Mengintip Ruang Redaksi CGTN dari Balik Gedung Ikonik China Media Group
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Begitu kendaraan yang kami tumpangi memasuki kawasan Guanghua Road, Beijing, pandangan saya langsung tertuju pada sebuah bangunan yang berbeda dari gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya.
Gedung itu menjulang tinggi, tetapi bukan bentuknya yang membuat saya terpaku.
Dua menara raksasa berdiri terpisah, lalu saling terhubung di bagian atas, membentuk siluet arsitektur yang seolah menantang gravitasi.
Dari kejauhan, bangunan itu tampak seperti sebuah gerbang raksasa yang membingkai langit Beijing.
Itulah China Media Group (CMG) Office Block, salah satu ikon arsitektur modern di ibu kota Tiongkok sekaligus pusat produksi berbagai saluran penyiaran terbesar di negara tersebut.
Bagi kebanyakan orang, bangunan itu hanya bisa dinikmati dari luar.
Akses ke dalam gedung sangat terbatas dan hanya diperuntukkan bagi karyawan maupun tamu yang memperoleh undangan khusus.
Kesempatan itu datang kepada saya bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC).
Dengan undangan resmi, kami akhirnya dapat memasuki salah satu pusat industri media terbesar di Tiongkok.
Memasuki lobi, kesan modern langsung terasa. Prosedur keamanan berlangsung ketat.
Setiap tamu harus melalui pemeriksaan sebelum dapat mengakses area kerja di dalam gedung.
Pengalaman paling menarik justru dimulai ketika kami diajak melihat langsung bagaimana berita diproduksi oleh China Global Television Network (CGTN), saluran televisi internasional yang berada di bawah China Media Group.
Selama ini, jutaan orang di berbagai belahan dunia hanya menyaksikan hasil akhirnya melalui layar televisi maupun platform digital.
Di balik layar itu, ternyata terdapat sistem kerja yang sangat terstruktur.
Kami diperlihatkan bagaimana sebuah isu dipilih, direncanakan, hingga berkembang menjadi liputan yang disiarkan ke berbagai negara.
Yang menarik, CGTN tidak hanya mengoperasikan satu saluran internasional.
Mereka mengelola sejumlah kanal dengan bahasa yang berbeda-beda, mulai dari bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, Arab, Rusia, hingga kanal dokumenter.
Setiap kanal memiliki tim redaksi yang bekerja sesuai karakter audiens masing-masing.
Di ruang presentasi, perhatian saya tertuju pada layar besar yang menampilkan berbagai data tentang perilaku penonton.
Bagi CGTN, berita ternyata tidak berhenti ketika tayangan selesai disiarkan.
Setiap program terus dipantau melalui beragam indikator, mulai dari jumlah penonton, wilayah asal audiens, hingga preferensi konten yang paling banyak diminati.
Data-data itu kemudian menjadi dasar dalam menentukan strategi pemberitaan berikutnya.
“Data ini sangat penting bagi kami untuk mempelajari siapa audiens kami,” ungkap Cheng Guang dari CGTN.
Yang membuat saya cukup terkejut, Indonesia ternyata masuk dalam daftar 10 negara dengan jumlah penonton CGTN terbesar.
Artinya, setiap keputusan editorial yang dibuat di ruang redaksi Beijing berpotensi menjangkau jutaan penonton di Indonesia.
Di era media digital, informasi semacam itu menjadi sangat berharga.
Bukan sekadar angka statistik, melainkan menjadi alat yang membantu redaksi memahami siapa audiens mereka dan bagaimana sebuah berita sebaiknya disajikan.
Kunjungan ke CMG memberi saya perspektif baru bahwa industri media modern tidak lagi hanya mengandalkan naluri jurnalistik.
Keputusan editorial kini berjalan berdampingan dengan analisis data.
Redaksi tidak hanya berbicara tentang apa yang penting untuk diberitakan, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat mengonsumsi informasi.***
Sumber : Radar Badung