Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (54)

Eka Prasetya • Minggu, 12 Juli 2026 | 17:54 WIB
Suasana di jalur 10 Beijing Subway. Jalur ini menjadi salah satu rute tersibuk dalam layanan subway di Kota Beijing.(Foto Eka Prasetya) 
Suasana di jalur 10 Beijing Subway. Jalur ini menjadi salah satu rute tersibuk dalam layanan subway di Kota Beijing.(Foto Eka Prasetya) 

Menyusuri Beijing dengan Subway, Saat Kota Besar Terasa Dekat dalam Sekali Tap

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Jika ada satu hal yang paling mengubah cara saya menikmati Beijing selama sepekan terakhir, jawabannya bukan gedung pencakar langit, bukan pula kemegahan Kota Terlarang alias Forbidden City.

Melainkan sebuah perjalanan yang dimulai dari lorong bawah tanah.

Hari itu, akhir Juni lalu, saya untuk pertama kalinya menggunakan Beijing Subway.

Tujuannya menyaksikan Dragon Boat Festival di Distrik Tongzhou, sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota.

Saya sempat membayangkan perjalanan akan rumit karena harus berpindah jalur di kota berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa.

Ternyata dugaan itu keliru. Dengan subway, semuanya lebih mudah dan murah.

Begitu melewati pintu pemeriksaan keamanan, saya hanya perlu menempelkan kartu debit Indonesia di gerbang otomatis.

Tidak membeli tiket, tidak menukar uang tunai, bahkan tidak perlu mengunduh aplikasi khusus.

Kartu berlogo Mastercard, Visa, American Express, hingga JCB langsung terbaca sistem. Alternatif lain pun tersedia melalui QR Code di Alipay.

Beberapa detik kemudian, perjalanan dimulai.

Sejak hari itu, Beijing Subway menjadi moda transportasi yang paling sering saya gunakan. Hampir setiap sudut kota terasa mudah dijangkau.

Saya menggunakannya menuju Tiananmen Square yang menjadi jantung politik Tiongkok, menyusuri lorong menuju Forbidden City, berjalan santai di kawasan Hutong yang sarat sejarah, menikmati sore di Beihai Park.

Semuanya bisa dicapai hanya dengan berpindah jalur.

Dari kampus Renmin University of China (RUC) – tempat saya mukim selama di Beijing – saya hanya perlu menuju stasiun Suzho Jie di jalur 10.

Stasiun ini terletak di sebelah utara west gate RUC.

Cukup ditempuh dengan lima menit jalan kaki.

Setelah itu saya tinggal memilih stasiun mana yang akan dituju.

Pilihan menggunakan subway juga terasa jauh lebih masuk akal dibanding memesan taksi daring seperti Didi.

Biayanya lebih murah, waktunya lebih pasti, dan yang paling penting, bebas dari kemacetan jalan raya Beijing yang terkenal padat.

Satu-satunya tantangan hanyalah mendapatkan tempat duduk.

Terutama ketika kereta memasuki Jalur 10, jalur lingkar yang menjadi urat nadi transportasi ibu kota Tiongkok.

Pada jam sibuk, gerbong nyaris selalu penuh.

Penumpang berdiri rapat sambil sesekali memberi ruang kepada mereka yang baru naik di setiap stasiun.

Namun justru di situlah saya merasakan denyut kehidupan kota.

Pegawai kantoran, mahasiswa, wisatawan, hingga lansia berbagi ruang dalam gerbong yang sama.

Semua bergerak dengan ritme yang nyaris tanpa jeda.

Tak mengherankan. Hingga awal 2026, Beijing Subway telah mengoperasikan 30 jalur sepanjang 909 kilometer dengan 423 stasiun, termasuk 106 stasiun transit.

Setiap harinya, rata-rata hampir 9,8 juta penumpang menggunakan layanan ini, menjadikannya salah satu sistem kereta bawah tanah tersibuk di dunia.

Bahkan pengembangannya belum berhenti.

Saat ini masih ada sejumlah jalur baru yang sedang dibangun.

Pemerintah Beijing menargetkan jaringan tersebut berkembang menjadi lebih dari 40 jalur pada 2035.

Yang membuat saya terkesan bukan hanya skalanya.

Seluruh jaringan terasa benar-benar terintegrasi.

Berpindah jalur dilakukan dengan petunjuk yang jelas.

Informasi tersedia dalam bahasa Mandarin dan Inggris.

Kesan serupa juga dirasakan Saurabh Kumar, jurnalis asal India yang menjadi rekan saya dalam program China International Press Communication Center (CIPCC).

“Layanannya sangat terintegrasi. Semua stasiun terhubung satu dengan yang lain. Jadi mudah sekali untuk pergi ke mana-mana. Tidak perlu beli tiket khusus, cukup tap kartu bank, sehingga semuanya lebih mudah. Saya terbiasa menggunakan subway di India, tapi ini lebih mudah,” katanya.

Pengalaman pertama menggunakan subway juga meninggalkan kesan mendalam bagi Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan.

Menurutnya, negaranya memang memiliki sistem kereta bawah tanah, tetapi hanya melayani kota-kota metropolitan.

“Pengalaman menggunakan subway sangat menyenangkan. Saya kira kota-kota metropolitan memang perlu memiliki sistem transportasi publik seperti ini,” ujarnya.

Ucapan itu membuat pikiran saya melayang jauh ke Bali.

Pulau yang menjadi rumah bagi jutaan wisatawan setiap tahun itu menghadapi persoalan kemacetan.

Khususnya di kawasan Denpasar, Badung, hingga jalur menuju bandara, antrean kendaraan hampir menjadi pemandangan sehari-hari.

Perjalanan yang seharusnya hanya belasan menit kerap berubah menjadi hampir satu jam.

Selama berada di Beijing, saya beberapa kali membayangkan bagaimana jika Bali memiliki sistem transportasi seperti ini.

Wisatawan tentu tidak perlu bergantung pada kendaraan pribadi. 

Warga pun memiliki alternatif transportasi yang cepat, murah, dan bebas macet.

Harapan itu sebenarnya sempat muncul. Pada 2024, proyek Subway Bali bahkan telah melalui seremoni peletakan batu pertama.

Saat itu, proyek tersebut digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan kemacetan di Pulau Dewata.

Namun hingga kini, dua tahun berselang, pembangunan fisiknya belum juga terlihat.

Sementara Beijing terus memperluas jaringan bawah tanahnya, Bali masih berkutat dengan rencana.

Perjalanan menggunakan Beijing Subway akhirnya bukan sekadar pengalaman berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain.

Ia menjadi pelajaran bahwa kota sebesar apa pun tetap dapat dibuat nyaman ketika transportasi publik dibangun secara serius, terintegrasi, dan berpihak kepada penggunanya.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #Beijing #subway #jurnalis #china