Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (55)

Eka Prasetya • Senin, 13 Juli 2026 | 17:40 WIB
Suasana di Liangma River, Beijing. Lokasi ini menjadi rujukan bagi warga Beijing untuk melepas kepenatan usai bekerja, atau untuk liburan akhir pekan bersama keluarga. (Foto Eka Prasetya) 
Suasana di Liangma River, Beijing. Lokasi ini menjadi rujukan bagi warga Beijing untuk melepas kepenatan usai bekerja, atau untuk liburan akhir pekan bersama keluarga. (Foto Eka Prasetya) 

Menyusuri Liangma River, Dari Sungai Terlupkan Menjadi Oase Kota

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Senuah foto membuat saya penasaran. Foto itu terpajang di salah satu sudut Party School of the Beijing Municipal Committee of the CPC yang saya kunjungi beberapa pekan sebelumnya.

Di dalam bingkai besar itu tampak sebuah sungai dengan air yang jernih. Orang-orang duduk santai di tepian, sebagian mengayuh kayak, sementara gedung-gedung modern berdiri megah di kejauhan.

Sulit membayangkan suasana seperti itu berada di tengah hiruk-pikuk Beijing, kota metropolitan yang dihuni lebih dari 20 juta jiwa.

Rasa penasaran itulah yang akhirnya membawa saya ke sana, Rabu (8/7).

Perjalanan dimulai dari Renmin University of China, tempat saya tinggal selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC).

Dari kampus, saya berjalan menuju Stasiun Suzhou Jie, lalu naik Beijing Subway selama sekitar 30 menit sebelum turun di Stasiun Liangmaqiao.

Keluar dari stasiun, saya hanya perlu berjalan kaki beberapa menit.

Dan begitu tepian sungai mulai terlihat, saya langsung memahami mengapa foto itu dipajang sebagai salah satu contoh keberhasilan penataan ruang publik di Beijing.

Liangma River sore itu benar-benar hidup.

Di atas permukaan air yang tenang, sejumlah orang mendayung kayak dan kano.

Beberapa anak bermain air di tepian. Di sudut lain, beberapa warga berenang santai seolah sungai itu adalah kolam renang raksasa di tengah kota.

Tak jauh dari sana, sekelompok pria paruh baya duduk melingkar di bawah rindangnya pepohonan.

Mereka bermain kartu sambil bertelanjang dada, sesekali tertawa keras ketika salah satu di antara mereka kalah permainan.

Di bangku-bangku sepanjang pedestrian, pasangan muda, keluarga, hingga wisatawan asing menikmati sore dengan cara masing-masing.

Ada yang sekadar berbincang, membaca buku, memotret pemandangan, atau menikmati semilir angin musim panas.

Pemandangan itu terasa kontras dengan bayangan saya tentang sebuah ibu kota yang identik dengan jalan raya padat dan gedung pencakar langit.

Liangma River justru menghadirkan sisi lain Beijing. Di sini, sungai bukan sekadar saluran air. Ia menjadi ruang hidup.

Mereka yang ingin bermain air bisa menyewa kano atau perahu karet dengan tarif sekitar 100 yuan (sekitar Rp 250 ribu) untuk penggunaan seharian pada hari biasa.

Saat akhir pekan, tarifnya sedikit berbeda karena jumlah pengunjung meningkat tajam.

Sementara bagi yang lebih suka menikmati suasana, pilihan lain tak kalah menarik. Deretan kafe berdiri menghadap sungai.

Ada yang menyajikan kopi, makanan ringan, hingga bir dingin yang menjadi teman pas menghadapi udara musim panas Beijing.

Salah satu coffee shop bahkan memajang mobil sport Porsche di dalam ruangannya, memadukan gaya hidup modern dengan suasana santai di tepian sungai.

Saya kemudian berbincang dengan seorang pria asal Beijing yang baru selesai berenang.

Ia mengaku hampir rutin datang ke Liangma River selama tiga tahun terakhir.

“Kalau musim panas, saya sering berenang di sini. Tempatnya nyaman, airnya bersih, dan sekarang jauh lebih ramai dibanding beberapa tahun lalu,” katanya.

Cerita itu diamini Ali, rekan saya di Beijing. Menurutnya, sekitar satu dekade lalu Liangma River sama sekali tidak seramai sekarang.

Transformasi besar melalui penataan kawasan membuat sungai tersebut berubah menjadi salah satu destinasi favorit warga lokal maupun wisatawan.

Yang menarik, seluruh kawasan ini dapat dinikmati tanpa membeli tiket. Siapa pun bebas berjalan kaki menyusuri pedestrian, duduk di tepian sungai, menikmati matahari terbenam, ataupun sekadar menghabiskan waktu tanpa harus mengeluarkan biaya.

Soal keamanan pun nyaris tak menimbulkan kekhawatiran. Sepanjang jalur pedestrian, petugas keamanan dan polisi tampak rutin berpatroli.

Kehadiran mereka bukan untuk menciptakan kesan kaku, melainkan memastikan ribuan orang dapat menikmati ruang publik dengan aman dan nyaman.

Sore itu saya akhirnya memahami mengapa Liangma River menjadi salah satu ruang publik paling populer di Beijing.

Bukan semata karena sungainya. Melainkan karena kota ini berhasil mengubah kawasan yang dahulu biasa saja menjadi tempat di mana masyarakat merasa memiliki ruang untuk bernapas.

Di tengah kota yang bergerak begitu cepat, Liangma River memberi kesempatan bagi warganya untuk memperlambat langkah.

Pengalaman itu tanpa sadar membawa pikiran saya pulang ke Bali.

Pulau ini memiliki banyak sungai yang membelah kota maupun desa. Namun, sebagian besar masih dipandang sebagai halaman belakang, bukan wajah depan yang layak dinikmati masyarakat.

Padahal, jika ditata dengan serius, sungai dapat menjadi ruang publik yang hidup.

Tempat orang berjalan kaki, bersepeda, menikmati kopi, bermain air, atau sekadar melepas penat setelah seharian bekerja.

Liangma River menunjukkan bahwa sungai tidak harus menjadi batas sebuah kota. Ia justru bisa menjadi jantung kehidupan kota.

Dan mungkin, itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari tepian sungai kecil di tengah Beijing itu.***

Editor : Donny Tabelak
#Tiongkok #Beijing #jurnalis #china #jawa pos radar bali