Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (40)

Eka Prasetya • Minggu, 28 Juni 2026 | 17:19 WIB
Wartawan Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya (kanan) di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing. Pada Rabu (24/6), kedutaan menggelar jamuan makan malam untuk menyambut rombongan Wakil Menteri Bappenas, Baleg DPR RI, dan DPD RI.(Foto Eka Prasetya) 
Wartawan Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya (kanan) di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing. Pada Rabu (24/6), kedutaan menggelar jamuan makan malam untuk menyambut rombongan Wakil Menteri Bappenas, Baleg DPR RI, dan DPD RI.(Foto Eka Prasetya) 

Semangkuk Sop dan Sepotong Rendang di KBRI Beijing yang Obati Rindu Tanah Air

Radarbadung.jawapoa.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Aroma rendang langsung menyeruak begitu tutup saji dibuka.

Di meja makan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing di kawasan Chaoyang, Beijing, malam itu tersaji nasi uduk, ayam goreng, ikan balado, sayur sop, telur rebus, kerupuk, hingga aneka jajanan tradisional seperti onde-onde, lumpia, dan kue mutiara.

Bagi sebagian tamu, hidangan tersebut mungkin hanya menu makan malam biasa.

Namun bagi saya dan Nadia Ayu Soraya, jurnalis Metro TV yang sama-sama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), makanan itu terasa berbeda.

Setelah satu setengah bulan berada di Tiongkok, lidah kami akhirnya kembali bertemu rasa rumah.

"Kangen makanan Indonesia akhirnya terobati. Ketemu rasa yang benar-benar pas dengan masakan di Indonesia," ujar Nadia sambil menambahkan sambal ke piringnya.

Malam itu, Rabu (25/6), menjadi kunjungan pertama kami ke KBRI Beijing sejak tiba di Tiongkok pada pertengahan 11 Mei lalu.

Undangan datang langsung dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun.

Begitu tiba di kompleks KBRI, suasana Indonesia langsung terasa.

Batik mendominasi pakaian para tamu. Wayang menghiasi beberapa sudut ruangan.

Di tengah Beijing yang berjarak lebih dari 5.000 kilometer dari Jakarta, sepotong Indonesia terasa hadir begitu dekat.

Pak Jo—sapaan akrab Djauhari Oratmangun—menyambut tamu satu per satu. Senyum yang sama juga ditunjukkan istrinya, Wiwik Oratmangun.

Tak hanya pejabat dan diplomat, malam itu hadir pula sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Tiongkok.

Suasana semakin hangat ketika para tamu bersama-sama menyanyikan lagu-lagu nasional.

"Tanah Airku", "Rayuan Pulau Kelapa", hingga "Sio Mama" bergema di ruangan.

Beberapa tamu tampak ikut bernyanyi pelan. Sebagian lainnya merekam momen tersebut dengan telepon genggam.

Di negeri orang, lagu-lagu itu terasa memiliki makna yang berbeda.

Jamuan malam tersebut digelar untuk menyambut Ketua Badan Legislasi DPR RI Bob Hasan, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard, serta rombongan Komite III DPD RI yang dipimpin Wakil Ketua Komite III DPD RI H. Jelita Donal.

Pertemuan itu juga menjadi ruang untuk melihat bagaimana hubungan Indonesia dan Tiongkok berkembang sangat pesat dalam satu dekade terakhir.

Dalam sambutannya, Dubes Djauhari memaparkan sejumlah angka yang menunjukkan kedekatan kedua negara.

Menurut dia, sejak hubungan Indonesia dan Tiongkok ditingkatkan menjadi kemitraan strategis komprehensif pada 2013, nilai perdagangan kedua negara melonjak tajam.

Jika pada 2017 nilai perdagangan masih berada di kisaran USD 70 miliar, maka pada 2025 nilainya telah mencapai sekitar USD 168 miliar.

Bahkan selama empat tahun terakhir Indonesia terus menikmati surplus perdagangan dengan Tiongkok.

"Ketika kami mulai bertugas di sini, investasi Tiongkok ke Indonesia masih sekitar USD 1,2 miliar. Sekarang sudah mencapai sekitar USD 40 miliar," ungkapnya.

Sebagai perbandingan, nilai perdagangan Indonesia dengan seluruh negara Uni Eropa hanya sekitar USD 29 miliar.

Dengan Australia sekitar USD 10 miliar dan Amerika Serikat sekitar USD 49 miliar.

Tak hanya ekonomi, hubungan politik kedua negara juga terus berkembang.

Presiden Joko Widodo tercatat tiga kali berkunjung ke Tiongkok selama masa pemerintahannya.

Presiden Prabowo Subianto juga telah tiga kali melakukan kunjungan ke Negeri Tirai Bambu.

Sebaliknya, Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Tiongkok, hingga sejumlah pimpinan tinggi negara tersebut juga beberapa kali berkunjung ke Indonesia.

Djauhari juga menaruh harapan besar kepada lebih dari 20 ribu mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di Tiongkok.

Menurutnya, mereka akan menjadi jembatan penting bagi hubungan kedua negara pada masa depan.

Sementara itu, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard mengungkapkan tiga agenda utama kunjungannya ke Tiongkok.

Salah satunya menghadiri pameran rantai pasok atau supply chain yang saat ini menjadi isu penting dalam perdagangan global.

Menurut Febrian, konsep rantai pasok modern kini tidak lagi sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.

Di dalamnya terdapat isu keberlanjutan, perlindungan lingkungan, keamanan ekonomi, hingga ketahanan industri nasional.

"Sudah tidak ada lagi negara yang bisa hanya membuat barang murah sendirian," ujarnya.

Selain itu, delegasi Indonesia juga mengunjungi Beijing University of Chinese Medicine untuk mempelajari pengembangan pengobatan tradisional yang telah terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional Tiongkok.

Menurut Febrian, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan tanaman herbal yang sangat besar, tetapi belum dikelola secara optimal.

Di Tiongkok, pengobatan tradisional ditempatkan sejajar dengan layanan medis modern dan bahkan masuk dalam skema asuransi kesehatan.

"Kalau pendekatan promotif dan preventif bisa diperkuat, biaya kuratif bisa ditekan," jelasnya.

Agenda ketiga adalah mempelajari tata kelola data nasional Tiongkok yang dinilai berhasil mengintegrasikan data lintas sektor.

Menurut dia, Indonesia saat ini tidak kekurangan data.

Tantangannya justru terletak pada integrasi antarinstansi yang masih berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan langkah menuju penguatan kebijakan Satu Data Indonesia dengan belajar dari pengalaman Tiongkok.

Malam semakin larut ketika acara mulai berakhir.

Di luar, Beijing tetap sibuk seperti biasa. Namun di dalam kompleks KBRI, malam itu saya merasa seperti pulang sejenak ke Indonesia.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #kbri Beijing #jurnalis #indonesia #china