Seminggu Belajar di Dapur CGTN, Saat Jurnalisme Dimulai Jauh Sebelum Kamera Menyala
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Setiap pagi, kereta bawah tanah Beijing membawa saya menyusuri rutinitas yang sama.
Dari Stasiun Suzhou Jie, tak jauh dari Renmin University of China tempat saya tinggal selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), perjalanan berakhir di Stasiun Jintai Xizhao.
Dari sana, saya berjalan beberapa ratus meter menuju gerbang selatan China Media Group (CMG) Office Block.
Selama lima hari, Senin (6/7) hingga Jumat (10/7), perjalanan itu menjadi bagian dari pengalaman yang mungkin hanya sekali saya rasakan dalam karier sebagai jurnalis.
Saya mendapat kesempatan menjalani program magang singkat di China Global Television Network (CGTN), media internasional milik China Media Group yang menyiarkan berbagai program ke puluhan negara.
Seminggu tentu bukan waktu yang panjang. Namun, justru dalam waktu yang singkat itu saya melihat sesuatu yang selama ini nyaris tak pernah tampak di layar televisi.
Yakni bagaimana sebuah program lahir, bahkan jauh sebelum kamera mulai merekam.
Saya ditempatkan di divisi Culture, lebih spesifik lagi pada tim Music Culture.
Di sana saya bekerja bersama Olivia Hutchinson, jurnalis asal Jamaika yang juga menjadi peserta CIPCC.
Kami bergabung dengan tiga orang yang menjadi tulang punggung tim tersebut, yakni Lily, Ali, dan Fei.
Penempatan di divisi ini membawa pikiran saya melayang ke tahun 2016, saat saya mendapat penugasan di desk hiburan dan budaya Jawa Pos Radar Bali.
Saat itu aktivitas peliputan banyak berkaitan dengan sekaa gong, sanggar seni, seniman, pelukis, maupun Musisi.
Saya semula membayangkan pekerjaan mereka akan dipenuhi aktivitas peliputan atau proses syuting yang berkaitan dengan konser musik. Dugaan itu ternyata keliru.
Sebagian besar waktu mereka justru dihabiskan di ruang diskusi, menyusun konsep, mencari narasumber, melakukan riset, memperdebatkan sudut pandang, hingga menyempurnakan setiap detail program sebelum akhirnya diputuskan layak diproduksi.
Ali, yang menjadi mentor saya selama magang, memberi gambaran nyata tentang cara kerja itu.
Latar belakangnya bukan komunikasi ataupun jurnalistik, melainkan musicology.
Pengetahuan yang mendalam mengenai musik membuatnya mampu berdialog dengan para komposer, musisi, hingga sutradara dalam level yang sangat substantif.
Ia pernah mewawancarai Rob Minkoff, sutradara film The Lion King.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa wawancara di media internasional bukan sekadar mengajukan daftar pertanyaan, melainkan membangun percakapan yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap bidang yang digeluti narasumber.
Selama seminggu itu, sebagian besar waktu kami justru diisi dengan diskusi mengenai lanskap musik di Indonesia dan Tiongkok.
Kami berbincang tentang perkembangan jazz, R&B, pop, rock, EDM, hingga tumbuhnya musik independen di kedua negara.
Percakapan-percakapan itu mungkin tampak sederhana.
Namun, dari sanalah saya memahami bahwa mengenali budaya menjadi bekal penting sebelum sebuah cerita diproduksi.
Sayangnya, masa magang yang hanya berlangsung sepekan membuat saya belum sempat terlibat hingga tahap produksi.
Saya hanya mengikuti proses perencanaan program.
Meski demikian, justru proses itulah yang paling membuka wawasan.
Di CGTN, sebuah program tidak lahir dari keputusan spontan.
Tim menggelar rapat berkali-kali untuk membahas tema, menentukan sudut pandang, memilih narasumber, hingga menyusun alur cerita.
Tidak jarang sebuah program sudah harus benar-benar siap sekitar satu bulan sebelum proses pengambilan gambar dimulai.
Pandangan itu diperkuat oleh Cheng Guang, salah satu jurnalis CGTN, yang menjelaskan bahwa pekerjaan terbesar seorang jurnalis justru berlangsung ketika kamera belum dinyalakan.
“Sekitar 90 persen pekerjaan kami di belakang kamera. Kami berteman dengan siapa saja. Jurnalis, masyarakat umum, profesor, dosen, siapa saja. Mendatangi konferensi, membaca paper, tetap menjaga hubungan, menjaga jejaring. Sehingga kami bisa menjangkau mereka ketika kami memerlukan,” ujarnya.
Menurut Cheng, ketika CGTN menyiapkan liputan besar, seperti agenda Partai Komunis China (CPC) pada Maret, persiapan sudah dimulai sedikitnya dua bulan sebelumnya.
Selama proses itu, para jurnalis membangun jaringan, memperbarui basis data narasumber, mempelajari berbagai riset, hingga memetakan siapa sosok paling tepat untuk diwawancarai.
“Kami punya database tentang spesialisasi, riset, pengalaman media. Kami bukan lagi news reporter, tapi kami sudah menjadi news maker,” katanya.
Kalimat terakhir itu terus terngiang dalam perjalanan pulang saya pada hari terakhir magang. Di CGTN, saya melihat sudut pandang yang berbeda.
Liputan yang baik dimulai jauh sebelumnya, ketika jurnalis membangun jejaring, memperkaya pengetahuan, membaca riset, dan menyiapkan cerita dengan sangat matang.
Seminggu memang terlalu singkat untuk memahami seluruh sistem kerja media internasional sebesar CGTN. Namun, waktu yang singkat itu cukup untuk membawa pulang satu pelajaran penting.
Jurnalisme yang berkualitas bukan lahir dari kecepatan semata, melainkan dari keseriusan mempersiapkan setiap cerita, bahkan jauh sebelum jurnalis terjun ke lapangan dan kamera mulai merekam.***
Sumber : Radar Badung