Dari Robot Anjing hingga Drone Cerdas, Menyiapkan Masa Depan Energi Hijau
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Robot anjing berwarna putih berjalan perlahan di antara peralatan pembangkit listrik.
Sesekali ia berhenti, mengarahkan sensor ke panel-panel kelistrikan, lalu mengirimkan data ke pusat kendali.
Di sebelahnya ada robot bawah air. Lewat sebuah video diperlihatkan bahwa robot mampu menyelam untuk mendeteksi retakan yang tak terlihat oleh mata manusia.
Selain itu ada drone cerdas yang juga siap memantau kondisi bendungan dari ketinggian.
Pemandangan itu lebih menyerupai laboratorium teknologi masa depan daripada fasilitas energi konvensional.
Namun itulah yang disaksikan para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi China Datang Gaojing Integrated Energy Base di Beijing, Selasa (23/6/2026).
Kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana Tiongkok tidak hanya berbicara mengenai transisi energi, tetapi juga membangun ekosistem teknologi yang menopang perubahan tersebut.
China Datang International Power Generation Co., Ltd. merupakan salah satu perusahaan energi terbesar milik negara di Tiongkok.
Berdiri pada 29 Desember 2002 dengan modal terdaftar mencapai 37 miliar yuan atau setara dengan Rp 98,9 triliun.
Perusahaan ini kini mengelola berbagai sektor bisnis, mulai dari pembangkit listrik, batu bara, energi baru dan terbarukan, penyimpanan energi, hidrogen, hingga teknologi digital.
Hingga akhir 2025, kapasitas terpasang pembangkit yang dimiliki grup ini mencapai 214 gigawatt.
Menariknya, lebih dari separuh atau 51,21 persen kapasitas tersebut sudah berasal dari energi bersih.
Perjalanan menuju titik itu tidak berlangsung instan.
Sejak 2014 perusahaan China Datang mulai mempercepat transformasi dari ketergantungan terhadap energi berbasis batu bara menuju pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan.
Kini strategi tersebut menjadi bagian penting dari target transisi energi nasional Tiongkok.
Jejak transformasi itu terlihat jelas saat rombongan memasuki Gaojing Research and Development Office milik China Datang Science and Technology General Research Institute.
Fasilitas yang mulai beroperasi pada 2023 tersebut menjadi pusat pengembangan berbagai teknologi energi cerdas yang mencakup seluruh rantai industri energi.
Di salah satu laboratorium, para peneliti memperkenalkan sistem kontrol utama turbin angin bernama "Zhouxi".
Teknologi yang dikembangkan secara mandiri itu memungkinkan pengoperasian turbin angin tanpa bergantung pada teknologi impor.
Sistem tersebut kini telah digunakan pada hampir 300 turbin angin di tujuh provinsi di Tiongkok dan disebut memiliki performa yang setara dengan standar internasional.
Namun perhatian para jurnalis lebih banyak tertuju pada deretan robot dan perangkat inspeksi cerdas yang dipamerkan.
Ada robot bawah air yang mampu memeriksa kondisi bendungan pembangkit listrik tenaga air.
Robot tersebut dapat mendeteksi retakan maupun kerusakan struktur yang selama ini sulit dijangkau oleh penyelam manusia.
Tak jauh dari sana, robot anjing berkaki empat diperlihatkan berpatroli secara mandiri.
Dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), robot itu mampu melakukan inspeksi instalasi listrik, mendeteksi anomali peralatan, hingga membantu proses pemeliharaan.
Sementara drone inspeksi dapat terbang otomatis menyusuri area pembangkit dan bendungan untuk memetakan kondisi fasilitas secara real time.
Yang tak kalah menarik adalah "Zhijian No. 1", robot pemanjat pertama di Tiongkok yang dirancang khusus untuk memeriksa sambungan las pada menara turbin angin.
Pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan manusia di ketinggian puluhan meter kini dapat dilakukan secara otomatis dengan tingkat risiko yang jauh lebih rendah.
Semua perangkat tersebut terhubung dengan teknologi digital dan sistem komunikasi berbasis 5G yang memungkinkan pemantauan dilakukan dari pusat kendali.
Transformasi digital juga terlihat di pusat data energi yang mengembangkan sistem prediksi daya berbasis kecerdasan buatan.
Melalui penggabungan data cuaca, kondisi peralatan, serta riwayat produksi listrik dari pembangkit tenaga surya dan angin, sistem tersebut mampu memprediksi pasokan energi terbarukan secara lebih akurat.
Kemampuan itu menjadi kunci penting untuk menjaga stabilitas jaringan listrik ketika porsi energi hijau terus meningkat.
Setelah mengunjungi pusat riset, rombongan diajak melihat command center pembangkit listrik termal dengan kapasitas produksi mencapai 718,12 megawatt.
Dari ruangan itu, operator memantau berbagai unit pembangkit melalui layar-layar raksasa yang menampilkan data operasional secara real time.
Meski masih mengoperasikan pembangkit termal, perusahaan menegaskan arah pengembangan mereka kini semakin fokus pada energi rendah karbon.
Optimisme terhadap masa depan energi hijau juga mereka bawa hingga ke luar negeri, termasuk Indonesia.
Director of Digital and Intelligence Department China Datang, Mr. Li, mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini tengah menjajaki sejumlah peluang kerja sama pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia.
"Kami memiliki beberapa proyek kerja sama dengan Indonesia. Setidaknya ada empat provinsi yang sedang kami jajaki. Ada departemen lain di perusahaan kami yang juga sedang mengeksplorasi peluang pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi hijau.
Karena itu, China Datang memandang Indonesia sebagai salah satu mitra strategis dalam pengembangan energi masa depan.
"Kami sangat optimistis terhadap pengembangan green energy di Indonesia. Sebelumnya kami juga telah memberikan dukungan teknis untuk sejumlah proyek di Indonesia," kata Li.
Kunjungan ke Gaojing Integrated Energy Base memperlihatkan bahwa transisi energi bukan semata soal mengganti sumber listrik dari batu bara ke energi terbarukan.
Di baliknya terdapat investasi besar pada riset, inovasi, sumber daya manusia, dan teknologi digital yang bekerja secara bersamaan.
Bali yang berambisi menjadi pelopor provinsi dengan energi bersih di Indonesia juga harus bersiap mengambil langkah yang sama.***
Editor : Donny Tabelak