Melihat Prosesi Wisuda ala Kampus Tiongkok. Tak Banyak Seremoni, Hanya Berlangsung Sejam
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Suasana di Renmin University of China (RUC), tempat saya dan puluhan jurnalis dari berbagai belahan dunia lainnya tinggal, terasa berbeda.
Sabtu (4/7) pagi, suasana lebih padat dari biasanya. Sejak pagi, ribuan mahasiswa hilir mudik mengenakan toga yang didominasi berwarna merah.
Tepat pukul 08.00 pagi, ribuan mahasiswa berbalut toga mulai memenuhi Century Stadium, lapangan utama.
Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada auditorium megah, bahkan tidak ada tenda yang menaungi para wisudawan dari sengatan matahari musim panas Beijing.
Semua berdiri dan duduk di ruang terbuka yang sama.
Dosen, pimpinan universitas, mahasiswa, hingga tamu undangan berbagi terik matahari yang perlahan meninggi.
Namun tak satu pun tampak tergesa mencari tempat teduh.
Prosesi wisuda dimulai tepat waktu, berlangsung singkat, dan selesai sekitar pukul 09.00.
Bagi orang Indonesia yang terbiasa menyaksikan wisuda berlangsung berjam-jam, pemandangan itu terasa berbeda.
Tak ada pemanggilan nama ribuan lulusan satu per satu.
Tak ada antrean panjang menuju panggung untuk menerima ijazah. Seluruh rangkaian berlangsung padat, efisien, sekaligus khidmat.
Tahun ini, sekitar 8.000 mahasiswa Renmin University menyelesaikan pendidikannya, mulai jenjang sarjana, magister, hingga doktor (Ph.D.).
Perbedaan jenjang langsung terlihat dari warna toga yang dikenakan.
Lulusan sarjana memakai toga berwarna merah-hitam, mahasiswa magister mengenakan toga merah-biru, sedangkan doktor tampil dengan toga merah-marun.
Di antara ribuan lulusan itu, terdapat sejumlah mahasiswa asal Indonesia yang ikut merayakan hari bersejarah tersebut.
Jean Baptiste berhasil menuntaskan pendidikan Magister Finance.
Sementara Rizki Dwi Wibawa menyelesaikan studi Magister Jurnalistik di School of Journalism, fakultas yang selama beberapa pekan terakhir menjadi tempat belajar para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC).
“Akhirnya tuntas setelah dua tahun,” kata Rizki seraya tersenyum.
Sosok lain yang turut menjalani wisuda adalah Deng Nanzi, mahasiswa School of Journalism yang selama program berlangsung dikenal sebagai asisten bagi para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik.
Selama berada di Beijing, ia menjadi penghubung yang membantu berbagai kebutuhan peserta, mulai dari kegiatan akademik hingga kunjungan lapangan.
Begitu prosesi resmi berakhir, stadion perlahan berubah suasana.
Ribuan toga yang semula tersusun rapi segera membaur di sudut-sudut kampus.
Para lulusan berlarian mencari keluarga dan sahabat yang telah menunggu di luar stadion.
Kamera ponsel dan kamera profesional bergantian mengabadikan momen. Pelukan, tawa, dan ucapan selamat memenuhi setiap sudut kampus.
Tak sedikit orang tua membawa buket bunga berukuran besar.
Ada pula yang datang mengenakan pakaian terbaik hanya untuk menemani anak mereka berfoto di depan gedung-gedung ikonik Renmin University.
Bagi sebagian mahasiswa, sesi foto justru menjadi bagian terpanjang dari hari wisuda.
Berbeda dengan Indonesia, upacara wisuda di Tiongkok bukanlah momentum untuk membagikan ijazah kepada setiap lulusan di atas panggung.
Dalam sistem pendidikan tinggi di Tiongkok, lulusan menerima dua dokumen berbeda, yakni Graduation Certificate sebagai bukti menyelesaikan pendidikan dan Degree Certificate sebagai bukti memperoleh gelar akademik.
Kedua dokumen tersebut umumnya dibagikan melalui fakultas pada waktu yang berbeda, bukan saat upacara wisuda universitas berlangsung.
Karena itu, prosesi wisuda lebih menitikberatkan pada seremoni simbolis.
Rektor memberikan sambutan, dilakukan pemindahan tassel toga sebagai penanda kelulusan, lalu acara ditutup dengan sesi dokumentasi bersama.
Di universitas sebesar Renmin University, dengan ribuan lulusan setiap tahun, durasi sekitar satu jam menjadi hal yang lumrah.
Waktu yang singkat memungkinkan seluruh rangkaian berjalan disiplin tanpa mengurangi makna pencapaian akademik.
Meski sederhana, suasana haru tetap terasa.
Jika di Indonesia wisuda menjadi pesta panjang untuk merayakan perjalanan menuju kelulusan, di Tiongkok khususnya Renmin University, wisuda justru menjadi penanda singkat bahwa perjalanan berikutnya telah dimulai.***