Masyarakat Wajib Pilah Sampah, Tak Ada yang Menumpuk di Jalanan
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Pengelolaan sampah di Kota Beijing terbilang baik.
Tidak ada sampah yang menumpuk, apalagi yang berserakan. Penjuru kota bersih dari sampah.
Bukan hanya di jalan protokol, tapi juga di jalan-jalan kecil lingkungan perumahan.
Hal itu yang saya rasakan saat berkeliling Kota Beijing. Selama di kota ini saya lebih banyak berjalan kaki.
Jarak ke supermarket misalnya, hanya 5 menit jalan kaki.
Tempat rekreasi seperti Yuangminyuan Park bisa ditempuh dengan 30 menit jalan kaki. Bila ingin ke mall, cukup 20 menit jalan kaki.
Sepanjang perjalanan, mata saya menyapu sudut pedestrian di Beijing. Baik itu pedestrian di jalur utama, maupun yang agak jauh dari jalanan. Hasilnya, tidak ada sampah yang berserakan.
Pun di Renmin University of China tempat saya tinggal, tak ada sampah yang menumpuk.
Sebagaimana lazimnya kota-kota besar, Beijing juga pernah memiliki masalah dalam hal tata kelola sampah.
Kota ini pernah “dikepung” dengan ribuan titik pengelolaan sampah yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Sejak 1995, Beijing mulai memperketat pengelolaan sampah.
Lalu pada 2008, pemerintah membuka fasilitas insinerator untuk pengelolaan sampah.
Selanjutnya sejak tahun 2018 tata kelola sampah semakin diketatkan.
Kini masyarakat Beijing sudah terbiasa melakukan pengelolaan sampah. Mereka wajib mengelola sampah ke empat kategori berbeda.
Masing-masing kategori sampah sisa makanan yang ditandai dengan bak sampah berwarna hijau, sampah daur ulang yang ditandai dengan bak sampah warna biru, sampah yang tak bisa didaur ulang alias resiud ditampung pada bak sampah warna kuning, sementara limbah elektronik ditempatkan pada tong berwarna merah.
Di areal kampus dan di jalanan, tong sampah yang paling saya banyak temui adalah tong berwarna kuning dan warna biru.
Biasanya jumlah tong warna kuning jauh lebih banyak dibandingkan warna biru. Perbandingannya bisa 1:5, artinya satu tong sampah daur ulang didampingi dengan 5 tong untuk sampah non daur ulang.
Sementara tong berwarna hijau ada di lapak penyedia makanan.
Baik itu resto, kantin, mini market yang menyediakan makanan, maupun di rumah tangga.
Sedangkan titik pembuangan limbah elektronik lebih langka lagi. Di area kampus misalnya, saya hanya menemukan di satu titik saja.
Untuk sampah-sampah organik, setiap malam ada truk sampah yang berkeliling untuk mengangkut sampah tersebut.
Truk yang digunakan merupakan truk tertutup, sehingga baunya tidak menyebar.
Selanjutnya sampah itu diangkut ke fasilitas pengelolaan untuk diolah menjadi pupuk.
Sementara sampah-sampah non daur ulang dan residu, biasanya diangkut pada dini hari hingga pagi hari.
Sampah tersebut diangkut dengan truk khusus yang dilengkapi dengan kemampuan untuk memadatkan sampah.
Sampah selanjutnya dibawa ke fasilitas pengelolaan untuk diubah menjadi energi listrik.
Nah khusus sampah-sampah daur ulang, biasanya sudah menjadi sasaran para pemulung. Mereka selanjutnya membawa sampah itu ke pabrik daur ulang.
Nyaris tidak ada sampah daur ulang yang dibiarkan berada di bak sampah.
Para pemulung juga terbiasa mengais sampah-sampah residu untuk mencari sampah yang masih memiliki nilai ekonomis.
“Kami sudah terbiasa memilah sampah, karena memang wajib. Membuang sampah juga bukan hal sulit, selama sudah dipilah,” ungkap Nancy, salah seorang pendamping sekaligus penerjemah bagi jurnalis peserta program CIPCC.
Untuk masalah pengelolaan sampah ini, Bali perlu belajar kepada Tiongkok. Ada pola yang bisa diadaptasi, utamanya soal pemilahan sampah.
Utamanya soal sampah organik, limbah dapur, dan sisa makanan.
Mengingat ketiga hal ini sempat menjadi persoalan dalam tata kelola sampah.***