Mempelajari Sosialisme Ala Negara Tirai Bambu Melalui Ruang Kuliah
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
“Ketika Partai Komunis Tiongkok didirikan pada 1921, anggotanya hanya 53 orang,” ungkap Lu Keli, dosen School of Marxism, Renmin University of China (RUC), Jumat (26/6) lalu.
Ia mengatakan itu di hadapan puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Karibia yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC).
Di dalam ruang kuliah Lide Building, kampus Renmin University of China, Beijing, para peserta menyimak perjalanan panjang organisasi politik yang selama lebih dari satu abad membentuk arah perjalanan Republik Rakyat Tiongkok.
Kini, kata Lu Keli, jumlah anggota Partai Komunis Tiongkok telah melampaui 100 juta orang.
Meski demikian, menurut dia, jumlah tersebut bukan yang terbesar di dunia.
“Di India jumlah anggota partai politik terbesar bahkan mencapai sekitar 200 juta orang,” ujarnya.
Kuliah bertajuk "History and Achievements of the Communist Party of China (Sejarah dan Pencapaian Partai Komunis Tiongkok, Red)" itu menjadi salah satu sesi yang memperkenalkan cara Tiongkok memahami perjalanan politiknya sendiri, mulai dari masa revolusi hingga transformasi menjadi kekuatan ekonomi global.
Bagi peserta CIPCC, perkuliahan tersebut bukan sekadar mempelajari sejarah partai politik, melainkan juga memahami fondasi ideologis yang selama ini menjadi salah satu pilar pembangunan Tiongkok modern.
Dalam pemaparannya, Lu Keli menegaskan bahwa komunisme yang berkembang di Tiongkok tidak sepenuhnya mengikuti model Uni Soviet.
Menurut dia, meskipun pada masa awal pendiriannya Partai Komunis Tiongkok banyak memperoleh dukungan dari Soviet, Beijing sejak awal berupaya menemukan jalannya sendiri.
“Tiongkok mencari bentuk komunismenya sendiri. Kami memang mendapatkan banyak bantuan dari Soviet pada masa awal, tetapi itu tidak berarti komunisme Tiongkok dan Soviet sama,” katanya.
Pencarian model pembangunan tersebut menjadi salah satu benang merah yang terus muncul sepanjang kuliah.
Menurut Lu, periode 1949 hingga 1956 merupakan masa penting ketika Tiongkok masih berupaya menemukan bentuk sosialisme yang paling sesuai dengan kondisi negaranya.
Masa itu dimulai setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Pemerintah saat itu menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari konsolidasi politik, stabilisasi ekonomi, reformasi agraria, hingga penyatuan wilayah nasional.
Di saat yang sama, Tiongkok juga terlibat dalam Perang Korea yang oleh narasi resmi Tiongkok disebut sebagai Perang Menentang Agresi Amerika Serikat dan Membantu Korea.
Menurut materi yang dipaparkan Lu Keli, kemenangan dalam periode awal tersebut menjadi fondasi bagi pembangunan negara modern yang kemudian berkembang pada dekade-dekade berikutnya.
Perkuliahan dibagi ke dalam sejumlah fase besar perjalanan Partai Komunis Tiongkok.
Fase pertama adalah “Kemenangan besar dalam Revolusi Demokratis Baru”, yang berfokus pada perjuangan melawan imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme birokrat demi mencapai kemerdekaan nasional.
Dalam fase ini, mahasiswa dan jurnalis peserta CIPCC diajak menelusuri berbagai peristiwa penting seperti Gerakan 4 Mei 1919, pendirian Partai Komunis Tiongkok pada Juli 1921, Pemberontakan Nanchang tahun 1927, Long March, hingga Perang Perlawanan terhadap Agresi Jepang.
Salah satu titik penting yang mendapat perhatian khusus adalah Pertemuan Zunyi pada Januari 1935 yang mengukuhkan Mao Zedong sebagai pemimpin utama partai dan menjadi titik balik perjalanan revolusi Tiongkok.
Fase berikutnya adalah “Revolusi dan pembangunan sosialis”, yang ditandai dengan transformasi kepemilikan alat produksi serta pembentukan sistem ekonomi sosialis setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.
Selanjutnya, Lu Keli menjelaskan fase “reformasi, keterbukaan, dan modernisasi sosialis”, yaitu periode ketika Tiongkok mulai membuka diri terhadap dunia luar sambil tetap mempertahankan sistem politik yang dipimpin Partai Komunis.
Periode inilah yang kemudian menjadi titik awal transformasi ekonomi Tiongkok menjadi salah satu kekuatan terbesar dunia.
Materi perkuliahan juga membahas “Era Baru Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok”, sebuah konsep yang merujuk pada periode kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
Dalam narasi resmi partai, era tersebut ditandai dengan berbagai pencapaian pembangunan, pengentasan kemiskinan, penguatan institusi negara, hingga target peremajaan bangsa Tiongkok.
Salah satu sesi yang paling menarik justru muncul saat diskusi berlangsung.
Seorang peserta menanyakan fenomena yang banyak terjadi di berbagai negara, yakni kecenderungan generasi muda yang semakin apolitis dan menjauh dari organisasi politik.
Lu Keli menjawab pertanyaan itu dengan nada optimistis. Menurut dia, Partai Komunis Tiongkok tidak pernah merasa kekurangan kader.
"Saya yakin Partai Komunis Tiongkok tidak pernah khawatir dengan kekurangan kader karena banyak sekali yang antre mendaftar menjadi anggota partai," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proses menjadi anggota partai tidak berlangsung singkat.
Seorang calon anggota dapat menunggu dua hingga lima tahun sebelum diterima secara resmi.
Persyaratan yang harus dipenuhi juga cukup ketat.
Mereka harus berusia minimal 18 tahun, memahami Marxisme, memahami sosialisme dengan karakteristik Tiongkok, serta mempelajari pemikiran para pemimpin partai seperti Mao Zedong, Deng Xiaoping, hingga Xi Jinping.
Menurut Lu, banyak mahasiswa mulai mengajukan diri menjadi anggota partai sejak masih berada di bangku kuliah.
Apabila belum berhasil diterima saat kuliah, mereka biasanya kembali mengajukan diri ketika sudah memasuki dunia kerja.
Jawaban itu menarik perhatian peserta. Di tengah berbagai perdebatan global mengenai masa depan ideologi dan politik, Tiongkok justru menunjukkan realitas yang berbeda.
Partai yang telah berusia lebih dari satu abad itu masih mampu menarik minat jutaan generasi muda untuk bergabung.
Bagi para jurnalis peserta CIPCC, kuliah itu menjadi kesempatan langka untuk mendengar langsung bagaimana Tiongkok menjelaskan sejarah, ideologi, dan perjalanan politiknya.***