Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (49)

Eka Prasetya • Selasa, 7 Juli 2026 | 17:47 WIB
Suasana di ruang redaksi Phoenix TV di Phoenix International Media Center, yang terletak di Distrik Chaoyang, Beijing.(Foto Eka Prasetya) 
Suasana di ruang redaksi Phoenix TV di Phoenix International Media Center, yang terletak di Distrik Chaoyang, Beijing.(Foto Eka Prasetya) 

Menyusuri Markas Phoenix TV, Simbol Ambisi Global Industri Media Tiongkok

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Dari kejauhan, bangunan itu tampak seperti pusaran raksasa yang membeku di tengah Kota Beijing.

Tidak memiliki sudut-sudut tegas seperti gedung perkantoran pada umumnya.

Seluruh tubuhnya melengkung, berpilin, lalu menyatu membentuk sebuah lingkaran yang seolah tak memiliki awal maupun akhir.

Di balik fasad itulah berdiri Phoenix International Media Center, markas Phoenix Media Group, salah satu konglomerasi media berbahasa Mandarin terbesar di dunia.

Kamis (2/7), para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) mendapat kesempatan melihat dari dekat bagaimana salah satu kekuatan media paling berpengaruh di Tiongkok membangun ekosistem jurnalismenya.

Kunjungan itu bukan sekadar melihat ruang redaksi atau studio televisi.

Kami juga diajak memahami bagaimana Tiongkok memadukan arsitektur, teknologi, penyiaran, dan transformasi digital menjadi satu identitas media yang dirancang untuk menjangkau audiens global.

Begitu memasuki kompleks Phoenix Center di Distrik Chaoyang, perhatian langsung tertuju pada atrium raksasa yang dibungkus ribuan panel kaca.

Cahaya matahari masuk melalui kisi-kisi baja yang membentuk cangkang bangunan, menciptakan bayangan geometris yang berubah mengikuti pergerakan waktu.

Di tengah ruang itu membentang Dream Bridge, sebuah jalur melengkung tanpa pilar yang menghubungkan area studio dengan gedung perkantoran.

Jalur tersebut menjadi simbol filosofi perusahaan, sekaligus menjadi salah satu sudut paling ikonik di gedung tersebut.

Phoenix Center bukan hanya kantor pusat sebuah perusahaan penyiaran.

Bangunan ini merupakan simbol bagaimana Tiongkok ingin menunjukkan kemajuan industri kreatifnya kepada dunia.

Arsiteknya, Shao Weiping sengaja mengambil inspirasi dari pita Möbius, sebuah struktur matematika yang hanya memiliki satu permukaan tanpa titik awal maupun akhir.

Bentuk itu kemudian dipadukan dengan filosofi yin-yang dalam kebudayaan Tiongkok.

Lekukan bangunannya bahkan dibuat tidak simetris mengikuti logo Phoenix TV yang menggambarkan dua burung feniks saling berhadapan.

Hal lain yang langsung terasa adalah keterbukaan.

Jika sebagian besar kantor media besar identik dengan sistem keamanan berlapis dan akses yang sangat terbatas, Phoenix justru memilih pendekatan berbeda.

Lantai bawah bangunan sengaja dibuat seolah melayang sehingga masyarakat dapat masuk ke halaman tengah.

Di sejumlah waktu, gedung ini membuka pameran seni, instalasi budaya, hingga jalur tur yang memungkinkan publik melihat aktivitas studio penyiaran dari balik kaca.

Pendekatan itu membuat batas antara ruang redaksi dan masyarakat terasa lebih tipis.

Seorang jurnalis asal Bangladesh, Easmin Akter, mengaku terkesan dengan konsep tersebut.

“Bangunan kantor sangat inspiratif. Suasana gedung yang nyaman dan terbuka membuat betah. Jadi kalau suntuk, tinggal keluar kantor dan jalan-jalan di area kantor,” ujarnya.

Komentar itu diamini banyak peserta lain.

Gedung tersebut memang tidak memberi kesan kaku sebagaimana kantor media pada umumnya.

Sebaliknya, ruang-ruang publik dipadukan dengan area kerja sehingga menghadirkan suasana yang lebih cair.

Di balik kaca-kaca transparan, aktivitas jurnalistik tetap berlangsung seperti biasa. Kru keluar-masuk studio.

Kamera bergerak mengikuti jadwal siaran.

Namun semuanya terasa menyatu dengan arsitektur yang dirancang untuk mengundang orang datang, bukan menjauh.

Dari atrium utama, rombongan kemudian diarahkan menuju salah satu area yang paling dinanti, yakni studio penyiaran Phoenix TV.

Di balik dinding-dinding kaca, ruang produksi tampak bekerja nyaris tanpa hiruk-pikuk.

Tidak banyak kru berlalu-lalang memindahkan lampu atau menggeser kamera sebagaimana lazim terlihat di studio televisi konvensional.

Sebagian besar perangkat bergerak secara otomatis mengikuti sistem yang telah diprogram.

Lampu-lampu studio bergeser perlahan dari langit-langit.

Kamera bergerak presisi mengikuti titik pengambilan gambar. Seluruh proses produksi berlangsung senyap, tetapi efisien.

Bagi sebagian peserta, pemandangan itu menjadi pengalaman baru.

"Studio kami di India berbeda. Di sini, lampu-lampu tergantung dan digerakkan secara otomatis. Ini sudah level up dan sangat maju," ujar Saurabh Kumar, jurnalis asal India, sambil mengamati pergerakan perangkat di dalam studio.

Namun, teknologi bukan satu-satunya hal yang ingin diperlihatkan Phoenix kepada para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC).

Di salah satu ruang diskusi, Chief Director Beijing Office Phoenix Media Group, Hu Ling, mengajak peserta memahami bagaimana media harus beradaptasi ketika kebiasaan masyarakat mengonsumsi informasi berubah sangat cepat.

Menurut Hu, televisi kini bukan lagi satu-satunya tujuan distribusi berita.

Ponsel telah menjadi layar pertama bagi jutaan orang untuk memperoleh informasi.

Karena itu, cara kerja ruang redaksi pun ikut berubah.

"Kami menjadikan mobile phone sebagai kekuatan utama kami. Baik dalam produksi maupun memasarkan konten,” ujarnya.

Saat melakukan live reporting misalnya, kru lebih banyak menggunakan ponsel.

Sementara tim yang berada di kantor, akan merekam live tersebut lalu membuat klip-klip pendek yang dijadikan konten di media sosial.

“Itu membuat brand kami sangat menempel di masyarakat. Sosial media kami gunakan untuk kecepatan, tapi di TV kami gunakan untuk cerita yang utuh dan mendalam,” jelasnya.

Strategi tersebut membuat ruang redaksi Phoenix bekerja dalam dua ritme sekaligus.

Ketika sebuah peristiwa besar terjadi, tim digital segera memproduksi potongan video pendek yang langsung didistribusikan ke berbagai platform media sosial.

Pada saat bersamaan, tim televisi menyiapkan laporan yang lebih lengkap untuk tayangan utama.

Dua pendekatan itu berjalan berdampingan.

Transformasi digital tersebut ditopang jaringan jurnalistik yang sangat luas. Hu Ling menjelaskan, Phoenix TV kini memiliki koresponden di 63 negara, menjadikannya salah satu organisasi media berbahasa Mandarin dengan jaringan peliputan internasional paling lengkap.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #Beijing #jurnalis #china #jawa pos radar bali