Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (58)

Eka Prasetya • Jumat, 17 Juli 2026 | 10:42 WIB
Suasana forum dialog para akademisi yang diproduksi oleh CGTN.(Foto Eka Prasetya) 
Suasana forum dialog para akademisi yang diproduksi oleh CGTN.(Foto Eka Prasetya) 

Yangtze, Yellow River, dan Pelajaran tentang Peradaban di Tepi Sungai

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 pagi ketika suasana di ballroom Beijing Continental Grand Hotel mulai berubah. Lampu sorot dinyalakan.

Kamera-kamera diarahkan ke panggung. Kru sibuk melakukan pengecekan audio, sementara para akademisi dari berbagai negara bergantian menempati kursi narasumber.

Bagi sebagian orang, itu hanyalah proses produksi sebuah program televisi. Namun, bagi saya yang menjadi salah satu jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC), Minggu (12/7), momen tersebut terasa seperti menyaksikan lahirnya sebuah ruang dialog lintas peradaban.

Program bertajuk "Common Ground: Where Civilization Meet" yang diproduksi China Global Television Network (CGTN) itu memang tidak sekadar mempertemukan para pakar.

Ia mempertemukan cara pandang, pengalaman sejarah, hingga ingatan dari berbagai belahan dunia.

Di atas panggung hadir sejumlah akademisi dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari Prof. Xu Baofeng, Dean of the College of Sinology and Chinese Studies Beijing Language and Culture University; Prof. Daniel Alan Fried, Chair of the Department of East Asian Studies University of Alberta, Kanada; Prof. Huang Yue dari Beijing University of Posts and Telecommunications; penerjemah dan sinolog asal Irak Abbas Jawad Kdaimy.

Kemudian ada Joseph Oliver Mendo'o, Head of the African Youth Delegation to China; pakar hubungan Tiongkok-Brasil, Marcus de Freitas; hingga Hector Villagran Cepeda, foreign expert di Beijing Language and Culture University.

Masing-masing berbicara dari perspektif keilmuan yang berbeda.

Namun, benang merahnya sama, yakni bagaimana peradaban tumbuh, saling bertemu, dan terus berdialog di tengah dunia yang semakin terhubung.

Di antara seluruh paparan, ada satu sesi yang paling membekas dalam ingatan saya.

Marcus de Freitas, akademisi asal Brasil yang telah lama mengkaji Tiongkok, membuka presentasinya bukan dengan data ekonomi atau grafik pertumbuhan.

Ia justru mengajak audiens berbicara tentang sungai.

Sebagai orang Brasil, katanya, ia tumbuh dengan penghormatan yang begitu besar kepada Sungai Amazon. Bagi masyarakat Brasil, Amazon bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari identitas bangsa.

Namun, ketika tinggal di Tiongkok, Marcus justru menemukan pelajaran terbesar bukan di kota-kota modern ataupun kawasan industri.

Pelajaran itu datang dari dua sungai yang menjadi urat nadi negeri tersebut Sungai Yangtze (Yangtze River) dan Sungai Kuning (Yellow River).

Perjalanannya ke Chongqing memperlihatkan wajah Tiongkok masa kini.

Dari tepian Yangtze, ia menyaksikan kapal-kapal hilir mudik menuju salah satu pusat ekonomi paling dinamis di dunia.

Sungai itu, menurutnya, berbicara tentang kemajuan, inovasi, dan kemakmuran.

Dua pekan kemudian, ia berada di Lanzhou.

Di sana mengalir Sungai Kuning, sungai yang selama ribuan tahun dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban Tiongkok.

Namun, sungai itu juga menyimpan ironi. Berkali-kali meluap, mengubah aliran, menghancurkan permukiman, dan merenggut begitu banyak nyawa sehingga dijuluki "China's Sorrow".

"Dari sanalah saya memahami Tiongkok. Yangtze menjelaskan kesuksesan Tiongkok hari ini, sementara Sungai Kuning menjelaskan bagaimana kesuksesan itu dibangun," tuturnya.

Marcus berpendapat bahwa modernisasi Tiongkok tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang peradabannya.

Reformasi ekonomi memang menjadi titik balik, tetapi keberhasilannya bertumpu pada budaya berpikir jangka panjang, kemampuan bekerja secara bersama-sama, serta tradisi membangun untuk generasi yang akan datang.

Paparan itu membawa pikiran saya melintasi ribuan kilometer, kembali ke Bali.

Saya teringat Tukad Pakerisan di Tampaksiring, Gianyar. Di bantaran sungai itulah berdiri Situs Gunung Kawi, kompleks candi padas yang dibangun pada masa Kerajaan Bali Kuno di bawah pemerintahan Raja Udayana dari Dinasti Warmadewa.

Seperti Sungai Kuning bagi Tiongkok, Tukad Pakerisan bukan hanya mengalirkan air.

Sungai itu juga mengalirkan sejarah. Ia menjadi saksi bagaimana pusat-pusat permukiman, sistem pertanian, kehidupan spiritual, hingga pemerintahan berkembang di sekitarnya. Peradaban Bali kuno pun lahir dari kedekatannya dengan sungai.

Kesadaran itu membuat saya melihat presentasi Marcus dari sudut yang berbeda.

Ternyata, hampir setiap peradaban besar di dunia memiliki "sungai"-nya sendiri.

Ada yang benar-benar berupa aliran air, ada pula yang berupa ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di penghujung paparannya, Marcus menyampaikan bahwa dialog antarperadaban semestinya tidak dimulai dari pertanyaan siapa yang lebih maju atau siapa yang lebih benar.

Sebaliknya, dialog harus diawali dengan keinginan memahami pengalaman sejarah masing-masing bangsa.

"Setiap peradaban memiliki sungainya sendiri. Yang penting bukan membandingkannya, tetapi memahami bagaimana sungai itu membentuk cara berpikir masyarakat yang hidup di sekitarnya," pesannya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china sejarah