Saat Jurnalis Belajar Menjadi Perajin, Merangkai Kesabaran dari Serpihan Kulit Kerang
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Suasana ruang kelas di Lide Building, Renmin University of China, Jumat (3/7), mendadak lebih menyerupai studio kerajinan daripada ruang perkuliahan.
Puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik, duduk membungkuk di depan meja masing-masing.
Mata menatap lekat sebuah bros kecil, sementara jemari sibuk memainkan pinset untuk memindahkan serpihan-serpihan mungil kulit kerang.
Nyaris tak terdengar percakapan. Yang sesekali memecah keheningan hanyalah bunyi tutup wadah plastik kecil yang dibuka, pinset yang menyentuh permukaan bros, atau tawa kecil ketika sepotong kulit kerang terlepas sebelum mencapai tempat yang dituju.
Botol-botol lem berukuran mungil, wadah transparan berisi serpihan kulit kerang berwarna-warni, dan alas kerja hijau menjadi "peralatan tempur" kami. Pagi itu, kami bertukar profesi menjadi perajin.
Tak ada yang mengejar tenggat berita. Tak ada pula suara papan ketik laptop. Yang diburu kali ini adalah ketelitian dan kesabaran.
Kelas kerajinan tangan itu dipandu Emma, seorang perajin yang didampingi penerjemah.
Sebelum praktik dimulai, ia mengajak para peserta mengenal salah satu warisan seni tertua Tiongkok, yakni seni tatahan kulit kerang.
Emma menjelaskan, kerajinan tersebut telah dikenal sejak awal Dinasti Shang, lebih dari 3.000 tahun silam.
Dalam perkembangannya, Luodian mencapai masa keemasan pada Dinasti Tang sebelum menjadi semakin rumit pada era Ming dan Qing.
Tekniknya tampak sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian luar biasa.
Kulit kerang air tawar maupun kerang laut dikikis menjadi potongan-potongan tipis berbentuk bunga, burung, tokoh, pola geometris, hingga aksara.
Potongan-potongan itu kemudian ditatahkan atau ditanam pada permukaan benda sesuai rancangan desain yang diinginkan.
"Sebagai kriya tradisional Tiongkok, simbolisme dan makna dari kerajinan kulit kerang ini utamanya tercermin dalam keberuntungan, kekayaan, panjang umur, dan kegembiraan. Hasil kerajinan tangan kulit kerang tidak hanya memiliki tampilan fisik yang indah, tetapi juga mengandung konotasi budaya yang kaya serta makna yang mendalam," jelas Emma.
Di berbagai daerah di Tiongkok, teknik tersebut berkembang dengan karakter masing-masing.
Salah satunya adalah teknik pernis kulit kerang dari Jishan, Provinsi Shanxi.
Bersama tradisi Luodian, teknik itu kini tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional Tiongkok.
Setelah pengantar sejarah selesai, setiap peserta menerima satu paket perlengkapan.
Isinya sederhana, sebuah pinset, bros berbahan logam berwarna keemasan, lem, serta beberapa wadah kecil berisi serpihan kulit kerang yang memantulkan kilau pelangi ketika terkena cahaya.
Setiap orang memperoleh motif yang berbeda. Ada yang mendapat pola pegunungan, daun bambu, hingga kupu-kupu.
Sementara saya menjadi satu-satunya peserta yang mendapatkan motif burung phoenix.
Burung ini diyakini sebagai simbol keagungan dalam budaya Tiongkok.
Pekerjaan dimulai dengan menghancurkan kulit kerang menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil.
Setelah permukaan bros diolesi lem, tantangan sesungguhnya dimulai.
Dengan bantuan pinset, setiap serpihan harus diambil satu demi satu, lalu diletakkan mengikuti garis pola sekaligus gradasi warna yang telah ditentukan.
Di atas meja, beberapa wadah plastik mungil terus dibuka dan ditutup. Kami memilih potongan kerang yang dianggap paling pas.
Ada yang berhenti cukup lama hanya untuk menentukan warna berikutnya, ada pula yang berkali-kali mengulang karena serpihan kecil itu meleset dari posisi yang diinginkan.
Serpihan kulit kerang yang ukurannya bahkan tak lebih besar dari butiran beras itu ternyata jauh lebih sulit dikendalikan daripada yang dibayangkan.
Saya pun merasakan hal yang sama.
Beberapa kali potongan kulit kerang terlepas dari ujung pinset sebelum berhasil menempel di tempat yang diinginkan.
Tantangannya bertambah karena mata saya sudah tidak setajam dulu. Melihat detail kecil dari jarak dekat membutuhkan usaha lebih.
Tak jarang saya harus mendekatkan wajah ke meja agar dapat memastikan setiap serpihan benar-benar mengikuti pola burung phoenix.
Namun, perlahan-lahan, potongan-potongan kecil yang semula tampak acak mulai membentuk gambar utuh.
Sayap, ekor, hingga lekuk tubuh burung phoenix muncul sedikit demi sedikit. Rasa lelah berganti menjadi kepuasan ketika serpihan-serpihan kecil itu akhirnya menyatu menjadi sebuah karya.
Setelah seluruh permukaan bros tertutup, lapisan lem kembali dioleskan agar setiap potongan melekat sempurna.
Bros kemudian dikeringkan sebelum dimasukkan ke dalam kotak perhiasan untuk dibawa pulang.
Proses itu membuat saya memahami mengapa Luodian menjadi salah satu seni kriya paling bergengsi dalam sejarah Tiongkok.
Pada masa kekaisaran, karya-karya Luodian menghiasi furnitur istana, kotak perhiasan, hingga alat musik.
Para perajin bahkan mampu mengolah kulit kerang menjadi lembaran yang sangat tipis, kurang dari setengah milimeter, sehingga dapat menghasilkan detail yang menyerupai sapuan kuas lukisan.
Tak mengherankan apabila penyelesaian satu karya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Pengalaman itu juga membekas bagi Tsendmaa Bayartogtokh, jurnalis asal Mongolia yang mengikuti kelas tersebut.
“Menyenangkan sekali. Mendapat pengetahuan dan pengalaman baru. Meski sulit, tapi ini akan menjadi kenang-kenangan yang bagus saat saya bawa pulang ke Mongolia,” ujarnya.
Menjelang kelas berakhir, suasana kembali hangat. Kami saling memperlihatkan hasil karya masing-masing.
Tak ada bros yang benar-benar sama. Ada yang sangat rapi, ada pula yang masih menyisakan celah kecil di antara serpihan kulit kerang.
Namun, tidak ada yang mempermasalahkan kesempurnaan. Karena pagi itu, kami mendapat pengalaman langsung mempelajari kerajinan Tiongkok.***