Era”.

Ia menjelaskan peran sekolah partai dalam mendukung tata kelola pemerintahan di negara tersebut.

“Ini bukan hanya sekolah untuk partai, tetapi juga untuk pemerintahan,” ujarnya di hadapan peserta CIPCC.

Menurut Prof. Xie, puluhan juta kader maupun pejabat telah mengikuti berbagai program pelatihan yang diselenggarakan sekolah partai, baik secara tatap muka maupun daring.

Selain melayani peserta domestik, institusi tersebut juga menjalin kerja sama dengan lebih dari 160 negara dan membuka sejumlah program pelatihan internasional.

Dalam pemaparannya, Prof. Xie banyak menyinggung perkembangan ekonomi dan teknologi Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir.

Ia mencontohkan pertumbuhan kendaraan listrik yang kini menjadi salah satu sektor andalan industri Tiongkok.

“Setiap tahun pengguna kendaraan listrik di Tiongkok tumbuh lebih dari 60 persen. Itu belum termasuk ekspor,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti perkembangan industri teknologi, termasuk kemampuan Tiongkok mengembangkan industri semikonduktor domestik melalui investasi besar pada riset dan sumber daya manusia.

Bagi peserta internasional, sesi tersebut bukan sekadar mendengarkan kuliah.

Banyak yang memanfaatkannya untuk memahami bagaimana Tiongkok membangun institusi pemerintahan, merancang kebijakan jangka panjang, dan menyiapkan sumber daya manusia untuk menjalankan program-program nasional.

Gladys Mungai, jurnalis dari Kenya Broadcasting Corporation (KBC), mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti dialog tersebu. 

“Hari ini saya tidak hanya melihat pelatihan administrasi publik. Saya melihat sebuah filosofi tata kelola yang dibangun di atas disiplin, institusi, dan perencanaan jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Gladys, salah satu pelajaran yang paling berkesan adalah pentingnya akuntabilitas dan pembangunan institusi yang kuat.

Ia menilai keberhasilan sebuah negara tidak lahir secara kebetulan, melainkan melalui proses panjang yang dibangun secara sadar dan konsisten.

“Kantor publik adalah sebuah kepercayaan. Akuntabilitas tidak bisa ditawar bagi negara yang ingin stabil dan berkembang,” katanya.

Menjelang sore, para peserta meninggalkan kompleks sekolah partai dengan membawa beragam catatan.

Sebagian membahas materi kuliah yang baru saja diterima. Sebagian lainnya masih memperbincangkan ideologi yang diterapkan oleh Tiongkok.

Bagi saya, kunjungan tersebut bukan tentang menyetujui atau menolak suatu sistem politik.

Melainkan kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah negara dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa membangun institusi, melatih pemimpinnya, dan merancang arah pembangunan jangka panjang.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #partai komunis #jurnalis #china #jawa pos radar bali