Menyaksikan Denyut Tradisi Dragon Boat Festival di Negeri Tirai Bambu
Radarbadung.jawapos.com - Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Suara genderang terdengar berdebum. Irama pukulan yang semakin cepat membuat ribuan warga yang memadati Grand Canal di Distrik Tongzhou, sisi timur Beijing, Tiongkok, makin berkerumun.
Tak lama kemudian, sejumlah perahu panjang berhias kepala naga melesat membelah permukaan air.
Sepuluh pendayung menggerakkan dayung secara serempak mengikuti komando penabuh genderang di bagian depan.
Sorak-sorai penonton bersahut-sahutan ketika perahu-perahu naga saling beradu kecepatan menuju garis akhir.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari perayaan Dragon Boat Festival atau Duanwu Jie, salah satu festival tradisional terpenting di Tiongkok yang tahun ini berlangsung pada 19-21 Juni.
Saya sendiri mendapat kesempatan melihat langsung festival itu pada Sabtu (20/6) pagi.
Dari kampus Renmin University of China (RUC) – tempat saya menetap selama berada di Beijing – di Distrik Haidian, perjalanan menuju lokasi festival ternyata cukup mudah.
Dengan menggunakan subway Beijing, saya hanya perlu menuju Stasiun Beiyunhe Xi.
Perjalanan itu memakan waktu sekitar satu jam. Dari sana, Grand Canal sudah berada dalam jarak berjalan kaki.
Begitu keluar dari stasiun, suasana festival sudah langsung terasa. Warga berkerumun.
Food truk berada di tepi pedestrian. Polisi berjaga di tiap sudut memastikan tidak ada warga yang menembus pagar pengaman.
Arus pengunjung terus mengalir menuju tepian kanal.
Keluarga, anak-anak, hingga wisatawan dari berbagai negara berbaur menikmati akhir pekan musim panas yang cerah.
Di atas air, perlombaan perahu naga menjadi pusat perhatian.
Setiap perahu diisi 12 orang. Sepuluh orang bertugas mendayung, seorang penabuh genderang duduk di bagian depan mengatur ritme, sementara satu orang lainnya berdiri di buritan memegang kemudi.
Kecepatan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik para pendayung. Kekompakan menjadi segalanya.
Satu kayuhan yang terlambat bisa membuat perahu kehilangan ritme dan tertinggal dari lawan.
Sesekali sorak penonton membahana ketika dua perahu melaju berdampingan dengan selisih hanya beberapa meter.
Suasana semakin meriah ketika sejumlah perahu naga tradisional mulai berlayar menyapa pengunjung.
Berbeda dengan perahu lomba, perahu-perahu ini dihiasi panji-panji tradisional berwarna-warni yang berkibar tertiup angin musim panas.
Melihat kemeriahan itu, ingatan saya langsung melayang ke Indonesia. Ada sesuatu yang terasa familiar.
Sorak penonton, deretan perahu panjang, hingga semangat kompetisi yang menyatukan ribuan orang mengingatkan saya pada Festival Pacu Jalur di Riau yang viral tahun lalu.
Meski lahir dari budaya yang berbeda, keduanya menunjukkan hal yang sama. Tentang tradisi yang mampu bertahan dan tetap hidup di tengah modernitas.
Bagi masyarakat Tiongkok, Festival Perahu Naga bukan sekadar perlombaan olahraga.
Perayaan ini merupakan tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.
Secara tradisional, festival ini dirayakan setiap hari kelima bulan kelima dalam kalender lunar Tiongkok.
Karena itu, waktunya hampir selalu berdekatan dengan puncak musim panas.
Di masa lalu, datangnya musim panas sering dikaitkan dengan meningkatnya penyakit, hama, dan berbagai ancaman kesehatan.
Karena itulah Dragon Boat Festival juga menjadi momentum ritual perlindungan diri.
Masyarakat menggantung daun mugwort dan calamus di depan rumah untuk mengusir serangga dan energi negatif.
Anak-anak mengenakan kantong parfum berisi ramuan herbal yang dipercaya membawa keberuntungan sekaligus menjaga kesehatan.
Tradisi lain yang tak pernah absen adalah menyantap zongzi atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai bakcang.
Makanan berbahan dasar ketan itu dibungkus daun bambu berbentuk limas dan diisi beragam bahan, mulai dari daging hingga kacang-kacangan.
Dalam tradisi kuno, sebagian zongzi bahkan dilempar ke sungai sebagai persembahan agar ikan tidak mengganggu roh leluhur.
Pada 2009, Dragon Boat Festival resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, menjadikannya festival tradisional Tiongkok pertama yang memperoleh pengakuan tersebut.
Saurabh Kumar, jurnalis asal India yang juga mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) di Beijing, turut merasakan energi festival pagi itu.
Menurutnya, kesempatan menyaksikan langsung Dragon Boat Festival merupakan pengalaman yang terlalu berharga untuk dilewatkan.
“Sangat menyenangkan bisa melihat langsung Dragon Boat Festival. Kami hanya punya waktu tiga bulan di Tiongkok, lalu tepat saat kami berada di sini ada festival ini. Kenapa tidak menyempatkan waktu untuk menyaksikannya? Sangat menarik mengetahui budaya dan tradisi dari negara lain,” ujarnya.
Kesan serupa disampaikan Maneenat Onpanna, jurnalis asal Thailand. Meski sudah beberapa kali mengunjungi Tiongkok, ini menjadi kali pertama dirinya menyaksikan Dragon Boat Festival secara langsung.
“Sangat menyenangkan. Saya sudah beberapa kali datang ke Tiongkok, tetapi ini pertama kali melihat Dragon Boat Festival secara langsung. Biasanya saya hanya menonton dari ponsel, sekarang saya melihatnya sendiri. Energinya benar-benar terasa,” katanya.
Hari itu, genderang terus ditabuh. Dayung terus bergerak. Sorak penonton tak berhenti menggema. Dari tepian Grand Canal, saya menyaksikan bagaimana sebuah budaya tidak sekadar dipertahankan, melainkan terus dirayakan.***
Editor : Donny Tabelak