Menelusuri Jejak Jalur Sutra hingga WTO, di Museum Dagang Negeri Tirai Bambu
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Sebuah koin kuno berukuran kecil tersimpan rapi di balik kaca.
Usianya ratusan bahkan mungkin ribuan tahun.
Benda sederhana itu menyimpan kisah besar tentang bagaimana Tiongkok membangun hubungan dengan dunia jauh sebelum pesawat, kapal kontainer, atau internet ditemukan.
Kisah itu saya temukan saat mengunjungi Museum of Foreign Economic and Trade Relations di lingkungan University of International Business and Economics (UIBE), Beijing, Senin (22/6/2026).
Bersama puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), saya diajak menelusuri perjalanan panjang perdagangan luar negeri Tiongkok dari masa kuno hingga era globalisasi.
Museum ini bukan museum biasa. Ia merupakan museum profesional pertama di Tiongkok yang secara khusus mendokumentasikan sejarah perdagangan luar negeri dan kerja sama ekonomi negara tersebut.
Di dalamnya tersimpan lebih dari seribu artefak dan dokumen sejarah yang merekam perjalanan Tiongkok membangun hubungan ekonomi dengan dunia.
Begitu memasuki ruang pameran, pengunjung langsung dibawa ke masa ribuan tahun silam.
Deretan relik perdagangan kuno tertata rapi di balik etalase kaca.
Ada berbagai jenis koin dan mata uang yang diyakini digunakan dalam aktivitas perdagangan antara Tiongkok kuno dengan bangsa-bangsa lain di sepanjang Jalur Sutra.
Salah satu yang menarik perhatian adalah uang bolong yang berasal dari Dinasti Song yang berkuasa pada 960-1279.
Ribuan keping uang itu dahulu dirangkai menjadi satu kesatuan untuk memudahkan transaksi.
Salah satu yang dipamerkan merupakan seribu keping uang yang diikat. Konon uang itu juga dijadikan sabuk dan hanya digunakan oleh mereka yang berstatus konglomerat.
Uang-uang itu sudah mulai tampak hijau dimakan usia.
Melihatnya dari dekat, ingatan saya langsung melayang ke Bali. Bentuk dan karakter huruf pada uang tersebut sangat mirip dengan pis bolong atau uang kepeng yang hingga kini masih digunakan masyarakat Bali sebagai bagian dari sarana upacara keagamaan.
Di sudut lain, tersimpan gelas perak dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-907.
Menurut penjelasan pemandu museum, benda tersebut diyakini digunakan sebagai wadah minum anggur atau wine pada masanya.
Artefak-artefak itu menjadi saksi bagaimana aktivitas perdagangan telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.
Saat itu para pedagang Tiongkok membawa sutra dan keramik ke berbagai wilayah dunia.
Sebagai gantinya, mereka kembali membawa rempah-rempah, logam, hingga berbagai komoditas berharga dari negeri-negeri yang mereka singgahi.
Menariknya, satu benda bisa memiliki fungsi berbeda di tempat yang berbeda pula.
Sebuah guci yang di Tiongkok digunakan sebagai lampu minyak, misalnya, ternyata dimanfaatkan sebagai vas di Eropa.
Museum tersebut juga menyimpan kisah lain yang tak kalah menarik. Bukan tentang barang dagangan, melainkan tentang manusia.
Salah satu dokumentasi memperlihatkan foto sekelompok anak muda Tiongkok yang berangkat ke Amerika Serikat pada 1872.
Mereka bukan wisatawan. Mereka adalah pelajar.
Kala itu, sebanyak 30 anak berusia 12 hingga 15 tahun berangkat dari Shanghai untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Program tersebut kemudian berkembang hingga memberangkatkan total 120 pelajar secara bertahap.
Foto-foto hitam putih itu menjadi pengingat bahwa keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan asing sudah menjadi bagian dari perjalanan modernisasi Tiongkok sejak lebih dari satu abad lalu.
Perjalanan museum kemudian berlanjut ke era yang lebih modern.
Pengunjung diajak melihat bagaimana Tiongkok membangun hubungan dagang internasional pada dekade 1950-an.
Saat itu, hubungan ekonomi negara tersebut masih didominasi kerja sama dengan Uni Soviet, negara-negara sosialis di Eropa Timur, serta sejumlah negara berkembang di Afrika.
Berbagai dokumen kerja sama, protokol perdagangan, stempel resmi, hingga peralatan administrasi diplomasi ekonomi masih tersimpan dengan baik.
Namun salah satu koleksi yang paling menyita perhatian berada di bagian akhir museum.
Sebuah pulpen sederhana dipajang di dalam kotak kaca.
Sepintas, benda itu tampak biasa. Namun ternyata pulpen tersebut digunakan dalam penandatanganan bergabungnya Tiongkok ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Doha, Qatar, pada 11 November 2001.
Pulpen itu digunakan langsung oleh Shi Guangsheng, Menteri Ekonomi dan Perdagangan Luar Negeri Tiongkok saat itu.
Menurut Liu, penerjemah sekaligus pemandu museum yang mendampingi rombongan CIPCC, pulpen tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena hanya terdapat empat buah.
"Satu disimpan di museum ini, satu berada di kementerian, satu di museum nasional, dan satu lagi disimpan oleh asisten pribadi beliau (Shi Guangsheng)," jelasnya.
Di hadapan pulpen tersebut, perjalanan panjang yang baru saja saya telusuri terasa seperti sebuah garis lurus yang utuh.
Dimulai dari uang bolong, sutra, dan keramik yang melintasi Jalur Sutra kuno, hingga berakhir pada pena yang menandai masuknya Tiongkok ke sistem perdagangan global modern.
Museum ini tidak hanya menyimpan benda-benda lama.
Ia menyimpan cerita tentang bagaimana perdagangan, diplomasi, dan keterbukaan terhadap dunia ikut membentuk Tiongkok menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia terbesar saat ini.***