Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (51)

Eka Prasetya • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:13 WIB
Suasana konser perpisahan di Central Park Renmin University of China (RUC) belum lama ini. (Foto Eka Prasetya) 
Suasana konser perpisahan di Central Park Renmin University of China (RUC) belum lama ini. (Foto Eka Prasetya) 

Selepas Wisuda, Malam Bernyanyi di Kampus Renmin University of China

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Langit Beijing belum benar-benar gelap ketika alunan musik mulai menggema dari Central Park, kawasan terbuka di jantung Renmin University of China (RUC), Sabtu (4/7).

Matahari masih menggantung tinggi sekitar pukul 18.00, tetapi hamparan rumput di depan panggung perlahan dipenuhi mahasiswa, dosen, alumni, hingga masyarakat yang datang untuk menikmati konser penutup rangkaian wisuda.

Beberapa jam sebelumnya, kampus masih diselimuti suasana haru. Ribuan mahasiswa mengenakan toga, berfoto bersama keluarga, dan mengabadikan momen kelulusan.

Menjelang sore, atmosfer itu berubah total.

Toga berganti kaus santai. Kamera berganti light stick. Tepuk tangan berganti nyanyian.

Konser itu menjadi penutup bagi hari kelulusan.

Sebuah cara merayakan akhir perjalanan di bangku kuliah sebelum para lulusan melangkah ke kehidupan baru.

Sayangnya, kesempatan menikmati konser dari dekat tidak datang begitu saja.

Penonton yang ingin memasuki area utama harus memiliki tiket yang telah dibeli sebelumnya.

Sistem masuk pun menggunakan face recognition, sehingga hanya pemilik tiket yang wajahnya telah terdaftar yang dapat melewati pintu pemeriksaan.

Saya terlambat mengetahui informasi tersebut.

Alhasil, pagar pembatas menjadi batas paling dekat yang bisa dicapai.

Dari luar arena, panggung masih terlihat jelas. 

Layar LED berukuran raksasa tetap menampilkan setiap penampilan para musisi, sementara dentuman musik terdengar hingga ke area luar.

Meski hanya menyaksikan dari balik pagar, suasana konser tetap terasa hidup.

Semakin malam, jumlah penonton terus bertambah.

Banyak yang rela berdiri berjam-jam demi menikmati pertunjukan.

Ketika matahari mulai tenggelam sekitar pukul 20.00, suasana berubah semakin magis.

Ribuan light stick perlahan menyala, menghiasi kerumunan seperti gugusan bintang yang turun ke permukaan tanah.

Cahaya warna-warni itu bergerak mengikuti irama lagu.

Hampir seluruh penonton ikut bernyanyi bersama para penampil yang bergantian naik ke atas panggung.

Ada yang tampil dalam format duo, boyband, hingga band lengkap.

Meski lirik lagu seluruhnya berbahasa Mandarin, antusiasme penonton tak pernah surut. 

Mereka hafal setiap bait, menyanyikannya nyaris tanpa jeda.

Bagi peserta program China International Press Communication Center (CIPCC), konser tersebut menjadi pengalaman baru melihat bagaimana budaya kampus di Tiongkok merayakan kelulusan mahasiswanya.

Jurnalis asal Thailand, Maneenat Onpanna, mengaku menikmati suasana konser meski tidak memahami arti lagu yang dibawakan.

“Menyenangkan, jadi bisa tahu bagaimana konser di Tiongkok. Lagunya banyak yang mendayu-dayu, seperti suasana sedih. Saya kurang paham apa artinya, tapi mungkin terkait dengan perpisahan, karena setelah wisuda mereka akan berpisah dan kembali ke rumahnya masing-masing,” ujarnya.

Kesan berbeda disampaikan Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan.

Menurutnya, konser tersebut memberikan gambaran menarik mengenai kehidupan mahasiswa di kampus-kampus Tiongkok.

“Seru juga bisa tahu seperti apa kehidupan kampus di Tiongkok. Meski kurang paham lagunya. Saya pribadi berharap ada lagu EDM juga, jadi lebih seru,” katanya sambil tertawa.

Bagi saya, konser itu justru menghadirkan cerita lain.

Setelah beberapa lagu diputar, udara musim panas Beijing membuat keringat bercucuran.

Meski malam perlahan turun, hawa panas masih bertahan. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan lokasi lebih awal dan kembali ke apartemen.

Di Renmin University of China, hari wisuda rupanya tidak berakhir ketika ijazah dibagikan.

Hari itu ditutup dengan cara yang sederhana, tetapi berkesan.

Berkumpul, bernyanyi, dan menikmati malam terakhir sebagai mahasiswa sebelum masing-masing menempuh perjalanan hidup yang baru.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #Beijing #jurnalis #china #jawa pos radar bali